Kronologis Pemerintahan di Ternate

Oleh : Busranto Latif Doa

Dalam sejarah kepemimpinan (pemerintahan) di Ternate, selain dipimpin oleh para Kolano (Sultan), masyarakat Ternate pernah diperintah oleh pejabat penguasa asing yang berkedudukan di Ternate, tercatat sebanyak 20 orang pejabat Gubernur Portugis (1512-1574), 7 orang pejabat sebagai Residen perwakilan Inggris di Ternate (1797-1815), 53 orang pejabat Gubernur VOC untuk wilayah Maluku yang berkedudukan di Ternate, dan juga kurang lebih tercatat sebanyak 28 orang pejabat Residen Pemerintah Kerajaan Belanda yang pemerintahannya berkedudukan di Ternate.

Berikut di bawah ini adalah kronologis nama-nama penguasa/pemerintahan di Ternate sejak awal mula terbentuknya masyarakat Ternate hingga sekarang :

1250. Awal mula terbentuknya komunitas pertama di Ternate yang berasal dari 4 klan. (Tahun 1250 oleh Pemerintah Kota Ternate ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Ternate).

1257. Kolano Cico dengan nama kebesaran Sultan Masyhur Malamo Pemimpin pertama

1277. Kolano Poit dengan nama kebesaran Sultan Samman Kadarat

1284. Kolano Siale Kamalu dengan nama kebesaran Sultan Abu Said , Pusat pemerintahan dipindahkan dari pesisir ke lembah Foramadiyahi.

1298. Kolano Bakuku Kalebatta dengan nama kebesaran Sultan Kabo

1304. Kolano Ngara Malamo dengan nama kebesaran Sultan Komala

1317. Kolano Ici alias Kaicil Patoranga Malamo dengan nama kebesaran Sultan Syafiuddin

1322. Kolano Sida Arif Malamo alias Kaicil Sida dengan nama kebesaran Sultan Arif Malamo

1331. Kolano Padji Malamo dengan nama kebesaran Sultan Ali

1332. Kolano Syah Alam dengan nama kebesaran Sultan Syah Alam

1343. Kolano Tolu Malamo dengan nama kebesaran Sultan Fulu

1347. Kolano Kie Mabidji Bohéyat dengan nama kebesaran Sultan Bayazid Bohayat–I

1350. Kolano Ngolo Macahaya–I dengan nama kebesaran Sultan Muhammad Syah

1357. Kolano Momole dengan nama kebesaran Sultan Momole

1359. Kolano Gapi Malamo dengan nama kebesaran Sultan Muhammad Bakar

1372 Kolano Gapi Baguna–I dengan nama kebesaran Sultan Gapi

1377. Kolano Komala Pulu alias Kaicil Gisi dengan nama kebesaran Sultan Besi Muhammad Hasan

1432. Kolano Ngolo Macahaya–II alias Kacili Sia dengan nama kebesaran Sultan Gapi Baguna–II

1465. Kolano Marhum Kapaslola alias Kaicil Gapi Baguna dengan nama kebesaran Sultan Marhum

1486. Sultan Zainal Abidin Syah

1500. Sultan Bayanullah alias Kaicil Liliatu

1506. Lodewijk di Bartomo, 0rang Eropa pertama yang mengunjungi Ternate

1522. Sultan Deyalo

1522. Antonio de Brito, Gubernur Jenderal Portugis Pertama di Indonesiaberkedudukan di Ternate

1525. Garcia Henriquez, Gubernur Jenderal Portugis ke-2

1527. Jorge de Menezes, Gubernur Jenderal Portugis ke-3

1530. Gonçalo Pereira, Gubernur Jenderal Portugis ke-4

1532. Vicente da Fonceca, Gubernur Jenderal Portugis ke-5

1533. Sultan Bohayat–II

1534. Tristao d’ Ataijde, Gubernur Jenderal Portugis ke-6

1535. Sultan Tabridji, Masih di bawah umur sehingga ingin disingkirkan oleh Portugis dengan taktik akan desekolahkan oleh Portugis ke Goa India.

1535. Sultan Hairun Jamil ul-llah alias Kaicil Hayur

1536. Antonio Galvao, Gubernur Jenderal Portugis ke-7

1540. Jorge de Castro, Gubernur Jenderal Portugis ke-8

1544. Jordao de Freitas, Gubernur Jenderal Portugis ke-9

1546. Franciscus Xaverius, mengunjungi Ternate.

1547. Bernaldim de Souza, Gubernur Jenderal Portugis ke-10

1549. Christovao de Sa, Gubernur Jenderal Portugis ke-11

1550. Bernaldim de Souza, Gubernur Jenderal Portugis ke-12 (Periode ke-2)

1552. Francisco Lopez de Souza, Gubernur Jenderal Portugis ke-13

1555. D. Duarte d’Eca, Gubernur Jenderal Portugis ke-14

1559. Manoel de Vasconcellos, Gubernur Jenderal Portugis ke-15

1561. Henrique de Sa, Gubernur Jenderal Portugis ke-16

1564. Alvaro de Mendoça, Gubernur Jenderal Portugis ke-17

1566. Diogo Lopes de Mesquita, Gubernur Jenderal Portugis ke-18. Atas perintahnya pada tahun 1570 Sultan Khairun dibunuh oleh Portugis di dalam Benteng Sao Paolo Ternate.

1570. Sultan Babullah Datu Syah alias Kaicil Paparangan

1571. Alvaro de Ataide, Gubernur Jenderal Portugis ke-19

1574. Nuno Pereira de Lacerda, Gubernur Jenderal Portugis ke-20

1579. Francis Drake, berkunjungan ke Ternate tanggal 3 November 1579 seorang petualang Inggris terkenal yang datang dengan kelompoknya dari Australia dengan 5 kapal salah satunya Golden Hind yang legendaris dan diterima oleh Sultan Baabullah.

1584. Sultan Said ud-din Barakat Syah alias Kaicil Said Barakati

1599. Wijbrand van Warwijk, orang Belanda pertama yang berkunjung ke Ternate dengan dua kapal Amsterdam dan Utregt pada tanggal 22 Mei. Kemudian pada tahun

1601. Jacob Corneliszoon van Neck, dengan kapal yang sama Amsterdam dan Gouda.

1606. Don Pedro da Cunha, pejabat Spannyol masuk Ternate, dan kemudian memenjarakan Sultan Saidudin.

1607. Cornelis Matelief de Jonge, tiba di Ternate dan membangun benteng Malayu (Fort Oranye).

1608. Paulus van Caerden, tiba di Ternate

1610. Paulus van Caerden, Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Maluku yang berkedudukan di Ternate

1610. Sultan Mudaffar Syah–I

1612. Pieter Both, Gubernur Jenderal VOC ke-1, merangkap Gubernur Belanda di Maluku ke-2

1616. Laurens Reaal, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-3

1621. Frederik Houtman, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-4

1623. Jacques le Fèbre, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-5

1627. Gilles Zeijst, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-6

1627. Sultan Hamzah alias Kaicil Tolu Suki dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Hamzah Amir ul-Mu’minin Barfi ul-Alam Illahi Syah Musalihin un-Nasir ud-din Syah

1629. Gijsbert van Lodestein, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-7

1633. Johan Ottens, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-8

1635. Jan van Broekom, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-9

1640. Anthonij Caen, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-10

1642. Wouter Seroijen, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-11

1648. Sultan Mandarsyah alias Kaicil Tahubo dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Mandar Syah ibnu al-Marhum Mudaffar Syah

1648. Gaspar van den Bogaerde, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-12

1653. Jacob Hustaart, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-13

1656. Simon de Cos, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-14

1662. Anthonij van Voorst, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-15

1667. Maximilian de Jong, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-16

1669. Abraham Verspreet, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-17

1672. Cornelis Franks, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-18

1675. Sultan Sibori alias Prince Amsterdam dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Sibori ibnu al-Marhum Mandar Syah

1675. Willem Korput, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-19

1676. David Harthouwer wafat dalam perjalanan dari makasar menuju Ternate digantikan sementara (Caretaker) oleh Commissioner Jacob de Ghein menjadi Gubernur Belanda di Maluku yang ke-20

1677. Robbert Padtbrugge, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-21

1682. Jacob Lobs, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-22

1686. Johan Henrik Thim, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-23

1689. Johannes Cops, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-24

1692. Kornelis van der Duin, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-25

1692. Sultan Toloko alias Prince Rotterdam dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Said Fathu’llah ibnu al-Marhum Mandar Syah

1696. Salomon le Sage, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-26

1701. Pieter Rooselaar, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-27

1706. Jacob Claaszoon, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-28

1710. David van Petersom, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-29

1714. Sultan Rajalaut alias Kaicili Sehe dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Amir Iskandar Zulkarnain Saif ud-din ibnu al-Marhum Said Fathu’llah Syahmardan

1715. Jacob Bottendorp, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-30

1720. Antoni Heinsius, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-31

1723. Jacob Cloeck, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-32

1724. Joan Happon, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-33

1728. Jacob Christiaen Pielat, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-34

1731. Elias de Haeze, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-35

1735. Paulus Rouwenhoff, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-36

1737. Martinus Storm, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-37

1739. Marten Lelievelt, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-38

1744. Gerrard van Brandwijk van Blokland, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-39

1750. J.E. van Mijlendonk, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-1840

1751. Sultan Ayan Syah alias Kaicil Oudshoorn Insah dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Binayatu’llah al-Malik ul-Manab Amir Iskandar ‘Ala ud-din Mansyur Syah

1754. Abraham Abeleven, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-41

1574. Sultan Syahmardan alias Prince Zwammerdam dengan nama kebesaran Paduka Sri Baginda Sultan Amir Iskandar Muda Syah

1758. Jacob van Schoonderwoert, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-42

1763. Sultan Kalamata alias Prince Zwaardekroon dengan nama kebesaran Paduka Sri Baginda Sultan Said ul-Mutakhid Jalal ud-din Ihaat Taj ur-Rahman

1766. Hendrik Breton, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-43

1767. Hermanus Munnik, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-44

1771. Paulus Jacob Valckenaer, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-45

1777. Sultan Harun Syah dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Baginda Sultan Ikhtias ur-Rahman Wahuwa Said Duna Azim ud-din Syah

1778. Jacob Roeland Thomaszen, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-46

1780. Alexander Cornabé, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-47

1780. Sultan Ahral alias Jou Pulang Gapi dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan Amir Iskandar Malik ul-Mulk ul-Munawar us-sadiq ul-Muharram Said

1793. J. Ekenholm, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-48

1796. Johan Godfried Budach, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-49

1796. Sultan Sarkan dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan ul-Arifin Wahuwa Said Duna Siraj ud-din Syah

1801. Sultan Muhamad Yasin dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan Siraj ul-Bilat Syah Taj ul-Aulia al-Mukarram Amir Iskandar Jihad Azim ud-din (dinobatkan 13-Mei-1801 dan wafat 10-Maret-1807)

1801. K.T. Farquhar, Residen Inggris di Ternate

1803. H. Webber, Residen Inggris di Ternate

1804. Carel Lodewijk Wieling, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-52. Wilayah Ternate berada dibawah sub-ordinat Ambon

1807. Sultan Muhamad Ali dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan Said ul-Biladi Siraj ul-Kulut ul-Mulki Amir Iskandar Ali Zain ul-Bahrain Wahuwa Khair us-Salikhin Syah (dinobatkan 16-Mei-1807 dan wafat 25-Nopember-1824) Membangun Keraton yang berdiri hingga saat ini.

1809. R. Coop à Groen, Gubernur Belanda di Maluku yang ke-53

1811. W. Ewer, Residen Inggris di Ternate

1813. W.G. Mackenzie, Residen Inggris di Ternate

1815. R. Stuart, Residen Inggris di Ternate

1816. W.G. Mackenzie, Residen Inggris di Ternate (Periode ke-2)

1820. H.J. van de Graaff, Commission wilayah Maluku berkedudukan di Ternate sekaligus sebagai Residen Ternate ke-1, Tahun 1822 Sultan Palembang, Sultan Mahmud Badarudin II, tiba di Ternate dalam rangka diasingkan oleh Belanda

1822. Sultan Muhammad Sarmole alias Kolano Guraka van der Parra dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan Amir ul-Mukminin Muhammad Saif ud-din Iskandar Nasir ud-din Syah (dinobatkan 16-April-1822 dan wafat 11-Oktober-1823)

1823. Sultan Muhammad Zein dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan Taj ul-Mulki Amir ud-din Iskandar Muhammad Zain Kaulaini Syah (dinobatkan 27-Mei-1824 dan wafat 20-Nopember-1859)

1830. J.H.J. Moorrees, Residen Ternate ke-2

1834. A.J. van Olpen, Residen Ternate ke-3 (Mei)

1837. Pangeran Hendrik, dari Belanda berkunjung ke Ternate dand Tidore (April)

1839. D.F.H. Helbach, Residen Ternate ke-4 (April)

1847. C.M. Visser, Residen Ternate ke-5

1851. C. Sluijter, Residen Ternate ke-6 (February 12)

1851. W.L. van Guericke, Residen Ternate ke-7 (October)

1852. Jhr. C.F. Goldmann, Residen Ternate ke-8 (Juni)

1855. J.L. de Dieu Stierling, Residen Ternate ke-9 (Juni)

1856. J.H. Tobias, Residen Ternate ke-10 (April)

1856. C. Bosscher, Residen Ternate ke-11 (Nopember)

1860. C.J. Bosch, Residen Ternate ke-12 (Januari)

1861. Sultan Muhamad Arsyad dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan Sultan ul-Mahf ul-Himayatu’llahi Mamran Suraj ul-Mulk Amir ud-din Iskandar Muhammad Arsyad Wahuwa Minas sa-likhin Syah (dinobatkan 30-Mei-1861 dan wafat 25-Oktober-1876)

1861. J. Blok, Residen Ternate ke-13 (Juli)

1863. P. van der Crab, Residen Ternate ke-14 (April)

1867. M.H.W. Nieuwenhuijs, Residen Ternate ke-15 (Maret)

1869. D. Boes Lutjens, Residen Ternate ke-16 (Mei)

1870. F. Schenck, Residen Ternate ke-17 (September)

1873. S.C.J.W. van Musschenbroek, Residen Ternate ke-18 (Juli)

1875. A.J. Langeveldt van Hemert, Residen Ternate ke-19 (Mei)

1876. P.F. Laging Tobias, Residen Ternate ke-20 (Oktober)

1879. O.M. de Munnick, Residen Ternate ke-21 (Maret)

1879. Sultan Ayanhar Syah dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan as-Sultan Taj ul-Mahs ul-Binayatu’llah al-Hannan Siraj ul-Mulk Amir ud-din Iskandar Munawar us-Sadiq Wahuwa Mina al-Adilin Ayan’har Syah (dinobatkan 13-Juli-1880 dan wafat 10-Juli-1900)

1881. Jhr. T.G.V. Borcel, Residen Ternate ke-22 (April)

1883. D.F. van Braam Morris, Residen Ternate ke-23 (Januari)

1885. F.S.A. de Clercq, Residen Ternate ke-24 (Januari)

1888. J. Bens Bach, Residen Ternate ke-25 (September)

1894. Van Oldenborgh, Residen Ternate ke-26

1900. Sultan Haji Muhammad Ilham Syah (Sultan Satu Bulan) dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan as-Sultan Haji Muhammad Ilham Syah (20 Januari-20 Pebruari 1900)

1902. Sultan Haji Muhammad Usman Syah alias Jou Bandung dengan nama kebesaran Paduka Sri Maha Tuan as-Sultan Taj ul-Mahs ul-Binayatu’llah al-Hanan Siraj ul-Mulk Amir ud-din Iskandar Munawar us-Sadiq Wahuwa min al-‘Adilin Syah

1903. D.W. Horst, Residen Ternate ke-27

1920. H.J.Th.L. Boers, Residen Ternate ke-28

1930. Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan Taj ul-Mahs Siraj ul-Mulki Amir ud-din Maulana as-Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah (dinobatkan 2 September 1929 dan wafat di Jakarta)

1942. Van Velde, Asisten Residen Ternate

1942. Kapt. Zondag, Komandan Militer KNIL di Ternate

1942. Syirk van der Groot, Kontrolir Belanda yang terakhir di Ternate menjelang kedatangan bangsa Jepang di Ternate

1942. Meinsenbu. Noro San, Kepala pemerintahan Militer Jepang pertama di Ternate, seorang mata-mata dan petinggi militer Jepang yang sudah dua tahun menyamar sebagai pedagang mutiara di wilayah Kao Halmahera timur

1944. Tanggal 5 Oktober Sultan Iskandar Muhammad Djabir Syah dan keluarganya diungsikan ke Australia oleh petinggi militer tentara sekutu yang berkedudukan di pulau Morotai.

1944. Pangeran Muhammad Natsir, (saudara Sultan I. M. Djabir) diangkat oleh Jepang menjadi pengganti Sultan Ternate sementara yang berkedudukan di Kao Halmahera Timur.

1945. Chasan Boesoirie, seorang aktivis Nasionalis dari PI (Perhimpunan Indonesia) di Ternate, pada tanggal 25 Agustus-1945 dikukuhkan sebagai pejabat sementara kepala pemerintahan di Maluku Utara yang berkedudukan di Ternate sekaligus menerima penyerahan kekuasaan pemerinthan Jepang dari Minsebu Jepang di Ternate.

1945. Sultan Djabir Syah (September 1945), kembali ke Ternate dari pengasingannya di Australia dan kemudian ditunjuk Belanda untuk menjabat sebagai Asisten Residen Maluku Utara yang berkedudukan di Ternate, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler pada tentara KNIL.

1946. Maluku Utara dirubah statusnya menjadi Keresidenan, maka Belanda kembali mengangangkat Sultan Djabir Syah menjadi Residen Pertama wilayah Maluku Utara yang berkedudukan di Ternate

1949. Sultan Djainal Abidin Syah, (Sultan Tidore) Residen Ternate menggantikan Sultan Djabir Syh yang diangkat menjadi Mendagri Negara Indonesia Timur (NIT)

1965. J. K. Soulissa, Bupati Kepala Daerah Tk-II Maluku Utara di Ternate

1970. Yakub Mansur, BA, Bupati Kepala Daerah Tk-II Maluku Utara di Ternate

1980. Drs. A. R. Royani, Bupati Kepala Daerah Tk-II Maluku Utara di Ternate

1985. Letkol Purn. Drs. Supanji, Bupati Kabupaten Maluku Utara berkedudukan di Ternate

1987. Sultan Haji Muhammad Mudaffar Syah–II alias Jo Muce dinobatkan menjadi Sultan Ternate yang terakhir hingga saat ini dengan nama kebesaran Paduka Sri Sultan al-Bilad Siraj ul-Mulki Amir ud-din Maulana as-Sultan Iskandar Muhammad Mudaffar Syah (lahir 13 Maret 1936, dinobatkan sebagai Sultan Ternate ke-48 pada tahun 1987)

1990. Sutikno, Bupati Kabupaten Maluku Utara berkedudukan di Ternate

1992. Drs. Muhammad Hasan, Walikota Ternate

1997. Drs. Thaib Armaiyn, Walikota Ternate

2002. Drs. Syamsir Andili, Walikota Ternate

Perjalanan panjang sejarah masyarakat Ternate yang hingga kini telah berusia 758 tahun sejak dahulu dari Raja pertama Kolano Cico alias Masyhur Malamo (1257) hingga Sultan yang ke-48 sekarang ini Sri Sultan Drs. Haji Mudaffar Syah-II mengalami suatu proses asimilasi budaya dan dinamika serta campur tangan dari kekuasaan luar terutama bangsa Eropa selain para Raja Ternate sendiri mengakibatkan kebudayan masyarakat Ternate memiliki ciri khasnya tersendiri. Perjalanan panjang ini merupakan mata rantai dari kelangsungan sebuah komunitas yang tentunya dikikis dan dipoles oleh jaman yang dilaluinya, hingga saat ini kota Ternate menjadi pusat pemerintahan Propinsi Maluku Utara.

Kedatangan orang Eropa ke berbagai tempat di belahan bumi ini membawa tiga Misi utamanya, yaitu ; “Gold”, “Gospel” dan “Glory”. Warisan yang paling nyata hingga saat ini adalah pada kawasan tertentu di Maluku Utara masih terdapat pemeluk agama Nasarani sebagai bukti adanya Gospel yang didengungkan bangsa Eropa waktu itu, sedangkan kehadiran Islam di daerah ini juga sebagai akibat adanya hubungan dengan para pedagang dari bangsa Arab dan Persia maupun dari Gujarat.

Para pendahulu di daerah ini telah meletakan “prinsip dasar”, baik itu menyangkut keyakinan beragama, sendi-sendi moral maupun etika dan perilaku yang tercermin dalam adat-istiadat, tradisi dan budaya yang tersirat dalam institusi tradisional, simbol-simbol budaya dan pranata sosial yang masih ada di masyarakat Ternate hingga saat ini. Sebagai generasi saat ini, wajarlah kalau memiliki minat dan keinginan di bidang kajian sejarah, karena lebih banyak manfaat yang didapat daripada tidak mengetahuinya sama sekali. (Baca artikel tentang kajian dimaksud pada artikel sebelumnya; “Sejarah Tidak Pernah Berdusta”).

(http://www.busranto.blogspot.com – diolah dari berbagai sumber)

(Buku Referensi Sumber Utama; F.S.A. de Clerq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie van Ternate, Leiden, 1890 – English Edition by Smithsonian Institution Libraries Digital Edition Washington, D.C., 1999)

12 Tanggapan

  1. Pengasuh Website ybk,

    terima kasih atas sharing tulisan ini. Melalui sharing tulisan ini, saya dapat tahu tentang nama-nama para penguasa Portugis dan Belanda dan penguasa dari bangsa Eropa lainnya yang menguasai wilayah Maluku.
    Namun ada beberapa kelemahan dari catatan ini yakni tentang tahun pemerintahan dari masing-masing gubernur, residen dan raja tidak ditulisakan atau disebutkan.
    Padahal penulisan masa pemerintahan itu sangat penting demi keakuratan data. Melalui penulisan tahun masa pemerintahan dari semua penguasa itu kita dapat melihat periodisasi kekuasaannya dan membandingkan dengan apa yang terjadi pada wilayah lain di Indonesia pada masa yang sama.

    Salam hormat!

    Blasius Mengkaka, S.Fil
    (http:www.blasmkm.com)
    Atambua, Belu, NTT

  2. Buat : M. Hsn Gani uto Ngare,
    Hingga saat ini saya belum menemukan data tentang hal itu. Sejarawan lokal, nasional dan asing pun tidak pernah menemukan data yg ente maksud. Kelemahannya ada di historiografi kita sendiri yg mana para pecatat sejarah kita di Ternate waktu itu (Juru Tulis Lamo) tidak melakukan hal itu, bahkan semua data tanggal pada beberapa sultan terakhir saya dapatkan justru dari catatan pelaku yg hidup sejaman.

    Akan lebih bijaksana jika ente tidak hanya sekedar mengoreksi saja tapi ente memberikan masukan jika punya data tentang itu. Tapi kalo anda juga tidak tahu melebihi ketidaktahuan saya yg menulis dan menyajikan artikel gratis di media ini, maka anda sama saja dengan kebanyakan orang yg tidak pernah bercermin diri.
    Terima kasih atas komentarnya. (Admin)

  3. artikel yang anda buat belum lengkap……….
    coba perhatikan tempat serta tanggal lahir para pemimpin yang memimpin di masa ternate masih menjadi negara ternate………..
    seperti sultan khairun…..DLL.

    thank’s

  4. Bapak Anto, sekadar urun rembug. Sepengetahuan saya, penguasa awal Ternate adalah para Momole, yang masih tersebar dalam empat klan. Yang tertua adalah Momole dari klan Tobona. Pada era sekitar tahun 1250-an, ketika Jailolo dipimpin seorang ratu yang memerintah dengan tangan besi, banyak bangsawan menengah dan tinggi yang merupakan elit politik yang berseberangan dengan sang ratu, melakukan pengungsian. Kelompok baru inilah yang melahirkan pemukiman Foramadiahi dan Sampalu. Adnan Amal dalam Kepulauan rempah-rempah, mengutip sumber Negarakartagama karya Mpu Prapanca, juga menyinggung tentang pembentukan komunitas awal ini juga. Baru di tahun 1257, komunitas Tobona memprakarsai sebuah pertemuan, yang melahirkan sebuah kerajaan, dengan raja pertama bergelar Kolano, adalah Cico, yang merupakan pemimpin klan Sampalu. Dialah yang kemudian dikenal dengan Mashur Malamo (1257-1277). Baru dimasa Marhum (1466-1486), ayahanda Zainal Abidin, raja-raja Ternate menggunakan gelar Sultan, atau dikenal dengan periode kesultanan Islam. Itu setelah Datu Maula Husain (1450-an) ,penyiar Islam, masuk ke lingkar dalam Istana Ternate.Memang di akhir tahun 1300-an, dalam catatan Francois Valentijn menyebut beberapa nama penguasa Tidore dengan nama Islam dan penguasa Ternate dengan idiom Islam, tapi de Clerq, maupun Documenta Molucensia Vol III, pp 3-4 juga tanpa tahun. P. van der Crab dalam De Moluksche Eilanden, juga tak menyebut detil. Catatan Piggafetta juga tak ada bedanya. Mungkin kita harus merujuk ke catatan Ibn Batuta atau Marcopolo, ataukah seperti disarankan Halik, kita membuka catatan jurutulis Admiral Muhammad Ceng Ho, Mahuan. Semoga saja sejrah kita tak menjadi dongeng terus, tapi dapat menjadi sebuah catatan historis, yang dengannya kita dapat berkaca untuk menatap masa depan. Salam Anto.

  5. Terima kasih kawan, saya sangat senang bila ada yang sharing seperti ini, memang untuk merestrukturisasi fakta sejarah perlu perbandingan dengan yang lain, sejarah yang kita kenal pada saat ini adalah hasil dari rekstrukturisasi sejarawan terhadap fakta2 tsb, dan masing2 sejarawan bagaimanapun diusahakan, pasti akan tetap terbelenggu dengan “subjektifitas”-nya. Sekali lagi terima kasih atas tanggapannya. Kita dan siapa saja yang tau dengan menggunakan metode historiografi harus sama2 menggiring fakta ini menjadi sejarah yang “riil”, sehingga generasi yang ingin tahu ttg hal Fakta sejarah) ini tidak terjebak dengan apa yang disebut “psudo sejarah”.

  6. Memang, kalau menelisik sejarah Cengkeh sendiri, sejak jaman Romawi Kuno dan Mesir Kuno, sudah ada. Tapi Faktanya, pemukiman Tobona dengan Momole Guna kepala persekutuan masyarakat Tobona, mulai membangun pemukiman awal di sekitar tahun 1250. Perkiraan yang tak jauh berbeda dituturkan oleh Negarakartagama. yang lebih baru lagi jurstru Ma Huan, jurutulis Laksamana Ceng Ho, dan Marco Polo. Jadi, perkiraan Busranto adalah mendekati fakta sejarah sebagaimana dikenal saat ini. keep blogging kawan

  7. Luar biasa……!

  8. Saya kagum dgn Bangsa Ternate yg saat ini telah menjadi Bangsa Indonesia. Kekaguman saya berdasar pada ketahan dan keutuhan Bangsa Ternate selama dlm masa pendudukan bangsa asing (Portuges dan Belanda dan Inggris) dimana tidak terjadi bubarnya sebuah Kasultanan. Jika kita bandingkan dgn yg ada di Jawa, maka dari tahun 1250 s.d. 1945 itu telah berkali-kali terjadi revolusi dan hancur leburnya kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit berdiri tahun 1257 dan hancur thn 1478 (atau pd thn 1400, Kalender Jawa), lalu Kasultanan Demak berdiri 1478 dan hancur tahun 1564, lalu Kasultanan Pajang hanya berumur 25 tahuan, lalu pd 1576 Kasultanan Mataram Islam Lama di kota Gede Yogyakarta hanya sampai dgn tahun 1629 oleh Sultan Agung lalu oleh Pindah ke Kasusunan Solo sekarang dulu Kartasura, lalu tahun 1755 ada Perpecahan Kasultanan Solo menjadi 2 yakni Kasultanan Yogyakarta dn Kasunanan Solo, lalu 1756 pecah lagi Solo dgn membagi wilayah dgn Kadipaten Mangkunegaran Solo, lalu Kasultanan Yogyakarta pecah menjadi 2 dgn Kadipaten Pakualaman Yogyakarta pg tahun 1812. Jadi di Yogyakarta ada 2 Raja yg Istananya hanya berjarak 1 Km saja sampai sekarang). Maka pantas atau wajar saja jk Urutan Sultan-Sultan di Jawa saat ini baru samapai pada Urutan Generagi Ke XIII di Solo, dan Urutan Sultan ke X di Yoyakarta dan IX di Paku Alaman. Bandingkan dgn Sultan Ternate sekarang yg sudah Ke-48. Luar biasa, sebuah kontinuitas sejarah yg sangat mengagumkan. Selamat dan sukses kepada Bangsa Ternate, dan Sultan Ke-48 Semoga Panjang Umur, dan Pemda Ternate serta makmur bahagia untuk seluruh rakyat Bangsa Ternate. HAYYA ‘ALAL FALAAAH! Amien.

    Takdir Ali Mukti

    YOGYAKARTA… email : takdir_jogja@yahoo.com

  9. To : RHIE
    Tolong anda lengkapi dong….!
    Referensi mana yang menjadi dasar anda mengatakan demikian…?!
    Semua yang saya tulis di blog ini, saya bisa pertanggung jawabkan secara akademis, sedangkan kajian sosio kultural, selain bersumber dari beberapa referensi, saya uraikan berdasarkan pengalaman saya yang saya lihat lingkungan sosial budaya Ternate, terutama masyarakat asli Ternate di Ternate.
    Untuk kajian dan bahasan tentang sejarah saya punya referensi lengkap di perpustakan pribadi saya di rumah, mulai dari berbahasa Ternate yang ditulis dengan aksara Arab hingga yang berbahasa Belanda. Kalo anda punya referensi lain silakan konfirmasi ke saya via email di : busranto@gmail.com, ditunggu tanggapannya…!

  10. KURANG LENGKAP… Harap koreksi kembali, awal mula Ternate-Tidore berkisar tahun 1077.

  11. Menarik juga artikel ini kalo dibaca secara keseluruhan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: