Tradisi “BARI” Dalam Perspektif Budaya

OIeh: Udin Hi. Rasyid * )

Prof. Wojowasito dan Poerwadarminta dalam kamus Inggris – Indonesia (1980) mendefinisikan kata “Gotong Royong” yakni bersama-sama merasa senasib sepenanggungan sekaligus merasa ada keterkaitan yang erat sehingga merasa terpanggil dalam melakukan suatu pekerjaan.

Gotong royong dalam bahasa Temate disebuf “Bari”. Bari diartikan secara harfiah yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari pihak lain. serta melibatkan banyak orang dan pekerjaan tersebut dilakukan bersama-sama tanpa mengharapkan upah atau gaji.

Dengan demikian gotong royong yang dilakukan masyarakat Maluku Utara, khsusnya di Ternate adalah gotong royong yang didasarkan pada-keikhlasan manusia membantu manusia lainnya. Dan ini merupakan impiementasi dari falsafah “Co’ou Kaha, Kie se Kolano”, dengan suatu keyakinan bahwa pada hakekatnya mendong manusia dengan ikhlas sama halnya dengan menolong diri sendiri (hubungan antara manusia dengan manusia).

Yang dimaksud dengan “menolong diri sendiri,” lebih mengarah pada pemahaman religius bahwa setiap perbuatan manusia pasti mendapat ganjaran dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Perbuatan baik pasti mendapatkan pahala. Begitujuga sebaliknya (hubungan antara Tuhan dengan manusia) hanya kadar ke-ikhasanlah yang menjadi perhitungan Tuhan dalam menilai setiap perbuatan hambanya.

Jadi, Bari dalam konsep budaya Ternate adalah suatu kegiatan kemanusiaan yang didasarkan pada kaikhlasan sebagai pengakuan diri (co’ou) dengan tidak mengharapkan imbaian materi, sebagai wujud dari kesamaan asal (kaha) yang merupakan kehendak kekuasaan (kie) yang sudah ada dalam diri manusia sebagai makhluk yang paling sempurna.

Di kota-kota besar, budaya gotong royong tidak berkembang seperti yang kita harapkan karena masyarakat yang hidup di daerah perkotaan adalah masyarakat bisnis yang tidak lepas dari persoalan buruh dan upah sehingga kegiatan-kegiatan semacam ini jarang dilakukan orang. Banyak pekerjaan yang dilakukan orang lebih berorientasi pada proyek atau uang (materi), sehingga bagi orang yang tidak memiliki uang, jelas tidak dapat membangun bangunan yang diinginkan seperti rumah atau tempat tinggal yang layak.

Kehidupan kota yang individual sifatnya menunjukan siapa yang kuat memiliki kekuasaan, uang dan pekerjaan dapat hidup layak sementara kaum yang lemah terpaksa hidup di emper-emper toko, Rasa solideritas dan sosialitas tidak berlaku bagi kehidupan kota.
Sebagai contoh, budaya Bari murni yang ada di Ternate saat ini masih terdapat di desa Taduma, kelurahan Aftador (Afe, Taduma dan Doropedu) di kecamatan pulau Ternate. Pada era krisis moneter dan era reformasi yang berjalan beberapa tahun terakhir ini, masyarakat Taduma telah melakukan pekerjaan yang sangat mulia yaitu mereka saling totong menolong dalam membangun rumah penduduk sudah lebih dari 35 buah semi permanen dan permanen termasuk rumah ibadah atau bangunan sosial seperti rumah guru, yang dibangun secara swadaya mumi masyarakat sejak tahun 1980 yang hingga saat ini masih berdiri tegak. Begitu juga dengan pembangunan Fala Soa (Rumah Adat) di Ave Beach (Pantai Ave) yang berukuran 14 x 9 meter persegi dibanguh masyarakat Aftador dengan biaya lebih kurang Rp, 200.000.000.

Budaya Bari telah berkembang di desa Taduma sejak tahun 1800-an yang diprakarsai oleh nenek moyang masyarakat Taduma dan bahkan pada perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, mereka bergabung dengan pejuang Temate lainnya mengusir penjajahan dari Bumi Moloku Kie Raha.

Bagi masyarakat Taduma, setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan apa saja yang dibangun dalam kerangka mensejahterakan orang lain dalam desa ini adalah sangat mudah, karena budaya “Bari” telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang ingin membangun rumahnya hanya menyiapkan bahan-bahan bangunan dan pada saat pembangunan tersebut dilaksanakan begitu banyak orang datang membantu tanpa dipanggil oleh para pemilik rumah tersebut. “

Tidak ketinggalan ibu-ibu membawa kebutuahan dapur sekaligus menyiapkan minuman ringan dan makanan seadanya. Kalaupun bahan yang disediakan masih kurang (belum cukup) ada sebagaian masyarakat yang memberi secara suka rela guna melengkapi kekurangan tersebut, sehingga sebuah rumah dapat dibangun dalam waktu yang sangat singkat yaitu sekitar 7 (tujuh) hari. Diawali dengan membuat fondasi sampai tutup atap (seng). Masyarakat yang secara suka rela datang membantu tidak mengharapkan upah atau gaji.

Begitu juga dengan kegiatan lain seperfi panen cengkeh, pala, atau yang lainnya. Budaya Bari ini tetap dikembangkan oleh masyarakat sehingga jika ada seorang pendatang menikah dan menetap di desa Taduma, serasa ingin tetap menetap di situ. Taduma dapat juga disebut Indonesia Mini karena pembauran yang hanya melihat pada manusianya terjadi di sini. Dengan kata lain adat se atorang sudah berjalan dan diterapkan di Taduma.

Kita berharap para pejabat negara dari atas sampai di bawah bekeja berorientasi uang sangat sulit untuk memakmurkan rakyat. Kita juga berharap semoga mereka bekerja sesuai makna bahasa “gotong royong” (Bari) yang sebenamya sehingga cita-cita leluhur negeri ini dapat tercapai.

* Penulis adalah pemerhati budaya Ternate, tinggal di desa Taduma Ternate.

Satu Tanggapan

  1. Nice post, its a really cool blog that you have here, keep up the good work, will be back.

    Warm Regards

    Biby Cletus – Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: