~ MAKNA “KOLANO MASOA” ~

Oleh : Busranto Latif Doa, S.Pd, MH.

Pemerhati Budaya & Pendiri Komunitas  MBBT (Mari Belajar Bahasa Ternate)

 

Setiap masyarakat adat atau kerajaan dimana pun, pastilah memiliki banyak sekali perbendaharaan kata berupa istilah khas di wilayah tersebut. Tidak terkecuali Ternate di Maluku Utara ini juga terdapat sejumlah istilah lokal, terutama terkait aspek adat-istiadat dan kesultanan. Hampir semua istilah lokal yang beragam tersebut sudah dikenal sejak dahulu. Namun ada pula diantaranya merupakan istilah baru yang masih terasa asing di telinga masyarakat Ternate ketika pertama kali istilah itu diperkenalkan ke publik.

Sesungguhnya sebutan kolano sudah dikenal sejak lama di negeri ini. Semua orang tahu bahwa kata kolano berarti sultan. Kata kolano kadang tidak berdiri sendiri sebagai kata tunggal yang memiliki arti khusus. Akan tetapi sering juga dijumpai dalam beberapa frasa majemuk, yang mana terdapat kata lain yang menyertainya sehingga pemaknaannya mengalami perubahan arti, misalnya; kolano-ngofangare yang kemudian berubah ucap menjadi kalfangare, juga frasa ngofa-kolano yang berarti; keturunan sultan, dan bangsa kolano yang berarti; kaum bangsawan, dll.

Sejarah Ternate moderen mencatat bahwa sejak 11 September 2013, lahirlah sebuah istilah baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu istilah; “Kolano Madoru” yang dipahami sebagai calon kolano pengganti. Kemudian beberapa waktu lalu pada 4 September 2016, publik diperkenalkan pula istilah; “Kolano Masoa” yang dipahami pula sebagai sultan pengganti.

Berbeda dengan sebutan kolano madoru yang merupakan sebuah istilah baru, sebenarnya kolano masoa bukanlah istilah baru, karena orang dahulu sudah menggunakannya, namun lambat laun istilah ini tenggelam dalam pengetahuan masyarakat, bahkan boleh jadi generasi Ternate yang lahir setelah tahun 1900-an, tak pernah lagi mengenal sebutan ini.

Istilah kolano masoa ini kemudian diperkenalkan kembali ke publik oleh penulis pada awal tahun 2015 lalu dalam sebuah artikel di rubrik Opini pada harian Malut Post edisi hari Sabtu 25 April 2015. Klaim ini beralasan, karena sebelum moment itu, hampir tak ada satu pihak pun yang mengangkat istilah ini sebagai term dalam perbendaharaan istilah terkait kesultanan di MKR, bahkan mungkin masih terasa asing di telinga para pembaca tulisan tersebut saat itu.

Secara etimologis, istilah ‘kolano masoa’ adalah sebuah frasa yang terbentuk dari 2 kata lokal. Frasa adalah gabungan atau kesatuan kata yang terbentuk dari dua kelompok kata atau lebih yang memiliki satu makna gramatikal, yakni makna yang berubah-ubah menyesuaikan dengan konteks. Singkatnya frasa adalah gabungan dari dua kata atau lebih namun tidak dapat membentuk kalimat sempurna karena tidak memiliki predikat, namun memiliki arti tersendiri.

Kata ‘masoa’ sendiri bukanlah kata dasar murni, tapi berasal dari akar kata dasar ‘soa’ yang mendapat prefiks ma– yang bermakna kepunyaan. Soa dalam hal ini adalah penamaan terhadap suatu kelompok masyarakat tertua berdasarkan genealogis yang pernah eksis dalam struktur masyarakat adat Ternate. Soa merupakan pembeda (batas) antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Pengertian ‘kolano masoa’ yang sebenarnya tidak ditujukan pada sebuah subjek orang, yang bermakna sebagai nama jabatan/kedudukannya. Istilah ini adalah sebuah frasa penyebutan terhadap; nama masa, nama era atau nama waktu tertentu, yakni masa ketiadaan sultan, yang mana sultan terdahulu telah wafat sementara sultan yang baru (definitif) belum ada. Waktu antara inilah yang disebut; ‘kolano masoa’. Frasa yang terdiri dari dua kata majemuk ini bukanlah bentuk kata ganti orang  ketiga tunggal (pronomina persona) walaupun terdapat kata kolano dalam frasa tersebut, namun pengertiannya bukanlah subyek pronomina persona. Tulisan ini ingin meluruskan pengertian atau makna kolano masoa secara sesungguhnya, agar masyarakat tidak keliru dalam memahami istilah ini.

Contoh serupa dalam pemahaman tata bahasa Ternate, misalnya frasa; fala masoa. Kata fala (rumah) adalah kata benda kongkrit, dan masoa (di antara) merupakan abstraksi dari kondisi ketiadaan apa-apa di antara fala yang satu dengan fala di sebelahnya. Walaupun dalam frasa itu ada kata fala yang disebutkan, tapi fala masoa bukanlah sebuah fala yang sesungguhnya. Ia adalah sesuatu yang kosong diantara dua fala. Sering kita dengar orang Ternate menggunakan sindiran terhadap sebuah informasi hoax/cerita omong kosong  dengan menggunakan frasa; carita fala masoa. Jika frame kajian linguistik seperti ini kita terapkan pada frasa; kolano masoa, maka pengertian kolano masoa adalah suatu kondisi waktu yang menggambarkan kekosongan sultan definitif, bukanlah sebuah gelar.

Seseorang yang mengisi waktu antara ini disebut dengan ‘wali sultan’ atau ‘wali negeri’. Kata wali sendiri dari segi bahasa berasal dari kata ‘awliya’ adalah bentuk jamak dari ‘waliyun’ sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 257, dan Al-Maidah ayat 51, pada ke dua ayat ini kata awliya berarti pemimpin. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa seorang pemimpin yang mengisi masa kolano masoa ini lebih tepat disebut ‘wali sultan’ atau ‘wali negeri’.

Beberapa penulis barat juga menggunakan sinonimnya yakni istilah ‘interregnum’ untuk menyebut era atau masa kekosongan sultan seperti yang pernah terjadi di Ternate ini. Interregnum adalah suatu masa tanpa pemimpin yang definitif diantara satu pemerintahan sebelum dan pemerintahan berikutnya. Dengan demikian interregnum adalah jeda waku dalam suatu pemerintahan.

Dahulu, kesultanan Ternate pernah mengalami beberapa kali masa kolano masoa ini. Sebut saja sejak awal abad ke-19 hal itu pernah terjadi selama 6 bulan antara sultan Muhammad Zain dan sultan Muhammad Arsad. Kemudian selama 2,5 tahun antara sultan Ayanhar dan sultan Muhamad Ilham. Lalu selama 5 bulan antara sultan Muhamad Ilham dan sultan Haji Muhammad Usman. Dan yang paling lama adalah 11 tahun (1975-1986) antara wafatnya sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah hingga penobatan sultan Haji Mudaffar Syah II pada 29 Nopember 1986.

Penggunaan istilah ‘kolano masoa’ sebagai gelar yang maknanya ditujukan sebagai nama jabatan/gelar untuk orang seperti yang terjadi saat ini adalah miskin rujukan, bahkan cenderung a-historis dalam pemaknaannya karena minim kajian. Bukan soal figur yang jadi obyek otokritik yang disampaikan dalam tulisan ini, tapi lebih pada soal makna dari pengertian frasa klasik yang telah digunakan.

Kajian ini menjadi penting bila dikaitkan dengan ‘Hukum Dodego’ yang salah satu implementasi nyatanya adalah pengaturan tata cara urutan duduk dalam acara adat (Dodego Seguba) yang masih dipertahankan oleh masyarakat adat hingga saat ini. Banyak pula pertanyaan yang timbul dari penggunaan istilah kolano masoa ini bila dikaitkan dengan hukum dodego.

Penulis menyadari tantangan dan tanggungjawab Bobato dan masyarakat adat sekarang ini bukan perkara gampang, ditengah ketidak kepedulian kita atas kerapuhan nilai-nilai kearifan lokal, yang merupakan citra masyarakat adat. Itu pula yang mendorong penulis untuk belajar dan terus mengkaji serta berupaya ikut melestarikan adat se atorang, apalagi selaku anak adat memiliki kewajiban moral dan tanggungjawab sosial terhadap tradisinya yang tak lain adalah jati diri kita sendiri. Dengan kata lain, otokritik yang dilakukan penulis ini diniatkan untuk perbaikan demi kemaslahatan bersama.

Sebagai orang yang telah memperkenalkan istilah ‘Kolano Masoa’ ini ke publik, penulis merasa bertanggung jawab dan berkewajiban untuk meluruskannya. Oleh karena itu, penulis mengajak semua pihak senantiasa melaksanakan amanah dengan mempertahankan negeri ini tetaplah menjadi negeri beradat hingga akhir zaman. Dan pada hakekatnya adat ini adalah milik kita semua termasuk semua balakusu se kano-kano. Mereka adalah individu-individu yang ikhlas maco’ou kaha, kie se kolano tanpa pamrih, maka perlu dijaga jangan sampai jiwa-jiwa yang penuh keikhlasan ini kemudian berhenti bernafas dan apatis di atas tanah dodomi sendiri. Tanpa bala kusu se kano-kano tak akan berarti apa-apa kesultanan ini.

Akhir kata; …kalo ngone uwa nage ana adi, kalo wange nena uwa wange rao adi. Para pendahulu telah mengingatkan hal ini kepada generasi sesudahnya, melalui syair Dolabolo; “Tike waro matiyahi sikara sidiyahi, jolo fosidiyahi maruwa afa mara fotiyahi uwa toma maku sidiyahi madaha”. Wallahu a’lam bissawab.  (BLD/08/02/17)

 -o0o-

@… Tulisan ini dimuat di Harian MALUT POST, Edisi Hari ini, Senin, 13 Februari 2017

malut-post

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: