~ MAKNA “KOLANO MASOA” ~

Oleh : Busranto Latif Doa, S.Pd, MH.

Pemerhati Budaya & Pendiri Komunitas  MBBT (Mari Belajar Bahasa Ternate)

 

Setiap masyarakat adat atau kerajaan dimana pun, pastilah memiliki banyak sekali perbendaharaan kata berupa istilah khas di wilayah tersebut. Tidak terkecuali Ternate di Maluku Utara ini juga terdapat sejumlah istilah lokal, terutama terkait aspek adat-istiadat dan kesultanan. Hampir semua istilah lokal yang beragam tersebut sudah dikenal sejak dahulu. Namun ada pula diantaranya merupakan istilah baru yang masih terasa asing di telinga masyarakat Ternate ketika pertama kali istilah itu diperkenalkan ke publik.

Sesungguhnya sebutan kolano sudah dikenal sejak lama di negeri ini. Semua orang tahu bahwa kata kolano berarti sultan. Kata kolano kadang tidak berdiri sendiri sebagai kata tunggal yang memiliki arti khusus. Akan tetapi sering juga dijumpai dalam beberapa frasa majemuk, yang mana terdapat kata lain yang menyertainya sehingga pemaknaannya mengalami perubahan arti, misalnya; kolano-ngofangare yang kemudian berubah ucap menjadi kalfangare, juga frasa ngofa-kolano yang berarti; keturunan sultan, dan bangsa kolano yang berarti; kaum bangsawan, dll.

Sejarah Ternate moderen mencatat bahwa sejak 11 September 2013, lahirlah sebuah istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu istilah; “Kolano Madoru” yang dipahami sebagai calon kolano pengganti. Kemudian beberapa waktu lalu pada 4 September 2016, publik diperkenalkan pula istilah; “Kolano Masoa” yang dipahami pula sebagai sultan pengganti.

Berbeda dengan sebutan kolano madoru yang merupakan sebuah istilah baru, sebenarnya kolano masoa bukanlah istilah baru, karena orang dahulu sudah menggunakannya, namun lambat laun istilah ini tenggelam dalam pengetahuan masyarakat, bahkan boleh jadi generasi Ternate yang lahir setelah tahun 1900-an, tak pernah lagi mengenal sebutan ini.

Istilah kolano masoa ini kemudian diperkenalkan kembali ke publik oleh penulis pada awal tahun 2015 lalu dalam sebuah artikel di rubrik Opini pada harian Malut Post edisi hari Sabtu 25 April 2015. Klaim ini beralasan, karena sebelum moment itu, hampir tak ada satu pihak pun yang mengangkat istilah ini sebagai term dalam perbendaharaan istilah terkait kesultanan di MKR, bahkan mungkin masih terasa asing di telinga para pembaca tulisan tersebut saat itu.

Secara etimologis, istilah ‘kolano masoa’ adalah sebuah frasa yang terbentuk dari 2 kata lokal. Frasa adalah gabungan atau kesatuan kata yang terbentuk dari dua kelompok kata atau lebih yang memiliki satu makna gramatikal, yakni makna yang berubah-ubah menyesuaikan dengan konteks. Singkatnya frasa adalah gabungan dari dua kata atau lebih namun tidak dapat membentuk kalimat sempurna karena tidak memiliki predikat, namun memiliki arti tersendiri.

Kata ‘masoa’ sendiri bukanlah kata dasar murni, tapi berasal dari akar kata dasar ‘soa’ yang mendapat prefiks ma– yang bermakna kepunyaan. Soa dalam hal ini adalah penamaan terhadap suatu kelompok masyarakat tertua berdasarkan genealogis yang pernah eksis dalam struktur masyarakat adat Ternate. Soa merupakan pembeda (batas) antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Pengertian ‘kolano masoa’ yang sebenarnya tidak ditujukan pada sebuah subjek orang, yang bermakna sebagai nama jabatan/kedudukannya. Istilah ini adalah sebuah frasa penyebutan terhadap; nama masa, nama era atau nama waktu tertentu, yakni masa ketiadaan sultan, yang mana sultan terdahulu telah wafat sementara sultan yang baru (definitif) belum ada. Waktu antara inilah yang disebut; ‘kolano masoa’. Frasa yang terdiri dari dua kata majemuk ini bukanlah bentuk kata ganti orang  ketiga tunggal (pronomina persona) walaupun terdapat kata kolano dalam frasa tersebut, namun pengertiannya bukanlah subyek pronomina persona. Tulisan ini ingin meluruskan pengertian atau makna kolano masoa secara sesungguhnya, agar masyarakat tidak keliru dalam memahami istilah ini.

Contoh serupa dalam pemahaman tata bahasa Ternate, misalnya frasa; fala masoa. Kata fala (rumah) adalah kata benda kongkrit, dan masoa (di antara) merupakan abstraksi dari kondisi ketiadaan apa-apa di antara fala yang satu dengan fala di sebelahnya. Walaupun dalam frasa itu ada kata fala yang disebutkan, tapi fala masoa bukanlah sebuah fala yang sesungguhnya. Ia adalah sesuatu yang kosong diantara dua fala. Sering kita dengar orang Ternate menggunakan sindiran terhadap sebuah informasi hoax/cerita omong kosong  dengan menggunakan frasa; carita fala masoa. Jika frame kajian linguistik seperti ini kita terapkan pada frasa; kolano masoa, maka pengertian kolano masoa adalah suatu kondisi waktu yang menggambarkan kekosongan sultan definitif, bukanlah sebuah gelar.

Seseorang yang mengisi waktu antara ini disebut dengan ‘wali sultan’ atau ‘wali negeri’. Kata wali sendiri dari segi bahasa berasal dari kata ‘awliya’ adalah bentuk jamak dari ‘waliyun’ sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 257, dan Al-Maidah ayat 51, pada ke dua ayat ini kata awliya berarti pemimpin. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa seorang pemimpin yang mengisi masa kolano masoa ini lebih tepat disebut ‘wali sultan’ atau ‘wali negeri’.

Beberapa penulis barat juga menggunakan sinonimnya yakni istilah ‘interregnum’ untuk menyebut era atau masa kekosongan sultan seperti yang pernah terjadi di Ternate ini. Interregnum adalah suatu masa tanpa pemimpin yang definitif diantara satu pemerintahan sebelum dan pemerintahan berikutnya. Dengan demikian interregnum adalah jeda waku dalam suatu pemerintahan.

Dahulu, kesultanan Ternate pernah mengalami beberapa kali masa kolano masoa ini. Sebut saja sejak awal abad ke-19 hal itu pernah terjadi selama 6 bulan antara sultan Muhammad Zain dan sultan Muhammad Arsad. Kemudian selama 2,5 tahun antara sultan Ayanhar dan sultan Muhamad Ilham. Lalu selama 5 bulan antara sultan Muhamad Ilham dan sultan Haji Muhammad Usman. Dan yang paling lama adalah 11 tahun (1975-1986) antara wafatnya sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah hingga penobatan sultan Haji Mudaffar Syah II pada 29 Nopember 1986.

Penggunaan istilah ‘kolano masoa’ sebagai gelar yang maknanya ditujukan sebagai nama jabatan/gelar untuk orang seperti yang terjadi saat ini adalah miskin rujukan, bahkan cenderung a-historis dalam pemaknaannya karena minim kajian. Bukan soal figur yang jadi obyek otokritik yang disampaikan dalam tulisan ini, tapi lebih pada soal makna dari pengertian frasa klasik yang telah digunakan.

Kajian ini menjadi penting bila dikaitkan dengan ‘Hukum Dodego’ yang salah satu implementasi nyatanya adalah pengaturan tata cara urutan duduk dalam acara adat (Dodego Seguba) yang masih dipertahankan oleh masyarakat adat hingga saat ini. Banyak pula pertanyaan yang timbul dari penggunaan istilah kolano masoa ini bila dikaitkan dengan hukum dodego.

Penulis menyadari tantangan dan tanggungjawab Bobato dan masyarakat adat sekarang ini bukan perkara gampang, ditengah ketidak kepedulian kita atas kerapuhan nilai-nilai kearifan lokal, yang merupakan citra masyarakat adat. Itu pula yang mendorong penulis untuk belajar dan terus mengkaji serta berupaya ikut melestarikan adat se atorang, apalagi selaku anak adat memiliki kewajiban moral dan tanggungjawab sosial terhadap tradisinya yang tak lain adalah jati diri kita sendiri. Dengan kata lain, otokritik yang dilakukan penulis ini diniatkan untuk perbaikan demi kemaslahatan bersama.

Sebagai orang yang telah memperkenalkan istilah ‘Kolano Masoa’ ini ke publik, penulis merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk meluruskannya. Oleh karena itu, penulis mengajak semua pihak senantiasa melaksanakan amanah dengan mempertahankan negeri ini tetaplah menjadi negeri beradat hingga akhir zaman. Dan pada hakekatnya adat ini adalah milik kita semua termasuk semua balakusu se kano-kano. Mereka adalah individu-individu yang ikhlas maco’ou kaha, kie se kolano tanpa pamrih, maka perlu dijaga jangan sampai jiwa-jiwa yang penuh keikhlasan ini kemudian berhenti bernafas dan apatis di atas tanah dodomi sendiri. Tanpa bala kusu se kano-kano tak akan berarti apa-apa kesultanan ini.

Akhir kata; …kalo ngone uwa nage ana adi, kalo wange nena uwa wange rao adi. Para pendahulu telah mengingatkan hal ini kepada generasi sesudahnya, melalui syair Dolabolo; “Tike waro matiyahi sikara sidiyahi, jolo fosidiyahi maruwa afa mara fotiyahi uwa toma maku sidiyahi madaha”. Wallahu a’lam bissawab.  (BLD/08/02/17)

 -o0o-

@… Tulisan ini dimuat di Harian MALUT POST, Edisi Hari ini, Senin, 13 Februari 2017

malut-post

Iklan

Titah Sultan Ternate ke-42: Sultan Muhammad Zain (1824~1859)

Oleh : Busranto Latif Doa

Sultan Muhammad Zain adalah putra kedua dari Sultan Ternate ke-40; Sultan Muhammad Yasin. Sebelum dinobatkan menjadi sultan Ternate ke-42, ia bergelar Kaicil Putra Muhammad Zein. Ia dinobatkan pada bulan puasa tepat pada hari Rabu 6 Ramadhan 1239 Hijriah (5 Mei 1824) dan bertakhta selama kurang lebih 35 tahun 6 bulan sejak dinobatkan. Ia bergelar : as-Sultan Taj ul-Mulki Amir ud-din Iskandar Kaulaini Syah. Sultan Ternate ini wafat pada hari Ahad 24 Rabbiul Akhir 1276 Hijriah (20 November 1859), kemudian yang menggantikanya adalah putranya yang kemudian dikenal dengan nama; Sultan Muhammad Arsad (Azad).

Di masa kepemimpinannya, Sultan Muhammad Zain pernah mengeluarkan titah raja (istilah Ternate; Jaibn Kolano) terkait beberapa tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat yang dinilai tidak sesuai dengan syariat Islam. Namun sebelum mengeluarkan Jaib Kolano, ia mengundang seluruh jajaraen kesultanan dan pihak terkait lainnya untuk hadir dalam musyawarah adat kemudian hasilnya diputuskan oleh sang Sultan.

Fragmen sejarah penting ini diabadikan dalam sebuah catatan sebagai arsip kerajaan oleh Sekretaris Besar kesultanan Ternate (sebutannya; Juru Tulis Lamo atau Tulilamo) yang saat itu dijabat oleh; Haji Abdul Habib.

Dibawah ini adalah catatan yang ditulis oleh Tulilamo Haji Abdul Habib :

Hamana 1

Hamana 1

Halaman 2

==========================================================

Dokumen yang ditulis menggunakan Bahasa Ternate namun beraksara Arab gundul. Bacaan Tekstual dalam bahasa Ternate adalah sebagai berikut :

Madero toma hijratun Nabi — Salla’llahu ‘alayihi wasallam — Nyonyohi pariama calamoi-se-raturomodidi-se-nyagirara-se-rimoi, tahun Ba, ma ara Syawal ifane-futu nyagimoi-se-tomodi, wange Ahad, simara Jo’ou Kausamasaha silahir idin lomu ronga se bobato Soa-sio se Sangaji se Heku se Cim, sarta jou lebe, kali se imam se hatibi se ngofa-kolano se ngofangare fihak ra’ange. Toma oras cako sio mamoi-moi hadir toma ngaralamo, simara sudo kokaro ana fere toma kadato, tego toma foris dokasaa biasa. Pasa simara Jo’ou Kausamasaha silahir idin, mademo doka nena :

Ngori Kolano tolomu ngoni ronga se bobato se kali, imam se hatibi, basarta ngofa-kolano se bangsa-kolano se ngofangare fihak raange mamoi-moi toma waktu enane, ge mangale gam enane ma galib se likudi. Madero se ngori Kolano ri guru se haji rete-rete nan-nan se ngon nia himo-himo ronga se bobato ma-sosira i gulaha adat se atorang; rai pasamaruwa toma limau Foramadiahi sigado toma limaue Malayu dadi ka adat se kabasaran toma gogahu sigodiho, ge rimoi-rimoi se mabati so toma hal gogahu ge pake dokasaa biasa bato; mara toma godiho ge, kage manyika larang toma hukum syaraa toma kitab Allah madaha, sudo-uwa. Sarta catu idin ginado se ngon ronga se bobato: laha pake dokasaa biasa bato atau laha fopili kasaa se larangan saraa fohoi ena“.

Toma enage gogugu majoru perang Gamsungi se hukum Soasio se hukum Sangaji, kapita perang se bobato Soa-sio se Sangadji Heku se Cim mamoimoi itede nga suba, se mademo doka nena : “Jo’ou Kausamasaha ma djaiz (jaib) ma gunaga dokasaa ge ngofa-ngare ngomi mita’adim (ta’lim) ena, mote ma gunage dokage; coba aku ge adat se kabasaran kasaa se larangan saraa fopake riafa“. —

Pasa, idin ginado se jou lebe simara jou kali bangsa Ilham se imam se hatib itede nga suba se haka idi : “Adat se kabasaran dadi ka larangan syara’a enage, madero toma zaman djahiliah moju; toma kitab Allah madaha sudo uwa; coba pake bato, dokasaa barhala dadi ka haram ma dosa talalu lamo“. —

Rai, idin ginado se ronga se bobato, ana lebeh itede suba se iwaje : “Enage maruwa, ge dokasaa ngon“. —

Simara mayoru-perang se ronga se bobato tersebut mamoi-moi itede nga suba se singongaje : “Adat se kabasaran rao-rao dadi ka larangan syaraa ge ngofangare milahi hoi ena; ge talalu rame nyingasuka se simore, karana idadi ka pahala sarta murah se gampang rimoi se ngofangare ngomi; mara adat se kabasaran rao-rao dadi kalarangan syaraa uwa, enage sikara fopake la idadi kalaha se jangu“. —

Syahadan toma enage Jo’ou Kausamasaha se ronga se bobato se lebe mamoi-moi terfakat, coba dadi kagudiho ge adat :

  • Perkara Rimoi: Ronga se bobato itede-suba-mulia se ma puji-puji, dokasaa toma gugahu adi, aku’uwa;
  • Perkara Romodidi: Ronga se bobato se ngofangare fihak raange nga kawin pake dau-dau-side, aku’riuwa; imote tagi kata mayit toma jere, mai aku’riuwa;
  • Perkara Raange: Kabasaran tolu-mesa se poro-poro magugasa fofoheka, aku’riuwa, malinkan sitiadi nonau;
  • Perkara Raha: Legu-legu ibanda toma kadato madaha se toma jere aku’riuwa;
  • Perkara Romotoha: Toropo rimoi se bobato ngamudii tagi koro Jou Kolano ma yaya se ma baba, yaane: kimalaha Marsaoli se bobai Marsaoli la ino, simara kimalaha Marsaoli osuba-mulia, bobai Marsaoli moari toma kadato se toma jere, aku’riuwa;
  • Perkara Rara: Palangki se bobane jara pake boraka, aku’riuwa; gasa ena mote tagi toma jere, mai aku’uwa;
  • Perkara Tomodii: Woto pasa simara golaha jongihi toma kadato madaha, aku’riuwa; mara legu-legu ibanda se tolu mesa se poro-poro, magugasa fofoheka, aku’uwa; maronga fofoheka mote tagi woto sone, aku’uwa; sigulaha sone-sone ma jongihi toma fala madaha, aku’riuwa.

Ge dadi pasamaruwa manyonyata Jo’ou ma nongoru kapita-laut Putera Abu Maha; I rai Jo’ou ma ngofa majoru Putera Ahmad; rai Jo’ou ma iyo kapita-laut Putera Muhammad Daud, ana ngaroekange ipulang ge pake ena ri’uwa.

So adat se kahasaran toma larangan syara’a, perkara rao-rao dokasaa tersebut toma lefo enane madaha, ge Jo’ou Kausamasaha se ronga bobato Soa-sio, se Sangaji, Heku se Cim basarta kali, imam se hatib iterputus pasamaruwa toma istana madaha aku’riuwa sakali-kali pake ma gunaga dokage, malainkan mote toma kitab Allah madaha; mara adat se kabasaran rao-rao dokasaa biasa ge pake dokage bato, hoi ena uwa, harus sipake, karana hukum syara’a toma kitab Allah madaha larang uwa.

Putusan fakat enane toma sempurna madaha, manyonyata Jo’ou Kausamasaha itanda cap maha-mulia toma awal al-satar, sarta ronga se bobato Soa-sio se Sangadji, Heku se Cim se jou lebe, kali, imam se hatib mamoi-moi igiha gia toma lefo enane ma’adu

Toma enage madu’uru i ngofa, ngori Kolano, se ronga se bobato misaraha putusan enane se ri baba tuan Residen Tarinate dari-nama-tuan-Gofornemen, sarta milahi putusan enane ma kuat adanja. (Yang bermusyawarah mufakat dan bertandatangan di bawah ini) :

  • Gogugu Majoru-Perang : Gamsungi, ri-gia  X;
  • Hukum Soa-sio : Abdul Rahman, ri-gia  X;
  • Hukum Sangaji/Kapita-Perang : Abang, ri-gia  X;
  • Sowohi Sangaji-Malayu-Konora : Abdul Boki, ri gia X;
  • Kimalaha Marsaoli : Abdul Mutalib, ri-gia  X;
  • Sangaji Limatahu : Abdullah, ri-gia  X;
  • Kimalaha Tomagola : Hodu, ri-gia  X;
  • Kimalaha Tomaito : Dian, ri-gia  X;
  • Sangaji Malayu Cim : Makdim,  ri-gia  X;
  • Kimalaha Payahe : Sadaha, ri-gia  X;
  • Sangaji Toboleu : Dai, ri-gia  X;
  • Ngofamanyira Ngofaudu : Matala, ri-gia  X;
  • Ngofamanyira Saki : Tabaru, ri-gia  X;
  • Ngofamanyira Siko : Koniri, ri-gia  X;
  • Ngofamanyira Togolobe : Bapo, ri -gia  X;
  • Ngofamanyira Toma’afo : Duri, ri-gia  X;
  • Ngofamanyira Gam Cim : Tahir, ri-gia  X;
  • Kali-Bangsa : Ilham, ri-gia  X;
  • Imam-Bangsa : Said, ri-gia  X;
  • Imam Jiko : Mahasur, ri-gia  X;
  • Imam Sangaji : Daim (Zaim), ri-gia  X;
  • Imam Moti : Sadek, ri-gia  X;
  • Khatib-Bangsa : Tosi, ri-gia  X;
  • Khatib-Bangsa : Ali, ri-gia  X;
  • Khatib Jiko : Abdul Gani, ri-gia  X;
  • Khatib Jawa : Abdul Hakim, ri-gia  X;
  • Imam Takome : Abdul Aman, ri-gia  X;
  • Khatib Sangaji : Ajahar, ri-gia  X;
  • Khatib Moti : Maksud, ri-gia  X;
  • Khatib Tarangara : Mahadum, ri-gia  X;
  • Khatib Mayau : Adja, ri-gia  X;
  • Khatib Mado : Abdul Samad, ri-gia  X;
  • Khatib Togalobe : Masir (Nasir), ri-gia  X;
  • Khatib Siko : Fakir, ri gia  X;

Tertanda : Imam-Jurutulis-Lamo (Sekretaris Kerajaan);  Haji Abdul Habib, ri-gia  X.

============================================================

#Catatan Penulis :

Inti dari Titah Sultan (Jaib Kolano) yang dikeluarkan oleh Sultan Muhammad Zein ini adalah bahwa ia selaku Ulil Amri di negeri Ternate, mengajak seluruh jajaran di pemerintahannya untuk hadir dalam musyawarah adat, baik dari unsur Bobato Dunia maupun dari unsur Bobato Akhirat. Hasilnya memutuskan bahwa terkait prosesi kematian masih terdapat beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan hukum Islam.

Oleh karena itu beberapa bagian dari adat kesultanan dalam upacara kematian raja atau sultan tersebut dihapuskan, diantaranya adalah 7 (tujuh) perkara :

(1)   Para tetua dan kepala adat tidak lagi dibenarkan melakukan penghormatan kepada orang yang telah meninggal seolah-olah ia masih hidup.

(2)   Para isteri tetua adat, para kepala adat dan ketiga tingkat Ngofangare jika melayat raja yang meninggal tidak lagi dibenarkan menggunakan busana duka yang tebuat dari daun pandan.

(3)   Pada setiap upacara kematian Sultan para perempuan tidak lagi dibenarkan menggunakan topi dan membawa piala emas dan hanya bisa dilakukan oleh para lelaki.

(4)   Tidak lagi dibenarkan menyanyikan lagu- lagu dalam istana dan makam.

(5)   Jika Sultan wafat tidak perlu lagi menjemput kedua orang tua raja atau sultan yang biasanya dilakukan oleh dua orang kepala adat dan memberitahukan kepada kepala marsaoly serta isteri- isterinya  guna memberikan penghormatan dengan cara menangisi jenazah Sultan baik di istana maupun di makam.

(6)   Tandu dan kuda yang dinaiki Sultan lengkap dengan busana duka tidak perlu lagi dibawa ke makam.

(7)   Setelah jenazah Sultan dimakamkan tidak lagi dibolehkan membuat tempat persemayam roh Sultan (Sone ma-Gunyihi) di dalam istana.

Jejak Pewarisan Takhta Kesultanan Ternate

Dimuat di Harian Malut Post ~ Kolom OPINI, Edisi Cetak; Sabtu, 25 April 2015.

Oleh : Busranto Latif Doa
(Pemerhati Adat, Budaya dan Sejarah Ternate)

Sultan van Ternate

Sultan-Sultan Ternate

Sejarah adalah guru (historia magistra vitae), begitulah kata pepatah. Fakta sejarah masa lampau adalah referensi bagi kita yang hidup saat ini, adalah pengertian dari teori “dimensi sejarah” dalam disiplin ilmu sejarah (historiografi). Dalil pembenaran pada teori ini mengemukakan bahwa; peristiwa yang terjadi masa lalu menjadi sejarah pada hari ini, lalu kejadian pada masa kini dikemudian hari akan menjadi sejarah, dan peristiwa pada masa yang akan datang akan menjadi sejarah bagi generasi sesudahnya (Louis Gottschalk, 1975). Teori ini mengajari kita bahwa dengan mengerti dan mengetahui masa lampau, kita dapat memahami keadaan pada masa kini, dan dengan memahami keadaan yang terjadi saat ini kita akan lebih bijak untuk menata masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan teori di atas, bila dikaitkan dengan sejarah panjang kesultanan Ternate khususnya dalam masa transisi pergantian sultan atau era kekosongan sultan (interregnum) yang dalam bahasa Ternate disebut; kolano masoa, maka fakta sejarah itu dapat dijadikan acuan karena menggambarkan alur transisi pergantian sultan yang satu kepada sultan berikutnya. Berikut ini, penulis menguraikan jejak pewarisan takhta di kesultanan Ternate khususnya mulai dari Sultan Mudzaffar Syah I (ke-26) hingga Sultan Haji Mudaffar Syah II (ke-48) yang diolah dari berbagai sumber.

Baca lebih lanjut

Jarita : Nyao Kobo se Namo Toho

~ Kisah : Ikan Duyung dan Burung Gagak ~

Narasi & Terjemahan Oleh : Busranto Latif Doa
Jarita : adalah “Berkisah, Salah Satu Bentuk Sastera Lisan di Ternate
=====================================================================
~ Jarita Asal-Usul TOBOKO Maronga ~

Toma zaman madero, sema fuheka-balo amoi mironga SABARIA. Mina mo’ahu se mangofa ngamdi, amoi fuheka mironga KOMONYO se amoi nunau uronga KALABADI. Mingofa ngomdi enage ana iise demo uwa se ipahe se tingkai foloi. Ana ihodu makurio ana nga yaya gulaha gura dia toma raki. Ana nga munara duga tuniru bato. (1)

Toma oras ana isoha, ana ikudiho oho toma fala. Mara ana iwaje ana nga yaya gulaha mangogu saki uwa. Ana ingamo se isijako piga sigado waho toma kaha manyeku. Ana nga yaya duga ari bato hida ngofa ngamdi gena nga kalakuang. (2)

Baca lebih lanjut

Sejarah : Ake Santosa (Air Sentosa) di Ternate

~ RIWAYAT SEBUAH MATA AIR YANG DIBUAT SEBAGAI PERTANDA JANJI DAN SUMPAH (BOBETO) ANTARA RAJA BONE KAICIL TALI SOMBA DENGAN SULTAN MANDARSYAH ~

Penulis : Busranto Latif Doa
(Pemerhati Sejarah, budaya dan Tradisi Ternate)

Satu per satu sejarah Ternate mulai terungkap. Salah satu yang saya ungkap saat ini adalah tentang sejarah “Ake Santosa” atau air santosa, sebuah mata air yang berlokasi di depan kedaton kesultanan Ternate saat ini. Banyak cerita mitos seputar asal-usul terjadinya atau munculnya air santosa ini, banyak versi yang berkembang di masyarakat Ternate, namun saya mencoba mengungkapkan salah satu sumber lokal yang mungkin belum banyak orang tahu, yakni bersumber dari “Hikayat Ternate” yang ditulis oleh NAIDAH, salah satu Jo-Hukum Soa Sio kesultanan Ternate yang menjabat dari tahun 1859-1864. Hikayat ternate ini sudah mendunia bahkan arsipnya juga ada hingga di beberapa perpustakan Eropa.

Baca lebih lanjut

~ Cleopatra Van Ternate ~

~ SEBUAH REFLEKSI TENTANG KISAH BOKI NUKILA, WANITA PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH TERNATE DI ABAD KE-16 ~

Penulis : Busranto Latif Doa

Dalam sejarah kepemimpinan setiap komunitas di manapun, wanita atau perempuan pastilah turut mewarnai lembaran sejarahnya, entah itu secara langsung atau tidak. Keterlibatan wanita secara perorangan kadang merupakan modal untuk tujuan politis tertentu, dan hal ini telah berlangsung sejak jaman baheula, bahkan hingga di jaman modern seperti sekarang inipun wanita kadang menjadi subjek sekaligus obyek untuk menjalankan misi spionase untuk tujuan tertentu. Wanita kadangkala dianggap sebagai second mind dalam kehidupan, namun ia akan sangat berarti apabila ikut berperan dan benar-benar difungsikan sesuai tujuan-tujuan “terselubung” itu. Maka tidak heran sejak lama telah lahir sebuah analogi tentang wanita sebagai salah satu “causa prima” dari kelanggengan atau keruntuhan sebuah rezim. Analogi itu yang kita kenal dengan istilah 3-TA (harta, wanita dan takhta).

Baca lebih lanjut

“Kapita Arab” dan “Kapita Cina” Dalam Sejarah Ternate

~ PERAN KAPTEN ARAB DAN KAPTEN CINA DALAM SEJARAH TERNATE ~

~ Narasi oleh : Busranto Latif Doa ~

Dipastikan bahwa istilah LETNAN ARAB atau setingkat lebih tinggi yakni KAPTEN ARAB dan juga KAPTEN CINA pernah ada di dalam sejarah Kesultanan Ternate (Maluku Utara). Istilah atau sebutan “KAPTEN” ini berasal dari akar kata bahasa Portugis yakni kata “Capitão”, dan atau dari bahasa Spanyol “Capitán”. Saat Belanda
datang ke Ternate, Habib Letnanistilah ini disesuaikan dengan bahasa mereka, yakni “Kapitein”. Lalu kemudian orang2 Maluku Utara pada jaman itu mengadopsi istilah jabatan orang Eropa ini dengan istilah “KAPITA” dan dimasukan ke dalam jabatan2 pada struktur kesultanan Ternate.

Baca lebih lanjut