~ CLEOPATRA VAN TERNATE ~

(Sebuah refleksi tentang kisah Boki Nukila, wanita paling berpengaruh dalam sejarah Ternate di abad ke-16)

Penulis : Busranto Latif Doa

Dalam sejarah kepemimpinan setiap komunitas di manapun, wanita atau perempuan pastilah turut mewarnai lembaran sejarahnya, entah itu secara langsung atau tidak. Keterlibatan wanita secara perorangan kadang merupakan modal untuk tujuan politis tertentu, dan hal ini telah berlangsung sejak jaman baheula, bahkan hingga di jaman modern seperti sekarang inipun wanita kadang menjadi subjek sekaligus obyek untuk menjalankan misi spionase untuk tujuan tertentu. Wanita kadangkala dianggap sebagai second mind dalam kehidupan, namun ia akan sangat berarti apabila ikut berperan dan benar-benar difungsikan sesuai tujuan-tujuan “terselubung” itu. Maka tidak heran sejak lama telah lahir sebuah analogi tentang wanita sebagai salah satu “causa prima” dari kelanggengan atau keruntuhan sebuah rezim. Analogi itu yang kita kenal dengan istilah 3-TA (harta, wanita dan takhta).

Demikian pula dalam sejarah panjang perjalanan kerajaan Ternate di Maluku utara, juga terdapat peran beberapa wanita yang turut berpengaruh dan ikut mewarnai lembaran-lembaran sejarahnya. Tercatat beberapa wanita perkasa Ternate yang dikenang dalam sejarah Ternate, baik dalam kehidupan sosial, politik, maupun budaya. Salah satu diantaranya adalah seorang wanita yang bernama Boki Nukila atau juga dikenal dengan nama Nyai Cili Boki Raja. Ia adalah isteri atau permaisuri raja Ternate ke-20 ((Sultan Bayanullah). Ia tak lain adalah salah satu putri dari raja Tidore Al-Mansyur. Ia juga sebagai wanita pertama di Ternate yang ikut berperan bersama-sama dengan Jogugu Taruwesse menjadi “dwi tunggal” dalam memimpin kerajaan muslim terbesar di timur Nusantara tersebut. Ia pula yang oleh lembaran sejarah dianggap telah mempertontonkan sebuah konspirasi terselubung dalam menguasai atau merebut sebuah kekuasaan dengan cara yang kurang begitu lazim. Bahkan “mungkin” saat ini figurnya dijadikan ikon oleh wanita lain sesudahnya dalam menjalankan intrik politis demi tujuan tertentu yang dianggap “kurang begitu lazim” tersebut.

Dalam bidang kajian filsafat ilmu, pengulangan sejarah atau kemiripan kisah seperti ini dapat disebut sebagai; duplikasi sejarah (duplication of history). Pikiran dialektis-lah yang menyebabkan orang berpikir dengan polarisasi. Tentang pengulangan-pengulangan sejarah dari teori dialektika, maka para Filsuf mengemukakan beberapa teori lain dalam mendukung apa yang disebut duplikasi sejarah; (1) Teori Spiral, yaitu memang benar selalu terjadi pengulangan, (2) Teori Siklus, yang mana menegaskan bahwa sejarah terdiri dari empat putaran, yaitu musim semi sejarah, musim panas sejarah, musim gugur gugur, dan musim dingin sejarah.

Ulasan saya kali ini khusus menyoroti sosok wanita perkasa ini, yang memang jarang dibahas secara detail sehingga jarang diketahui oleh publik, melainkan legenda sosoknya hanya diperoleh dari cerita lisan dari mulut ke mulut secara turun temurun saja. Dalam mengkajian ulasan ini, saya menggunakan metodeologi ilmu sejarah sebagai landasan teorinya, sehingga argumentatif dalam membuat hipotesa pada tulisan ini dapat dipertanggung jawabkan secara akademis. Metode analisa data terhadap data-data sumber, baik sumber primer, sekunder maupun tersier yang telah dihimpun selama bertahun2 ini tentunya akan mewarnai hasil pemaparan ini. Dan jikalau ada pihak-pihak lain yang juga sedang dan akan melakukan kajian dan menyoroti obyek hal yang sama dari sudut pandang yang lain, maka hasil pemaparannya tentu akan “agak” berbeda pula, namun dapat dipastikan bahwa inti-sari dari objek dalam hasil kajian yang mereka lahirkan tentu tidaklah terlalu jauh berbeda, pada intinya sama. Dan aspek yang membedakan tentunya terletak pada gaya bahasa penulis dan cara menganalisanya. Namun demikian, pemaknaan terhadap ulasan dari siapapun, itu semua tergantung masing2 diri para pembaca yang menilainya dan menyimpulkannya, serta mungkin saja akan mengaitkan episode masa lampau ini dengan kekinian sejarah Ternate yang kita alami dan saksikan hingga hari ini. Jawaban dan kesimpulannya akhir tentu ada pada anda sendiri selaku konsumen dari tulisan ini.

@…Kita mulai ulasan ini dari era akhir abad ke-15 pada saat bertakhtanya raja Ternate ke-19 Sultan Zain Al-Abi Ud-Din (Zainal Abidin) yang juga dikenal dengan julukan Pangeran Bualawa, nama kecilnya adalah Kaicil Tidore Wangi karena neneknya berasal dari Seli Tidore. Ia bertakhta mulai dari tahun 1486 hingga wafat pada tahun 1500. Sultan Zainal Abidin meninggalkan 4 orang putra dan 2 orang putri dari hasil pernikahannya dengan 2 orang isteri (isteri pertama adalah putri dari Sultan Bacan dan isteri kedua seorang wanita dari klan Sao Marsaoli Ternate. Menurut sumber dari hasil penelitian seorang Genealogist barat yang bernama Christoper Buyers dalam website-nya; http://www.royalark.net/Indonesia/ternate2.html bahwa keenam anak Sultan Zainal Abidin tersebut masing-masing :
Kaicil Liliatu, yang kemudian dinobatkan menjadi raja ke-20 yang bergelar; Sultan Bayan Sirru’llah Abu Lais (Bayangu’llah) alias Sultan Bayanullah, (putra dari Boki Marsaoli).
Kaicil Kuliba. (menjadi Kapita Lao)
Kaicil Tarruwese alias Darowes. (menjadi Jogugu tahun 1521-1530, dan wafat dipenggal kepalanya oleh Portugis pada tanggal 31 Oktober 1529).
Kaicil Bayaco alias Baidua. (menjadi Hakim (Kadi), juga tewas dibunuh di benteng Portugis Ternate pada tahun 1529.
Boki Putri …… (tidak diketahui namanya), menikah dengan Sultan Jailolo.
Boki Jamanula, yang menikah dengan Sayakhu, cucu dari Sultan Tidore; Ismail.

Raja Ternate ke-20 Sultan Bayan Sirru’llah ‘Abu Lais (Bayangu’llah) alias Sultan Bayanullah bertakhta selama 22 tahun dari tahun 1500 – 1522. Pada saat Sultan Bayanullah tutup usia pada tahun 1522,ia meninggalkan meninggalkan janda permaisuri Boki Nukila alias Nyai Cili Boki Raja di dalamistana dengan dua putera yang masih di bawah umur, masing-masing Kaicil Deyalo dan Kaicil Boheyat (alias Bahiti atau Abu Hayat). Sultan Bayanullah menikah tiga kali. Isteri pertama tidak diketahui identitasnya (tidak tercatat), istri keduanya, seorang wanita dari Sao Marsaoli, sedangkan isteri ketiga yang mendampinginya hingga akhir hayat adalah permaisuri Boki Nukila.

Sebuah sumber menyebutkan bahwa Sultan Bayanullah wafat diracuni oleh rakyatnya sendiri, yang tidak senang melihatnya akrab dengan pemimpin pertama Portugis di Ternate; Francisco Serrao. Tetapi, menurut sumber lain, kematian Sultan Bayanullah karena diracuni pedagang-pedagang Muslim yang merasa sangat dirugikan oleh pemberian hak monopoli perdagangan rempah-rempah kepada Portugis.

Sultan Bayanullah menikah empat kali; isteri pertama tidak diketahui identitasnya (tidak tercatat) ia berasal dari wanita biasa bukan bangsawan, isteri kedua seorang wanita dari Soa Marsaoli. Lalu menikah (ketiga) dengan Nukila (Nyai Chili Boki Raja), adalah seorang putri dari Sultan Al-Mansyur dari Tidore. Menikah (keempat) dengan wanita biasa keturunan Jawa/Soa Jawa. Sultan Bayanullah memiliki keturunan antara lain :
Kaicil Dukolamo. (putra dari isteri pertama)
Kaicil Debrisi. (putra dari isteri pertama)
Kaicil Kota Raja. (putra dari isteri pertama)
Kaicil Moli Malafi. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Paji Tiana. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Waiyahika. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Raja-ma-Bunga. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Sambuangan. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Bima. (putra dari wanita Soa Marsaoli)
Kaicil Dayalu, yang kemudian dinobatkan menjadi raja ke-21 dengan gelar Sultan Dayalu Ibni al Marhum Sultan-Bayan Sirru’llah ‘Abu Lais, (putra dari Boki Nukila).
Kaicil Boheyat / Bahiti, yang kemudian dinobatkan menjadi raja ke-22, (putra dari Boki Nukila).
Kaicil Tabariji, yang kemudian dinobatkan menjadi raja ke-23, (putra dari istri junior).
Kaicil Haiyur alias Khairun-Jamil, yang kemudian dinobatkan menjadi raja ke-23, (putra dari wanita biasa keturunan Jawa/ Soa Jawa).
Boki Putri Randan Gagalu. menikah Sultan Bacan, Sultan Zainal Abidin II, Sultan Bacan, anak sulung dari Sultan Bacan Muhammad Bakar.
Boki Putri …… menikah (Pertama) yang Sangaji dari Moti. menikah (Kedua) Baltasar Veloso seorang Portugis.
Kaicil Kalona Gapi (putra dari Boki Nukila dengan Pati Sarangi) – anak tiri Sultan Bayanullah .

Boki Nukila beranggapan bahwa karena putera sulung Bayanullah yang terlahir dari rahimnya masih di bawah umur, maka otomatis dianggap sebagai calon penerus takhta kerajaan. Padahal dalam tradisi Ternate tidaklah demikian. System yang dianut kerajaan Ternate bukanlah “monarchi absolute” yang mana anak tertua dari permaisuri berhak menjadi putra mahkota. Tidak ada istilah putra mahkota dalam kamus tradisi Ternate. Pewarisan takhta tidak mutlak berdasarkan keturunan langsung (anak kandiung) saja, melainkan bisa bergesar pada keluarga dekat yang masih satu trah langsung dari raja sebelumnya, atau sebelumnya lagi (masih satu kakek). Bisa jadi takhta bergeser ke kakak/adik kandung atau sepupu dari raja sebelumnya. Dengan anggapan seperti itu Boki Nukila yang merupakan janda pendamping Sultan Bayanullah hingga jelang akhir hayatnya, memposisikan diri sebagai “second people” di negeri Gapi (Ternate). Ia berhasil membuat opini bahwa pemerintahan kerajaan yang kosong ini sementara harus dijalankan oleh Boki Nukila sebagai wali dari dua putra yang dianggapnya sebagai calon penerus takhta. Padahal anggapan terhadap posisi seperti itu sesungguhnya keliru menurut adat istiadat setempat.

Dalam struktur pemerintahan tradisional, terdapat sebuah lembaga legislatif yang disebut Bobato Nyagimoi se Tufkange (Dewean 18) yang merupakan pengejawantahan dari empat pilar negeri (Soasio, Sangaji, Heku dan Cim). Pada bidang eksekutif terdapat perangkat pemerintahan yang mana seorang Jogugu (tuan pemegang) semacam wakil sultan adalah pelaksana eksekutif tertinggi di bawah raja. Mitra kerja Jogugu dalam bidang eksekutif terdiri dari; Kapita Lao (panglima perang), Jo Hukum Soasio (untuk pusat kerajaan), Jo Hukum Sangaji (untuk wilayah seberang dan pulau2), dan Tuli Lamo (sekretaris kerajaan), beserta perangkat jajaran di bawahnya. Dengan sistem manejemen tata kelola pemerintahan tradisional seperti ini, maka bila ketiadaan raja karena mangkat (wafat), secara otomatis pula sang Jogugu-lah yang berwewenang menjalankan roda pemerintahan menungu sampai terpilihnya raja pengganti. Selain juga terdapat satu lebaga khusus yang membidangi masalah keagamaan. Saat Sultan Zainal Abidin bertakhta (1486-1500), ia telah mereformasi struktur kerajaan dengan membuat pemisahan antara urusan pemerintahan (Bobato Dunia) dengan urusan keagamaan dan ritual (Bobato Akhirat).

Ketika Sultan Bayanullah bertakhta (1500-1522), ia menunjuk adik ketiganya Kaicil Taruwesse (ipar Boki Nukila) sebagai Jogugu pada tahun 1521 atau satu tahun sebelum wafat, sedangkan adik keduanya Kaicil Kuliba sebagai Panglima Perang dan adik keempat Kaicil Baidua sebagai Hakim Agung (Jo Hukum) untuk menjalankan roda pemerintahan di kerajaan Ternate. Taruwese adalah orang kuat kerajaan ketika itu. Ia yang sangat ambisius ingin menggantikan posisi kakaknya sebagai pewaris takhta. Ia adalah paman dari Kaicil Deyalo dan Kaicil Boheyat (Abu Hayat) anak kandung Sultan Bayanullah dengan Boki Nukila yang masih kecil. Kaicil Taruwese adalah anak ketiga dari raja ke-19; Sultan Zainal Abidin.

Dengan sudah terjalinnya awal hubungan perdagangan antara Ternate dan Portugis yang dibuka kran-nya oleh mediang Sultan Bayanullah bersama pemimpin pelayaran Portugis yang pertama kali menetap di Ternate; Fransisco Serrao, maka pihak Portugis (Lisabon) juga merasa perlu untuk mengisi kekosongan pemimpin Portugis di Ternate sepeninggal Fransisco Serrao, yakni dengan menempatkan seorang Gubernur Jenderal Portugis di Ternate sebagai pusat kedudukan Portugis di wilayah Maluku. Antonio de Brito yang diangkat menjadi Gubernur Jenderal Portugis yang pertama. Setelah tiba di Ternate pada akhir bulan Mei 1522, dengan membawa sebuah ekspedisi yang terdiri dari armada berkekuatan 7 kapal kecil dengan jumlah personil 600 personil. Kedatangan Antonio de Brito disambut oleh Taruwesse dengan penuh curiga, sehingga Taruwesse membuat perjanjian-perjanjian kecil terkait eksistensi Portugis di Ternate dalam berdagang. Antonio de Brito mendapat perintah langsung dari Raja Muda Portugis yang berkedudukan di Goa (India) untuk segera membangun sebuah benteng permanen dan segera terlibat langsung dalam perdagangan di kawasan itu. Benteng ini dibangun di pemukiman ramai yang disebut Gam Lamo.

Antonio de Brito yang menginisiatif untuk membuat sketsa rencana pendirian benteng ini. Portugis menyebutnya San Joao, dan Spanyol di kemudian hari menyebutnya, Santo Pedro de Paulo. Rohaniawan Portugis membaptis benteng tersebut dengan nama; Nostra Senhora del Rosario, namun nama ini tetap kurang terkenal bahkan masyarakat setempat lebih suka menyebutnya dengan Benteng Gam-Lamo. Pembangunan benteng ini disetujui oleh Taruwesse dengan catatan dijadikan sebagai tempat terkonsentrasi orang kulit putih Portugis di pulau itu. Peletakan batu pertama pembuatan benteng ini tercatat mulai pada tanggal 24 Juni 1522.

Sketsa Benteng Gamlamo TernateSketsa Benteng Gamlamo Ternate

Dengan mulai dibangunnya benteng tersebut dan ketiadaan Sultan Ternate karena telah wafat, maka Portugis melihat peluang kelemahan dan sikap politik yang ada di pihak Ternate. Dengan kondisi internal istana kerajaan Ternate tanpa raja (Kolano) seperti ini, kericuhan mulai timbul di lingkungan istana dan di jajaran para petinggi kerajaan (Bobato). Melihat situasi seperti itu, Gubernur Jenderal Portugis Antonio de Brito yang berkedudukan di Benteng Gam Lamo, melancarkan intrik politik di kalangan istana Ternate terkait masalah pewarisan tahta, yang mana setiap Portugis menginginkan agar pengangkatan/ pergantian sultan harus mendapat restu dari pihak Portugis. Karena ketidak-stabilan politik internal saat itu, maka kedudukan Antonio de Brito adalah sebagai penengah dan tempat mencari solusi. Ini adalah peluang pihak Portugis dalam menjalankan strategi politiknya di negeri pulau ini. Sejak adanya campur tangan Antonio de Brito itulah sistem organisasi dan tata nilai demokrasi suksesi pergantian Sultan Ternate mulai terusik. Belum lagi kondisi calon-calon yang dianggap sebagai pewaris takhta seperti anak-anak Bayanullah dan Boki Nukila (Kaicil Dayalu dan Kaicil Boheyat) maupun anak-anak dari isteri yang lain menjadi sebuah pemicu konflik internal istana. Deyalo dan Boheyat yang saat kematian ayah mereka masih kecil dan berusia muda. Inilah periode pergeseran tradisi suksesi yang mana mekanisme pengangkatan / pergantian Sultan Ternate mendapat warna baru karena mulai adanya campur tangan orang Portugis.

Dalam kondisi pemerintahan kerajaan yang mulai kacau seperti itu, Antonio de Brito menuduh Taruwesse melanggar perjanjian dan juga menuduh Boki Nukila (Nyai Chili Boki Raja) merkonspirasi untuk membuat sabotase. Sementara Boki Nukila yang asal Tidore mulai bersekutu dengan kaum perusuh / tim propaganda (Surang Oli) asal Tidore, membuat kerusuhan di sana sini sehingga penyelesaian pembangunan benteng terhambat. Sebaiknya Boki Nukila memaksa Portugis untuk megalihkan daerah operasi perdagangannya ke pulau Tidore. Menurutnya, ayahnya Sultan Tidore (Al-Mansyur) akan memberikan dukungan sepenuhnya bila Portugis mengalihkan daerah operasinya ke pulau Tidore. Sementara pedagang Spanyol yang baru tiba di Tidore juga belum terikat perjanjian tetap dan monopoli untuk berdagang di Tidore.

Dari kekisruhan inilah tampak jelas bahwa di antara persekutuan yang terbangun antara Taruwesse dan Boki Nukila ternyata sesungguhnya mereka berdua itu adalah musuh bebuyutan karena ada perseteruan dan masing2 pihak saling ambisius walaupun sama2 memegang kekuasaan sekutu, yang mana Boki Nukila adalah wali dari kedua putra Boki Nukila yang adalah darah daging dari Sultan Bayanullah yang wafat meninggalkan kekosongan takhta di kerajaan Ternate, sedangkan Taruwesse adalah seorang Jogugu sang tuan pemegang atau wakil sultan (kewenangan semacam perdana menteri) yang akan menjalankan roda pemerintahan setelah wafatnya sultan Bayanullah.

Karena kerajaan Ternate sejak sekitar tahun 1496 semasa bertakhtanya Sultan Zainal Abidin sudah mengambil corak Islam sebagai agama kerajaan secara total, dan sistem kerajaan diganti menjadi “kesultanan”, maka dengan ketiadaan seorang sultan karena wafat, maka tidak mungkin peran itu dijalankan oleh seorang perempuan sebagai wali atau imam bagi rakyatnya (sebagai khalitaur-rasyid, wa tubaddir-rasul). Oleh karena itu, maka Kaicil Taruwesse yang merupakan paman dari kedua putra Boki Nukila; Kaicil Deyalo dan Kaicil Boheyat, bersama-sama dengan Boki Nukila yang menjadi wali kedua putra tersebut ikut menjalankan pemerintahan secara bersama-sama dan sekaligus mengkoordinir para Bobato kerajaan yang ada untuk menjalankan roda pemerintahan kerajaan, termasuk menghadapi Portugis yang mulai usil ikut mencampuri masalah internal istana. Dalam kondisi seperti ini, sesuai dengan struktur organisasi dan tata kelola pemerintahan kesultanan Ternate yang disepakati sejak permufakatan Foramadiyahi, maka seharusnya yang menjadi pucuk pimpinan dalam kondisi ketiadaan Sultan karena wafat, maka pelaksana roda pemerintahan dilaksanakan oleh Jogugu (tuan pemegang). Kaicil Taruwesse adalah pemegang jabatan Jogugu pada saat kakaknya (Bayanullah) masih bertakhta.

Sejak perkawinan putri Sultan Tidore Al-Mnsyur (Nukila) dengan kakaknya Bayanullah, Taruwesse sudah mencurigai adanya sebuah konspirasi bapak-anak dari pihak Tidore yang berkeinginan menguasai atau menyatukan kedua kerajaan ini menjadi satu melalui perkawinan politis ini. Dugaan Taruwesse ini dikemudian hari ternyata benar terbukti, bahwa Boki Nukila memang bermaksud mempersiapkan kedua putranya (Boheyat dan Deyalo), yakni salah satu menjadi raja di Ternate dan satunya lagi menjadi raja di Tidore menggantikan kakeknya Al-Mansyur. Sedangkan dia sendiri bertindak sebagai Wali dan penguasa di belakang layar atas kedua pulau penghasil rempah itu.

Sebaliknya, setelah wafatnya Sultan Bayanullah, Jogugu Taruwesse bermaksud melenyapkan kedua putra yang akan dijadikan pewaris takhta oleh Boki Nukila (termasuk diri Boki Nukila sendiri) lalu mengambil alih kekuasaan penuh atas kerajaan Ternate tanpa rival manapun sesuai fungsi jabatannya sebagai Jogugu (tuan pemegang). Dalam trik politiknya, Taruwesse kemudian berbalik mengganggu pengaruh Tidore di Ternate (lewat peran Boki Nukila sebagai permaisuri di Ternate agar tujuan awal konspirasi perkawinan politis itu tidak tercapai). Jogugu Taruwesse dan Boki Nukila memandang Portugis sebagai alat potensial untuk mencapai tujuan mereka masing-masing. Sama seperti Raja Tidore memanfaatkan keberadaan Spanyol untuk menghancurkan rivalnya yakni kekuasaan Ternate.

Dalam beberapa catatan sejarah (sumber primer) disebutkan bahwa secara diam-diam, Antonio de Brito mempelajari situasi politik local yang berkembang ini. Ia mencoba membuat suatu serangan ke pulau Bacan dengan maksud menguasai komoditi yang ada di sana sekaligus menunjukan kepada pihak Ternate dan pihak Tidore yang sedang bersekutu dengan Spanyol. Ia kemudian memberikan ultimatum kepada Spanyol yang belum lama berada di Tidore untuk menyerah kepada Portugis yang berkedudukan di Ternate. Sementara ketegangan dan perseteruan antara Taruwesse dengan Boki Nukila semakin terbuka. Dalam upaya untuk mendapat perhatian Antonio de Brito, maka Taruwesse berusaha mengalahkan kubu Boki Nukila. Taruwesse membujuk Antonio de Brito untuk melakukan serangan ke Tidore, namun serangan itu mengalami kegagalan. Taruwesse meyakinkan kepada Antonio de Brito bahwa Boki Nukila yang harus bertanggung jawab atas kekalahan itu. Hal ini dipercaya oleh Portugis, sehingga Antonio de Brito melancarkan serangan dari Benteng Gam Lamo yang belum selesai dibangun ke Istana kerajaan Ternate, dengan tujuan menawan Boki Nukila serta mengambil alih perwalian atas kedua putranya itu.

Sementara itu para Bobato kerajaan tidak dapat berbuat banyak, namun tugas dan perannya masih tetap berjalan seperti biasa sesuai fungsinya masing-masing. Antonio de Brito menahan kedua putra Bayanullah yang masih belia tersebut sebagai tawanan di dalam Benteng Gam Lamo. Sementara Boki Nukila melarikan diri ke Tidore dan membantu ayahnya Sultan Al-Mansyur menyiapkan pasukan yang secara terus-menerus melaksanakan serangan-serangan kecil dan membuat gangguan-gangguan keamanan di Ternate oleh tim propaganda Tidore yang dikenal dengan sebutan Surang Oli. Sebagian rakyat dan para Bobato kesultanan Ternate marah atas tindakan Antonio de Brito ini, bahkan ada sebagian yang mau bergabung dengan kubu Boki Nukila yang berkedudukan di Tidore. Sementara kubu Taruwesse berada pada titik nol, yakni ketidakpastian sikap politis.

Untuk memperoleh perhatian Taruwesse, de Brito membuat manouver yakni menyiapkan pasukan yang dipersenjatai lengkap untuk menghalau gangguan yang datang dari Tidore. Akhirnya dengan didasari perseteruan terselubungnya dengan Boki Nukila, maka Taruwesse dengan percaya diri untuk merehabilitasi nama baiknya, ia menyerang Tidore bersama pasukannya dan dibantu pasukan tambahan yang telah dipersiapkan Antonio de Brito, dan diluar dugaan kemenangan berada di pihaknya. Kekuatan pasukan Tidore berhasil dikalahkan. Keberadaan Spanyol di Tidorepun tidak dapat berbuat banyak. Berita kemenangan Taruwesse ini sampai ke Raja Muda Portugis di Goa (India), yang menilai bahwa gubernur Jenderal mereka di Ternate ternyata hanya dijadikan alat oleh Taruwesse menghadapi kubu Boki Nukila dan pihak Tidore. Penilaian Raja Muda di Goa semacam ini membuat de Brito kecewa dan menyurati Raja Muda agar ia dikembalikan ke negerinya dan ia berharap agar dirinya segera digantikan oleh pejabat yang baru. Pada bulan Mei 1525, terjadi pergantian Gubernur Jenderal Portugis dari Antonio de Brito ke Dom Gracias Henriquez. Tampaknya de Brito selamat dan berhasil tiba kembali di Lisabon Portugal.

Di tangan Gubernur Jenderal yang kedua ini, situasi politik dan ekonomi di Ternate menjadi lebih maju bila dibanding dengan masa Antonio de Brito. Gracias Henriquez bertindak tegas kepada Taruwesse dengan mendinginkan ambisi besarnya, lalu ia membuka persahabatan dengan pihak Boki Nukila, tetapi ia sebagai Gubernur Jenderal Portugis yang berkedudukan di Ternate tetap memegang perwalian atas atas kedua putra yang telah ditawan oleh Antonio de Brito, karena keduanya memang dipersiapkan kubu Boki Nukila sebagai pewaris takhta di Ternate dan juga di Tidore. Ia juga dapat mendamaikan perselisihan antara orang Tidore dengan Spanyol dengan catatan bahwa Sultan Al-Mansyur segera mengembalikan Boki Nukila ke Ternate dan menikahkan seorang anak perempuan yang lainnya dengan Taruwesse serta menyerahkan meriam-meriam yang didapat dari Spanyol termasuk menyerahkan hasil cengkeh kepada Portugis di Ternate. Dengan rencana yang demikian berarti antara dua musuh bebuyutan (Nukila-Taruwesse) kini menjadi ipar. Dom Gracias Henriquez menjadi pembawa perdamaian dan mediator dalam mengatasi berbagai persoalan saat itu.

Hal ini tidak berlangsung lama. Beberapa saat setelah itu, pihak Tidore mulai melanggar kesepakatannya dengan Dom Gracias Henriquez. Dengan alasan mengobati Sultan Al-Mansyur yang sedang sakit, Henriquez mengutus dokter bedahnya ke istana Tidore. Padahal ternyata obat yang diberikan kepada raja Tidore adalah racun sehingga membangkitkan amarah rakyat Tidore, maka terjadilah peperangan antara Tidore dengan Portugis di Ternate. Armada Spanyol yang berkedudukan di Manila memberikan bantuan kepada Tidore yang kini dibantu Spanyol menghadap Portugis yang bersekutu dengan Ternate. Raja Jailolo Tarkibun (Katarabumi memihak kepada pihak Tidore yang bersekutu dengan Spanyol. (Catatan-catatan Portugis dan Spanyol menyebut nama Raja Jailolo Tarkibun (alias Katarabumi) ini dengan sebutan “Catabruno”).

Sketsa Pendaratan ArmadaPortugis di Kota Gam Lamo, TernateSketsa Pendaratan ArmadaPortugis di Kota Gam Lamo, Ternate

Pada tahun 1527 secara tiba-tiba Kapten Jorge de Menezes diutus oleh Raja Muda Portugis yang berkedudukan di Goa (India) untuk menjadi Gubernur Jenderal Portugis yang ke-3 di Ternate menggantikan Gracias Henriquez, namun Henriquez menunda kepulangannya ke Goa sehingga terjadi ketegangan antar keduanya, sehingga keadaan ini membingungkan hingga terjadi konfrensi antara keduanya di Benteng Gamlamo. Dalam kjeadaan terpojok Henriquez mencari perhatian sesama pendatang Eropa yakni Spanyol yang ada di Tidore. Sedangkan dari kubu Jorge de Menezes mendekati kubu Taruwesse di Ternate. Melihat situasi ini para Dewan Bobato kesultanan Ternate melaksanakan sidang internal dan mendesak Taruwesse yang saat itu menjadi orang penting dan sangat berpengaruh di kalangan istana untuk bersama-sama dengan Boki Nukila agar segera menuntut kembali hak perwalian atas kedua putra yang saat itu dianggap sebagai pihak yang kuat dalam pewaris takhta Ternate.

Pada tahun 1528, Deyalo dinobatkan sebagai raja Ternate yang ke-21 dalam usia 20 tahun. Tetapi tidak lama kemudian, ia mulai bertengkar dengan Taruwese. Hanya setahun setelah berkuasa, pada 1529 Deyalo disingkirkan dari takhtanya oleh komplotan Portugis-Taruwese melalui sebuah kudeta. Deyalo menduduki takhta hanya setahun (1528-1529). Deyalo mengasingkan dirinya ke Tidore, di mana pamannya Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnain berkuasa. Ibu SuriBoki Nukila yang sadar bahwa ancaman maut tengah membayangi putranya Deyalo, maka ia cepat-cepat mengatur pelariannya. Deyalo mula-mula dibawa beberapa kilometer dari Gam Lamo untuk disembunyikan. Setelah itu ia dipindahkan ke perkampungan orang Melayu, dan dari sana Deyalo dilarikan ke Tidore di tengah malam buta.

Setelah Deyalo didepak dari takhta dan sebelum penggantinya ditentukan, Pati Sarangi, suami kedua Boki Nukila, diangkat sebagai Mangkubumi (kewenangannya semacam Jogugu). Ia ikut berkomplot dalam menyingkirkan Deyalo. Setelah mengetahui bahwa Deyalo telah memperoleh suaka di Tidore dan setelah tuntutan agar sultan Tidore “King Mir” (sebutan untuk Sultan Amiruddin oleh Portugis) menyerahkan Deyalo ditolak, suatu pasukan gabungan Ternate-Portugis menyerbu Tidore. Tetapi, Deyalo sempat meloloskan diri ke Jailolo atas bantuan Sultan Jailolo Katarabumi.

Pengusiran Deyalo membuat rakyat Ternate mulai cemas dan berujung pada pembunuhan terhadap “orang kuat” yang bernama Taruwesse oleh rakyat Ternate bersama Portugis. Selama menjabat sebagai Jogugu, Taruwese bekerja sangat erat dengan Gubernur Jorge de Menezes, bahkan sang Gubernur pernah merayunya dengan janji bila Taruwese mau menjadi Sultan Ternate, ia siap membantunya. Tetapi, hubungan keduanya mulai retak dan berakhir dengan perseteruan, setelah Jorge de Menezes mulai ikut campur dalam urusan internal kerajaan. Karena itu, pembunuhan Taruwese oleh rakyat dilakukan dengan bantuan Gubernur Jorge de Menez.

Setelah Deyalo dilengserkan, adiknya Boheyat dilantik menjadi raja Ternate berikutnya (ke-22) pada tahun 1529. Dengan tewas dipenggalnya Taruwesse di tangan Portugis dan rakyat Ternate, Boheyat beharap dapat melaksanakan tugasnya sebagai kepala pemerintahan dengan baik dan bebas dari intrik-intrik politik internal, walaupun ia masih berharap adanya bantuan Gubernur Portugis yang baru Gonzalo Pereire. Tetapi, gubernur ini bernasib malang. Ketika sedang tidur nyenyak di kamarnya dalam benteng Gam Lamo, ia dibunuh oleh orang Portugis sendiri dengan bantuan beberapa orang Ternate, karena menganggap beberapa tindakan Gubernur Gonzalo Pereire sebagai penghinaan terhadap Sultan mereka.

Sebelum menduduki takhta Boheyat pernah dikurung oleh Portugis selama 7 tahun dari tahun 1523 sampai 1530. Setelah bertakhta ia dituduh ikut berkomplot membunuh Gubernur Gonzalo Pereire, Boheyat ditangkap dan dipenjarakan. Setelah meringkuk setahun dalam penjara, pada 1532 pihak Lisabon menunjuk Vicente da Fonceca sebagai Gubernur Portugis baru yang menggantikan Gonzalo Pereire. Ia lalu membebaskan Boheyat dari penjara dan memulihkannya kembali sebagai Sultan Ternate. Tetapi, pada masa pemerintahan yang kedua ini, Boheyat ternyata tidak mampu menenangkan rakyat dan tidak dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Kemakmuran rakyat merosot tajam dan pemerintahannya sangat represif. Boheyat sering mengambil keputusan secara tergesa-gesa dan dikenal sebagai pendendam. Tidak heran bila rakyat menyerbu istana di akhir pemerintahannya, dan saudara tirinya Tabariji menangkap serta mengasingkannya ke Malaka, tempat ia meninggal. Sumber lain menyebutkan bahwa Boheyat melarikan diri ke Jailolo dengan ibunya pada tahun 1533 dan dan kemudian ke Tidore, dari luka yang diterima dalam pertempuran melawan Portugis pada bulan Desember 1536 ia wafat dalam usia muda.

Pada tahun 1533, dalam usia 15 tahun, Tabariji (putera Sultan Bayanullah dari istri yang lain), yang merupakan adik tiri Deyalo dinobatkan sebagai raja Ternate ke-23 oleh Gubernur Portugis Vicente de Fonceca. Pelantikan Tabariji dan pemulihan kekuasaan Boheyat setelah dibebaskan dari penjara, memperlihatkan peranan dan ikut campur Portugis dalam urusan internal kerajaan yang semakin intens. Campur tangan berlebihan ini tidak disukai Tabariji, yang mengakibatkan sering timbulnya konflik di antara keduanya.

Sementara itu Gubernur Vicente de Fonceca digantikan oleh Tristiao de Ataide sebagai Gubernur Maluku yang baru. Ia tiba di Ternate pada 1533, beberapa bulan setelah Tabariji dilantik sebagai Sultan. Kedatangan Tristiao de Ataide disertai seorang Pastor bernama Simon Vaz dan pembantunya Francoise Alvares. Pastor Simon Vaz adalah pimpinan Kristen Katolik pertama yang dikirim ke Maluku, meskipun pendapat lain menyatakan bahwa pembawa agama Kristen Katolik pertama adalah seorang pedagang Portugis yang telah lama menetap di Maluku, yaitu Balthazar Veloso.

Ilustrasi Pendaratan Orang Portugis di TernateIlustrasi Pendaratan Orang Portugis di Ternate

Gubernur Tristiao de Ataide sejak awal sudah tidak memperoleh simpati rakyat Ternate. Agar ditakuti rakyat, ia berlaku kejam. Bahkan, dengan bantuan Ternate dan Tidore, ia menyerang Bacan dan membumihanguskannya, kemudian juga menyerbu Jailolo. Di Bacan ia memeras para bangsawan dengan tuntutan sejumlah uang, kalau tidak maka pekuburan para sultan dan kaum bangsawan Bacan lainnya akan digusur dan diratakan dengan tanah. Tuntutan ini akhirnya dipenuhi juga oleh sultan Bacan dengan membayar sejumlah besar uang.

Ketika pasukan militer Ternate menyerang orang-orang Mamuya di utara pulau Halmahera yang baru memeluk agama Katolik dan juga membunuh Raja Moro yang bernama Eropanya; Don Joao. Dengan ada peristiwa ini, Gubernur Tristiao de Ataide membuat rencana untuk menangkap Tabariji dan mengirimnya ke Goa bersama Boki Nukila dan suami keduanya Pati Sarangi, untuk diadili langsung oleh Raja Muda Portugis di sana atas tuduhan pengkhianatan. Saudara tiri Tabariji yang lain ibu bernama Kaicil Hayur alias Khairun Jamil kemudian menggantikan posisi Tabariji sebagai raja Ternate ke-24 pada tahun 1535. Masa kekuasaan SultanKhairun adalah dari tahun 1535-1545 dan kemudian dari1546-1570.

Tindakan-tindakan Gubernur Tristiao deAtaide yang tiranik telah menyulut kemarahan orang Ternate. Sementara orang Portugis sendiri menjadi saksi mata atas berbagai tindakan kejamnya yang menyebabkan sejumlah “perempuan, anak-anak dan sahaya meninggalkan rumah mereka.” Kepanikan besar juga terjadi ketika terlihat bahwa simbol kebesaran mereka dan seorang Portugis yang amat dihormati, Ourobachela, terkapar di depan gerbang benteng dalam keadaan tak bernyawa. Ataide yang pernah menyita kekayaan Boki Nukila sebelum mengirimnya bersama suamikedua (Pati Sarangi) dan Tabriji ke Goa untuk diadili. Ketika pasukannya kekurangan makanan, ia memerintahkan agar seluruh makanan yang dimiliki rakyat Tobona dirampas. Ketika Kimalaha Tobona memprotes tindakan Ataide, ia menangkap Kimalaha tersebut dan memenjarakannya selama beberapa hari. Setelah keluar dari penjara, Ataide mengerahkan dua ekor anjingnya untuk memburu Kimalaha Tobona kemudian menggigitnya sampai tewas dan mayatnya yang sudah tercabik-cabik dihanyutkan ke laut. Dia juga memenjarakan paman Sultan Bayanullah, Kaicil Kuliba, yang menjemput Serrao ke Ambon. Hanya dengan permintaan yang sangat dari Tabariji ia kemudian dibebaskan setelah lehernya dikalungi dengan daging dan darah babi pada waktu meninggalkan benteng Gamlamo.

Ilustrasi hukuman terhadap Kimalaha Tobona, (digigit anjing)Ilustrasi hukuman terhadap Kimalaha Tobona, (digigit anjing)

Ataide juga menyerang Jailolo, ketika sisa-sisa ekspedisi Magellan dari Spanyol melatih dan memperkuat pertahanan Jailolo. Tindakan tiranik Ataide akhirnya menyulut kemarahan rakyat Jailolo yang ingin mengembalikan Deyalo ke atas takhtanya. Mereka menyerbu Ternate dan membakar habis seluruh kota, kemudian menyerang Tidore dan Makian hingga Bacan. Di Bacan, mereka merampas sebuah kapal Portugis. Nahkoda kapal, Balthazar Vogod, dan seluruh awaknya dibunuh. Sementara sejumlah orang Portugis lainnya ditawan berikut budak-budaknya.

Di pengasingannya di Goa (India), Tabariji bertemu dan bersahabat dengan seorang bangsawan Portugis, Jordao de Freitas, yang kelak akan bertugas sebagai komandan benteng Gam Lamo di Ternate. De Freitas sempat menghimbau Tabariji agar ia mengkonversi agamanya ke Katolik agar memperoleh bantuan Portugis meraih takhtanya kembali. Tabariji sangat tertarik dengan himbauan ini, dan memutuskan untuk beralih ke agama Kristen, karena mau berjaya. Tabariji kemudian dibaptis dan mengganti namanya menjadi Don Manuel.

Melalui sebuah surat wasiat yang dibuat di Goa beberapa saat setelah konversi ke agama Katolik, Don Manuel Tabariji membuat surat hibah yang isinya “menghadiahkan pulau Ambon dan pulau-pulau sekitarnya antara pulau Buru dan Seram kepada Jordao de Freitas dan anak keturunannya yang resmi maupun tidak, selama keluarganya itu hidup dalam damai dan dijamin keselamatannya oleh Portugis. Dokumen hibah ini dikukuhkan kembali pada tahun 1543 dan 1564. Dengan menggunakan surat hibah itu sebagai titel atau alas hak, pemerintah Spanyol di Manila menyerang dan merebut Ternate pada awal 1606. Selain surat hibah tersebut, Don Manuel (Tabariji) juga memproklamasikan Ternate sebagai kerajaan katolik dan menjadi bagian atau vazal dari kerajaan Portugal.

Di hadapan Raja Muda Portugis di Goa India, Don Manuel (Tabariji) mengajukan pledoi untuk menangkis tuduhan-tuduhan Gubernur Tristiao Ataide atas dirinya sebagai pengkhianat, yang menyebabkan ia dimakzulkan, ditangkap dan diasingkan. Tabariji menolak semua tuduhan Ataide yang tidak adil dan didasarkan semata-mata pada keterangan orang-orang yang tidak menyukainya. Pledoi Tabariji begitu meyakinkan Raja Muda dan pembesar-pembesar Portugis yang mengadilinya, sehingga ia dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Raja Muda memutuskan bahwa Tabariji memperoleh rehabilitasi, dan haknya atas takhta Ternate dipulihkan. Ia harus segera dikembalikan ke Ternate.

Dapat diduga bahwa keputusan Raja Muda yang membebaskan Don Manuel (Tabariji) dari tuduhan Ataide, tidak lepas dari hibah wasiatnya yang memasrahkan Ambon dan sekitarnya kepada Jordao de Freitas, dan pernyataannya akan menjadikan Ternate sebagai sebuah kerajaan katolik yang tunduk pada kerajaan Portugis. Demikian pula, beralihnya Tabariji ke agama katolik turut dipertimbangkan. Beberapa saat setelah pembebasan dan pemulihan haknya atas kerajaan Ternate, Tabariji memproklamasikan perubahan status kerajaan Ternate dari sebuah Kerajaan Islam independen menjadi sebuah Kerajaan katolik di bawah daulat Raja Portugis. Tetapi, proklamasi ini tidak memberikan dampak yuridis pada status Kerajaan Ternate oleh pihak pembesar kerajaan di Ternate.

Tabariji akhirnya dipulangkan ke Ternate dengan sebuah kapal yang dinahkodai de Pinto. Dalam pelayaran kembali ke Ternate, Tabariji disertai Jardao de Freitas yang akan memangku jabatannya sebagai komandan benteng Gam Lamo yang baru. Freitas ditugaskan menggeser saudara tirinya Kaicil Khairun dan mendudukkan kembali Tabariji ke atas takhta Ternate. Tetapi, ketika tiba di Malaka, keduanya mengetahui bahwa rakyat Ternate telah menobatkan Khairun – tokoh yang dipandang rakyat Ternate “berwibawa, baik, dan tenang” – sebagai Sultan Ternate ke-24. Freitas mulai menyadari kesulitan yang akan dihadapinya bila ngotot dan berusaha mendudukkan Tabariji ke atas takhta Ternate. Ia memutuskan meninggakan Tabariji di Malaka, dan berlayar sendirian ke Ternate pada bulan Nopember 1544.

Setibanya di Ternate, Freitas mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa Sultan yang lama, Tabariji, sementara dalam perjalanan ke Ternate, serta bahwa Sultan Khairun dan Kapita Laut Samarau kemungkinan besar akan diasingkan ke Goa (India). Freitas berharap bahwa dengan tibanya Raja Katolik Tabariji, “api dan semangat suci akan dinyalakan secara penuh.” Freitas juga menyatakan tak seorangpun dapat menolak untuk dikonversikan agamanya ke katolik, sebab Boki Nukila dan Pati Sarangi juga telah melepaskan keyakinan Islamnya dan beralih ke Katolik. Namun, sebelum upaya Freitas menunjukkan hasil, Tabariji keburu jatuh sakit dan meninggal pada 30 Juni 1545 di Malaka dalam rangka perjalanan pulang ke Ternate.

Sejak Tabariji dilengserkan dari takhtanya, Khairun Jamil dinobatkan sebagai Sultan Ternate ke-24. Keputusan menaikkan Khairun ke atas takhta sesuai dengan tuntutan rakyat. Akan tetapi, keputusan Raja Muda di Goa yang merehabilitasi Tabariji dan akan mengembalikan takhtanya, telah menimbulkan kesulitan baru. Gubernur Ataide dan petinggi-petinggi Portugis di Ternate, dengan alasan yang dibuat-buat, memutuskan menangkap Khairun dan mengirimnya ke Malaka untuk diadili dengan tuduhan pengkhianatan.

Khairun Jamil, yang pada mulanya diangkat Portugis menggantikan Tabariji, kemudian mengalami nasib yang sama seperti pandahulunya. Bersama Khairun, ditangkap pula Kapita Laut paling cakap dan berpengalaman luas dalam pemerintahan dan petempuran – yakni mantan Salahakan Kepulauan Ambon, Samarau. Keduanya diasingkan ke Malaka. Tetapi, dengan meninggalnya Tabariji, Khairun dibebaskan dan dipulangkan ke Ternate. Namun, setelah menerima pembebasannya, Khairun bermaksud pergi dulu ke Goa sebelum kembali ke Ternate.

Sementara Boki Nukila yang kecewa dan terintimidasi setelah Khairun bertakhta dan mempertahankan Islam sebagai agama resmi kerajaan Ternate, ia memilih jalan hidup lain. Dalam keadaan frustrasi Boki Nukila tinggal bersama puteri tirinya yang menikah dengan pedagang dan pendeta Balthazar Velozo. Akhir atau penghujung kisah hidup sang Boki dituliskan dengan dilakukan pembaptisan utuh dirinya oleh Francis Xavier dan berganti nama menjadi Dona Isabella. Ia menjalani sisa masa hidupnya dalam keyakinan sebagai penganut Katolik dan tinggal bersama di rumah keluarga putri tirinya dan suami kedua Balthazar Velozo. Akhir hayatnya tidak dihiraukan lagi oleh sejarah, kapan ia wafat dan di mana dikuburkan tidak diketahui lagi. Boki Nukila seakan tenggelam dari permukaan lembaran sejarah Ternate. Kini namanya masih dikenang sebagai nama jalan di pusat kota Ternate, dan terakhir adalah nama sebuah taman kota di bibir pantai kota Ternate. Tapi banyak orang tidak tahu dan mungkin tidak menyangka kalau seorang tokoh wanita perkasa yang paling berpengaruh di Ternate pada abad ke-16 itu meninggal dunia dalam keadaan murtad, sebagai penganut katolik yang taat. Demikian pula seorang raja Ternate ke-23 yang bernama Tabriji juga wafat dalam keadaan yang sama, karena belum sempat mengkonversi kembali agamanya ke agama asal yang dianut leluhurnya, yakni Islam.
@…Sungguh suatu fakta sejarah yang kadang sulit diterima, tapi lorong-lorong waktu yang terlewati telah mencatatnya dengan rapi, sehingga sulit bagi generasi sesudahnya untuk mengelak fakta sejarah yang hampir tak masuk akal ini. #Salam… Historia Magistra Vitae. (BLD/Des/2014)

Referensi ;
Jacobs, S. J., Hubert Th. M. 1971, A Treatise on the Moluccas, (c. 1544), Probably the preliminary version of the Antonio Galvao’s lost Historia Das Molucas. Edited, annotated, and translated into English from the Portuguese manuscript in the Archivo General de Indias, Seville by Hubert Th. Th. M. Jacobs, S. J. Rome & St. Louis: Jesuit Historical Institute & St. Louis University.
Jacobs, S. J., Hubert Th. M. 1974, Documenta Molucensia (Vol.1), Monumenta Missionum Societatis Iesu ~ Missionaris Orientalis, (Edited and annotated by Hubert Th. Th. M. Jacobs, Published by ; Rome Institutum Historicum Societatis Iesu, 1974.
Francois Valentijn, Uitvoerige beschryving der vyf Moluccos (Dordrecht, 1724, Joannes van Braam Boekverkoopen).
De Europeers In Den Maleischen Archipel, Eerste Gedeelte. 1509-1529.
F.S.A. de Clercq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie Ternate, 1890, Leiden.
P. van der Crab; Geschiedenis van Ternate, in Ternataanschen en Maleischen tekst beschreven door den Ternataan Naidah met vertaling en aanteekeningen.
Leonard J. Andaya, The World of Maluku: Eastern Indonesia in the Early Moden Period, Honolulu, University of Hawaii Press, 1933.
Willard A. Hanna and Des Alwi. Turbulent Times Past in Ternate and Tidore, dan edisi bahasa Indonesianya; Ternate dan Tidore Masa lalu Penuh Gejolak, Yayasan Warisan dan Budaya Banda Naira, Rumah Budaya Banda Naira, Maluku, 1990.
Des Alwi, Sejarah Maluku, Banda Neira, Ternate, Tidore dan Ambon, Dian Rakyat, 2005
Joanna Hall Brierley; Spices, The Story of Indonesia’s Spice Trade, Oxford University Press, 1994.
Toeti Heraty; Rainha Boki Raja, Ratu Ternate Abad Keenambelas, Sixteenth Century Queen of Ternate, Komunitas Bambu, Jakarta.2010.
Hasil penelitian Genealigist yag bernama Cristoper Buyers dalam http://www.royalark.net/Indonesia/ternate2.html
Donald P. Tick, Pusat Dokumentasi Kerajaan-Kerajaan di Indonesia (Pusaka). pusaka.tick@tiscali.nl
Nukila Amal; Cala Ibi (Novel, 2003), Laluba (Kumpulan Cerita, 2005), dan Puisi Nukila Amal, Perhiasan Ratu, 17 November 2013.
…..Sumber foto : KITLV

(Tulisan ini adalah bagian salah satu draft (sub-BAB) dari buku yang sedang saya susun selama 10 tahun lebih, dan belum selesai hingga saat ini, hehehe…. )

Video Musik BAMBU HITADA, (Musik Tradisional Orang Halmahera)

Klik tautan di bawah ini untuk menonton lewat youtube…

 

Silahkan baca artikel tentang Musik Bambu Hitada, di blog ini juga….!!

Video Musik YANGER, (Orkes Tradisional Orang Halmahera)

Klik tautan di bawah ini untuk nonton lewat youtube…

 

Silahkan baca artikel tentang Musik Bambu Hitada, di dalam blog ini juga.

Sekilas Tentang “Kapita Arab” dan “Kapita Cina” Dalam Sejarah Ternate

~ Narasi oleh : Busranto Latif Doa ~

Dipastikan bahwa istilah LETNAN ARAB atau setingkat lebih tinggi yakni KAPTEN ARAB dan juga KAPTEN CINA pernah ada di dalam sejarah Kesultanan Ternate (Maluku Utara). Istilah atau sebutan “KAPTEN” ini berasal dari akar kata bahasa Portugis yakni kata “Capitão”, dan atau dari bahasa Spanyol “Capitán”. Saat Belanda datang ke Ternate, istilah ini disesuaikan dengan bahasa mereka, yakni “Kapitein”. Lalu kemudian orang2 Maluku Utara pada jaman itu mengadopsi istilah jabatan orang Eropa ini dengan istilah “KAPITA” dan dimasukan ke dalam jabatan2 pada struktur kesultanan Ternate.

Kapita Arab adalah salah satunya, selain Kapita Cina. Kedua istilah ini mungkin hanya lahir dalam sejarah Ternate (Maluku Utara). Sebutan Kapten Arab yang kita bahas ini dalam bahasa Ternate disebut “Kapita Arab”, demikian pula dengan Kapten Cina disebut dengan “Kapita Cina”. Selain dua Kapita ini juga ada banyak jabatan Kapita untuk komunitas lokal lainnya. Banyak sekali jabatan “Kapita” ini di wilayah kesultanan Ternate yang disandang berdasarkan jumlah klan yg ada dalam struktur masyarakat tradisional di kesultanan Ternate. Belum diketahui dengan pasti sejak kapan istilah “Kapita Arab” dan “Kapita Cina” ini mulai digunakan dalam struktur sosial di kesultanan Ternate, karena belum banyak data sumber yang menjelaskan tentang hal tersebut. Ini membutuhkan penelitian tersendiri.

Pasar Ternate (

@…Sebelum membahas lebih lanjut, perlu kita ketahui bahwa, dalam struktur masyarakat tradisional di kesultanan Ternate tercatat terdiri dari 41 kelompok kekerabatan klan/marga yang disebut “Soa”. (Fraassen menyebut jumlah Soa ada 43). Mereka terdiri dari seluruh elemen masyarakat tradisional yang ada, termasuk pendatang Melayu lainnya yakni; Suku Jawa, Bugis-Makassar. Selain itu di dalam keragaman masyarakat Ternate juga terdapat beberapa klan/marga yang non-melayu, yakni keturunan orang2 Cina dan Arab yang jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol dan Belanda) mereka ini sudah lebih dahulu eksisi atau ada di Ternate, dan sudah menjadi bagian dari masyarakat tradisional di kerajaan Ternate.

Berdasarkan sumber2 sejarah, dapat kita rekonstruksikan bahwa pergaulan sosial kedua pendatang non-Melayu ini (Cina dan Arab) agak berbeda. Orang2-orang keturunan Cina Ternate misalnya, jarang terjadi asimilasi sosiologis dengan penduduk pribumi selain dari urusan atau kegiatan perdagangan. Mereka punya kawasan pemukiman tersendiri di pusat kota Ternate sebagai kota perdagangan. Lain halnya dengan orang2 keturunan Arab Ternate, yang nampaknya asimilasi social dan budaya dengan penduduk pribumi lebih tampak.

Kampung Cina Ternate Tahun 1920

Hal ini dapat dimungkinkan karena antara penduduk pribumi Ternate dengan para komunitas Hadrahim (keturunan Arab) terdapat kesamaan aqidah (Islam), penduduk pribumi Ternate yang nota bene juga telah lama memeluk agama Islam adalah faktor yang menjadi perekat antara klan/marga keturunan Arab dengan penduduk pribumi Ternate. Walaupun demikian kedua komunitas Ternate non-Melayu ini masih tetap mempertahankan kemurnian genealogisnya dengan meminimalisir perkawinan campuran komunitas mereka dengan penduduk lokal. Walaupun hal demikian perah terjadi di beberapa generasi, namun sangat jarang. Walaupun demikian, sangat jarang dan nyaris tidak tercatat dalam sejarah, terjadi pertikaian atau konflik horizontal antara penduduk pribumi Ternate dengan masing2 dari kedua klan/marga penduduk Ternate non-Melayu ini. Ini yang mesti kita pertahankan sampai kapanpun di negeri pulau yang bernama Ternate yang kita cintai ini.

Kembali kepada soal “KAPITA ARAB” dan “KAPITA CINA”. ~ @ Bahwa dari ke-41 (atau 43) jumlah Soa yang ada dalam struktur masyarakat tradisional Ternate yang mana klan Melayu seperti Jawa, misalnya, mereka mendapat kedudukan yang boleh dikatakan setara dengan klan2 yang asli Ternate, yakni meteja juga menjadi salah satu Soa. Sedangkan keturunan Cina dan Arab tidak menjadi salah satu Soa di Ternate. Eksistensi mereka ini dilihat dari sisi lain. Ada peran-peran tertentu yang tidak dapat dilakoni oleh penduduk lokal Ternate atau Soa2 yg ada namun hanya dapat dilakukan oleh kedua komunitas Ternate ini. Oleh karena itu eksistensi mereka sangat dibutuhkan oleh pihak kesultanan. Dapat dikatakan bahawa peran central dari komunitas Cina Ternate waktu itu adalah dalam bidang perniagaan dan permodalan (kapitalis lokal), sedangkan peran central dari komunitas Arab Ternate selain juga dalam bidang perniagaan, juga dalam bidang pembinaan kerohanian Islam (dakwah).

Sebelum tahun 1859, pemimpin komunitas Cina dan Arab ini mendapat kehormatan di kesultanan sebagai kelompot elite dan memiliki perwakilan (pemimpin) dalam struktur kesultanan dengan pangkat KAPITA CINA dan KAPITA ARAB. Dengan struktur dan fungsi seperti ini, dapat diperkirakan bahwa pada masing masing dari kedua komunitas elite ini, masing2 terdapat pemimpin spiritualnya secara internal komunitas, dan juga pemimpin perwakilan dalam pemerintahan kesultanan. Yang dimaksud kedua ini adalah Kapita Cina Dan Kapita Arab. Fungsi mereka adalah sebagai penyambung antara komunitas mereka dengan istana (kadato).

Hela Kereta, 1890 - Copy

Namun setelah C. Bosscher menjadi Residen Ternate ke-11 pada tahun 1856,dan dan tiga tahun kemudian yakni tahun 1859, pemerintah Belanda di Ternate membuat aturan (semacam undang-undang) yakni Peraturan No.20, yang dalam pasal 2, berisi arahan untuk kepala untuk komunitas keturunan Arab, Bugis-Makassar dan komunitas Melayu lainnya di Ternate, mereka dianggap sama dengan warga Muslim Ternate dalam status hokum Belanda. Para kepala dari kelompok ini memegang pangkat tituler “Kapitein” di tentara sipil, yang tugasnya selain ke pihak istana (kadato) juga harus melayani di tentara sipil dan tugas jaga. Dengan tugas ini, maka pihak Belanda menganggap diri mereka (Kapita Arab dan kapita Cina) lebih unggul dari kapita2 Ternate lainnya yang ada di kampung2. Yang hanya subjek langsung dari Sultan. Dalam hal berpakaian, Kapita Cina dan kapita Arab berbeda dgn kapita dari klan lokal, mereka tetap menggunakan busana khas Cina dan Arab, tidak seperti kapita2 dari komunitas lokal yang menggunakan Lastar berwarna hitam yang ditaruh melingkar di kepala.

Satu hal lai yang harus diketahui bahwa, dalam struktur pemerintahan kesultanan Ternate, jabatan Kapita dikategorikan dalam 2 kategori, yakni kapita level atas dan kapita level bawah. Kapita level atas hanya terdiri dari Kapita Laut (Panglima Armada Laut Kesultanan), dan Kapita Kie (Panglima Keamanan Darat di Wilayah Ibukota Kesultananan), sedangkan yang dimaksud dengan kapita level bawah adalah kapita2 selain dua kapita level atas tersebut termasuk kapita2 yang kita bahas ini.

Tercatat dalam sejarah, untuk Kapita Arab Ternate, menurut Iis Nurcan, seorang Dosen IAIN Ambon yang kini sedang menjalani studi Islam di Universitas Leiden Belanda dan melakukan riset di University of Groningen, melakukan kajian dn pengumpulan data tentang komunitas Arab di Maluku termasuk para Habib dan keluarganya, menyebutkan bahwa Letnan Arab (Kapita Arab) pertama di Ternate adalah Habib Muchsin bin Muhammad Albaar (masa jabatan 1890-1904), Letnan Arab yang ke-2 adalah Habib Abdullah bin Salim Alhaddar dengan masa jabatan 1904-1922, dan Letnan Arab yang ke-3 (terakhir) adalah Habib Abubakar bin Salim Alhaddar yang menjabat dari tahun 1922-masa Jepang. Habib Abdullah dan Habib Abubakar kemungkinan dua bersaudara.

Habib Letnan

Berdasarkan data2 sejarah ini, maka bila kesultanan Ternate dalam rangka melestarikan budaya dan ingin menjalin kembali silaturrahmi yang terputus antara pihak kesultanan dengan komunitas keturunan Arab Ternate dalam bingkai melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari budaya Nasional, maka bagi saya pribadi, jabatan Kapita Arab harus ditunjuk atau diambil dari keturunan dari Habib Abdullah dan atau Habib Abubakab bin Salim Alhaddar ini. Persoalannya, apakah pihak keluarga keturunan masih mau melibatkan diri dalam rangka melestarikan budaya dan dalam rangka menjalin kembali tali silaturrahmi yang sempat terputus ini, dalam kondisi kesultanan Ternate yang nampak sudah kehilangan arah dalam satu dasa warsa terakhir ini ? Ini yang menjadi kendala menurut saya.

Kapita Cina, Ternate, Tahun 1870

Sedangkan untuk jabatan KAPITA CINA, setahu saya hingga saat ini dijabat oleh : Chritopher Harliem, yang biasa disapa Ko Hui (keluarga pemilik bioskop benteng Ternate). Bila ingin mengatahui banyak tentang sejarah komunitas Cina di Ternate, silahkan baca Skripsi dari Sdri. Irza Arnyta Djaafar (Almarhum Ibu Ita, kakak kelas saya pada saat masih mahasiswa di program studi Sejarah waktu kuliah dulu).

Akhir kata, hikmah yang dapat kita petik dari paparan ini, adalah, bahwa kita semua orang Ternate adalah bersaudara, siapapun dia, keturunan Cina,urunan Arab atau keturunan penduduk asli local. Leluhur kita semua sudah menjalin ikatan persaudaraan sejak dahulu, kita generasi penerus ini harus tetap memelihara hubungan emosional itu. “MARIMOI NGONE FUTURU”. Itulah salah satu dari apa yang disebut oleh orang2 pintar dengan istilah “Local Wisdom” (Kearifan Lokal). Tks… (Cibubur, 12 April 2014)

Kapita dari kalangan penduduk lokal di Ternate

KOLOLI KIE, (Tradisi Ritual Adat Mengelilingi Pulau Ternate Sambil Ziarah Beberapa Makam Keramat)

Penulis : Busranto Latif Doa
Foto : Maulana, Mukhsin & R. Fahmi


PENGANTAR

Setiap penduduk asli di pulau Ternate di Provinsi Maluku Utara pasti pernah mendengar dan tahu arti dari kata  “Kololi Kie” yaitu sebuah kegiatan ritual masyarakat tradisional untuk mengitari atau mengililingi gunung Gamalama sambil menziarahi beberapa makam keramat yang ada di sekeliling pulau kecil yg memiliki gunung berapi ini.

Menurut sejarawan  terkenal Leonard Andaya (dalam Reid, 1993: 28-29), bahwa ancaman berupa bencana alam yang ditimbulkan oleh sebuah gunung berapi terkadang dapat melahirkan satu tradisi yang khas. Beberapa kawasan di Asia Tenggara, termasuk di daerah Maluku Utara, gunung terutama gunung berapi aktif dianggap sebagai representasi penguasa alam.

Oleh sebab itu, keberadaan gunung selalu dihormati dengan cara melakukan beberapa ritual tertentu. Sebuah gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman, keamanan, dan keberadaan masyarakat di sekitarnya. Demikian menurut Leonard Andaya.


Dalam perspektif ini, ritual adat kololi kie ini memiliki makna ganda selain merupakan tradisi yg selalu dilakukan leluhur jaman dahulu untuk menjiarahi beberapa tempat yang dianggap keramat juga merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat Ternate dari berbagai ancaman bencana dari gunung berapi Gamalama tersebut. Hal seperti ini juga terjadi di beberapa gunung di pulau Jawa, Sumatera dan tempat lain di nusantara ini. Baca lebih lanjut

Sekilas Tentang CAKALELE, HASA, & SALAI JIN serta Mengenali Jenis-Jenis ROH GAIB di Ternate (Wonge, Jin, Meki, Caka, Puntiana, Giki dan Moro)

Oleh : Busranto Latif Doa

Sejak masa terbentuknya masyarakat pertama di Ternate, Cakalele sudah menjadi tradisi masyarakat di kepulauan ini. Seperti halnya di tempat lain di kepulauan Maluku dan sekitarnya, “Cakalele” merupakan bentuk tradisi atau kebiasaan dalam masyarakat tradisional di daerah ini. Tradisi Cakalele sebenarnya bermula dari daerah Maluku Utara, yang kemudian meluas ke daerah-daerah pengaruh kerajaan hingga sampai ke daerah Maluku Tengah (Ambon & Seram), termasuk juga ke wilayah semenanjung Sulawesi bagian utara (di Minahasa juga ada tradisi Cakalele ini) dan juga di kawasan sepanjang pantai timur pulau Sulawesi. Mereka masih tetap menggunakan istilah Cakalele ini sebagaimana sebutan asal yang berasal dari kosa kata bahasa Ternate.

PENGERTIAN

Pentas Calkalele di FKN

Menurut budayawan asli Ternate Abdul Hamid Hasan, dalam bukunya; “Aroma Sejarah dan Budaya Ternate” (1999), menguraikan bahwa pengertian Cakalele secara etimologi dalam bahasa Ternate, terdiri atas dua suku kata, yaitu “Caka” (syaitan/roh) dan “Lele” (mengamuk). Hingga saat ini masyarakat Ternate masih menggunakan istilah Caka untuk menyebut roh jahat, istilah serupa adalah “Suwanggi“. Jadi, pengertian kata Cakalele secara harafiah berarti “setan / roh mengamuk”. Bila jiwa seseorang telah dirasuki syaitan/roh, maka ia tidak takut kepada siapapun yang dihadapi dan ia telah haus akan darah manusia. Dengan demikian, menurut Abdul Hamid Hasan atraksi Cakalele di dalam peperangan ataupun uji coba ketahanan jiwa raga seseorang dalam “Legu Kie se Gam” berbeda dengan Cakalele yang sekedar ditampilkan pada upacara resmi lain.

Pada upacara resmi lain, penampilan atraksi serupa Cakalele biasanya disebut “Hasa”, tetapi karena pertarungannya sama dengan Cakalele, maka juga disering disebut orang sebagai Cakalele. Hasa hanya merupakan atraksi menyerupai Cakalele. Bedanya para pelaku atraksi Hasa tersebut berada dalam keadaan sadar (termasuk dalam atraksi pertarungan karena jiwanya tidak terasuk roh/jin). Tidak demikian hal dengan Cakalele, karena jiwa pelaku dari kedua belah pihak yang sedang atraksi (bertarung) telah dirasuki syaitan/roh, sehingga semua gerakan yang dilakukan adalah dibawah alam sadar. Baca lebih lanjut

Mengenal “ORANG TOGUTIL”, Suku Terasing di Pedalaman Pulau Halmahera

Penulis : Busranto Latif Doa
Sumber Foto :

1. Malik Abdullatif, PT. Aneka Tambang GEOMIN – Buli
2. Disbudpar Kab. Haltim

orang-suku-tugutil-halmahera-foto-disbudpar-haltim2Bila mendengar kata “TOGUTIL”, maka bayangan yang muncul dalam pikiran semua orang di Ternate dan Maluku Utara pasti akan tertuju pada komunitas suku terasing yang hidup secara nomaden di pedalaman pulau Halmahera. Tapi mungkin lain halnya dengan masyarakat di luar provinsi muda ini, misalnya orang-orang di Sulawesi, Jawa, Kalimantan, Sumatera dsb, nama suku Togutil mungkin baru kali ini didengarnya. Bagi orang Ternate, kata “Togutil” sebagai sebuah istilah, itu identik dengan makna kata “primitif”, “keterbelakangan”, “kebodohan” “ketertinggalan” serta masih banyak lagi konotasi-konotasi yang bermakna serupa lainnya.

Dalam keseharian kehidupan masyarakat di Maluku Utara yang hingga sekarang ini juga telah memasuki era digital sebagaimana orang-orang di pulau Jawa, namun ternyata masih ada saudara-saudaranya yang ada di pedalaman pulau Halmahera yang hidupnya masih primitif dan terbelakang serta jauh dari sentuhan modernisasi. Padahal negara ini sudah merdeka lebih dari 60 tahun yang lalu.

Suku Togutil adalah suku asli yang terasing di negerinya sendiri. Hal seperti ini juga pernah dikemukakan oleh Pengamat Budaya Djoko Su’ud Sukahar dalam tulisannya; Suku Asing & Terasing, detikNews, tanggal 21 Agustus 2008 yang menyentil bahwa; “Enampuluh tiga tahun sudah kita merdeka. Kemerdekaan yang panjang itu masih menyisakan penyesalan. Tak hanya karena taraf hidup rakyat yang tak kunjung membaik, tapi juga masih banyaknya saudara kita yang hidup terasing. Mereka asing bagi kita, dan kita asing bagi mereka, seperti orang-orang Suku Togutil yang hidup di pedalaman pulau Halmahera”. Walaupun mereka masih primitif karena pola hidup secara nomaden tanpa merobah dan merusak alam, namun keberadaan mereka seperti itu telah memberikan pelajaran berharga kepada kita semua dalam hal melestarikan hutan. Seakan-akan mereka berpesan; janganlah sekali-kali merusak alam. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.