Jejak Pewarisan Takhta Kesultanan Ternate

Dimuat di Harian Malut Post ~ Kolom OPINI, Edisi Cetak; Sabtu, 25 April 2015.

Oleh : Busranto Latif Doa
(Pemerhati Adat, Budaya dan Sejarah Ternate)

Sultan van Ternate

Sultan-Sultan Ternate

Sejarah adalah guru (historia magistra vitae), begitulah kata pepatah. Fakta sejarah masa lampau adalah referensi bagi kita yang hidup saat ini, adalah pengertian dari teori “dimensi sejarah” dalam disiplin ilmu sejarah (historiografi). Dalil pembenaran pada teori ini mengemukakan bahwa; peristiwa yang terjadi masa lalu menjadi sejarah pada hari ini, lalu kejadian pada masa kini dikemudian hari akan menjadi sejarah, dan peristiwa pada masa yang akan datang akan menjadi sejarah bagi generasi sesudahnya (Louis Gottschalk, 1975). Teori ini mengajari kita bahwa dengan mengerti dan mengetahui masa lampau, kita dapat memahami keadaan pada masa kini, dan dengan memahami keadaan yang terjadi saat ini kita akan lebih bijak untuk menata masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan teori di atas, bila dikaitkan dengan sejarah panjang kesultanan Ternate khususnya dalam masa transisi pergantian sultan atau era kekosongan sultan (interregnum) yang dalam bahasa Ternate disebut; kolano masoa, maka fakta sejarah itu dapat dijadikan acuan karena menggambarkan alur transisi pergantian sultan yang satu kepada sultan berikutnya. Berikut ini, penulis menguraikan jejak pewarisan takhta di kesultanan Ternate khususnya mulai dari Sultan Mudzaffar Syah I (ke-26) hingga Sultan Haji Mudaffar Syah II (ke-48) yang diolah dari berbagai sumber.

Baca lebih lanjut

Jarita : Nyao Kobo se Namo Toho

~ Kisah : Ikan Duyung dan Burung Gagak ~

Narasi & Terjemahan Oleh : Busranto Latif Doa
Jarita : adalah “Berkisah, Salah Satu Bentuk Sastera Lisan di Ternate
=====================================================================
~ Jarita Asal-Usul TOBOKO Maronga ~

Toma zaman madero, sema fuheka-balo amoi mironga SABARIA. Mina mo’ahu se mangofa ngamdi, amoi fuheka mironga KOMONYO se amoi nunau uronga KALABADI. Mingofa ngomdi enage ana iise demo uwa se ipahe se tingkai foloi. Ana ihodu makurio ana nga yaya gulaha gura dia toma raki. Ana nga munara duga tuniru bato. (1)

Toma oras ana isoha, ana ikudiho oho toma fala. Mara ana iwaje ana nga yaya gulaha mangogu saki uwa. Ana ingamo se isijako piga sigado waho toma kaha manyeku. Ana nga yaya duga ari bato hida ngofa ngamdi gena nga kalakuang. (2)

Baca lebih lanjut

Sejarah : Ake Santosa (Air Sentosa) di Ternate

~ RIWAYAT SEBUAH MATA AIR YANG DIBUAT SEBAGAI PERTANDA JANJI DAN SUMPAH (BOBETO) ANTARA RAJA BONE KAICIL TALI SOMBA DENGAN SULTAN MANDARSYAH ~

Penulis : Busranto Latif Doa
(Pemerhati Sejarah, budaya dan Tradisi Ternate)

Satu per satu sejarah Ternate mulai terungkap. Salah satu yang saya ungkap saat ini adalah tentang sejarah “Ake Santosa” atau air santosa, sebuah mata air yang berlokasi di depan kedaton kesultanan Ternate saat ini. Banyak cerita mitos seputar asal-usul terjadinya atau munculnya air santosa ini, banyak versi yang berkembang di masyarakat Ternate, namun saya mencoba mengungkapkan salah satu sumber lokal yang mungkin belum banyak orang tahu, yakni bersumber dari “Hikayat Ternate” yang ditulis oleh NAIDAH, salah satu Jo-Hukum Soa Sio kesultanan Ternate yang menjabat dari tahun 1859-1864. Hikayat ternate ini sudah mendunia bahkan arsipnya juga ada hingga di beberapa perpustakan Eropa.

Baca lebih lanjut

~ Cleopatra Van Ternate ~

~ SEBUAH REFLEKSI TENTANG KISAH BOKI NUKILA, WANITA PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH TERNATE DI ABAD KE-16 ~

Penulis : Busranto Latif Doa

Dalam sejarah kepemimpinan setiap komunitas di manapun, wanita atau perempuan pastilah turut mewarnai lembaran sejarahnya, entah itu secara langsung atau tidak. Keterlibatan wanita secara perorangan kadang merupakan modal untuk tujuan politis tertentu, dan hal ini telah berlangsung sejak jaman baheula, bahkan hingga di jaman modern seperti sekarang inipun wanita kadang menjadi subjek sekaligus obyek untuk menjalankan misi spionase untuk tujuan tertentu. Wanita kadangkala dianggap sebagai second mind dalam kehidupan, namun ia akan sangat berarti apabila ikut berperan dan benar-benar difungsikan sesuai tujuan-tujuan “terselubung” itu. Maka tidak heran sejak lama telah lahir sebuah analogi tentang wanita sebagai salah satu “causa prima” dari kelanggengan atau keruntuhan sebuah rezim. Analogi itu yang kita kenal dengan istilah 3-TA (harta, wanita dan takhta).

Baca lebih lanjut

“Kapita Arab” dan “Kapita Cina” Dalam Sejarah Ternate

~ PERAN KAPTEN ARAB DAN KAPTEN CINA DALAM SEJARAH TERNATE ~

~ Narasi oleh : Busranto Latif Doa ~

Dipastikan bahwa istilah LETNAN ARAB atau setingkat lebih tinggi yakni KAPTEN ARAB dan juga KAPTEN CINA pernah ada di dalam sejarah Kesultanan Ternate (Maluku Utara). Istilah atau sebutan “KAPTEN” ini berasal dari akar kata bahasa Portugis yakni kata “Capitão”, dan atau dari bahasa Spanyol “Capitán”. Saat Belanda
datang ke Ternate, Habib Letnanistilah ini disesuaikan dengan bahasa mereka, yakni “Kapitein”. Lalu kemudian orang2 Maluku Utara pada jaman itu mengadopsi istilah jabatan orang Eropa ini dengan istilah “KAPITA” dan dimasukan ke dalam jabatan2 pada struktur kesultanan Ternate.

Baca lebih lanjut

Ritual “Kololi Kie” di Ternate

~ TRADISI RITUAL ADAT MENGELILINGI PULAU TERNATE SAMBIL ZIARAH BEBERAPA MAKAM KERAMAT ~

Penulis : Busranto Latif Doa
Foto : Maulana, Mukhsin & R. Fahmi

PENGANTAR

Setiap penduduk asli di pulau Ternate di Provinsi Maluku Utara pasti pernah mendengar dan tahu arti dari kata  “Kololi Kie” yaitu sebuah kegiatan ritual masyarakat tradisional untuk mengitari atau mengililingi gunung Gamalama sambil menziarahi beberapa makam keramat yang ada di sekeliling pulau kecil yg memiliki gunung berapi ini.

 

Menurut sejarawan  terkenal Leonard Andaya (dalam Reid, 1993: 28-29), bahwa ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh sebuah gunung berapi terkadang dapat melahirkan satu tradisi yang khas. Beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk di daerah Maluku Utara, gunung terutama gunung berapi aktif dianggap sebagai representasi penguasa alam.

Baca lebih lanjut

Sekilas Tentang Cakalele, Hasa, dan Salai Jin

MENGENALI JENIS-JENIS ROH GAIB DI TERNATE (WONGE, JIN, MEKI, CAKA, PUNTIANA, DAN MORO

Oleh : Busranto Latif Doa

Sejak masa terbentuknya masyarakat pertama di Ternate, Cakalele sudah menjadi tradisi masyarakat di kepulauan ini. Seperti halnya di tempat lain di kepulauan Maluku dan sekitarnya, “Cakalele” merupakan bentuk tradisi atau kebiasaan dalam masyarakat tradisional di daerah ini. Tradisi Cakalele sebenarnya bermula dari daerah Maluku Utara, yang kemudian meluas ke daerah-daerah pengaruh kerajaan hingga sampai ke daerah Maluku Tengah (Ambon & Seram), termasuk juga ke wilayah semenanjung Sulawesi bagian utara (di Minahasa juga ada tradisi Cakalele ini) dan juga di kawasan sepanjang pantai timur pulau Sulawesi. Mereka masih tetap menggunakan istilah Cakalele ini sebagaimana sebutan asal yang berasal dari kosa kata bahasa Ternate.

Atraksi 2

 

 

Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya