Menelusuri JEJAK SEJARAH Kekuasaan KESULTANAN TIDORE di Halmahera Selatan dan Tanah Papua

New Editing………(10 April 2009)…….
( Oleh : Busranto Abdullatif Doa – Admin )

Logo kesultanan Tidore

SEJARAH SINGKAT TENTANG TIDORE

Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, tepatnya di sebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, pulau Tidore dikenal dengan nama; “Limau Duko” atau “Kie Duko”, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung “Kie Marijang”. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu : To ado re, artinya, ‘aku telah sampai.

View of Tidore Island

(behind me, took from Ternate beach at Dufa-Dufa – near from my house)

“KIE SE GAM MA-GUGU MA-TITI RARA”, Ternatenese Philosophy

Narration By : Busranto Abdullatif Doa
Translated By : Bobato

Male and Female Philosophy

According to the view of the Ternate person the time previously, early of the beginning of the life was begun from two human nooses, that is the man and the woman, who were assembled in a household and produced the previous family next to the extended family that was mentioned “Marga” and continued to “Suku” and again bigger was concrete one ”Nation”. From the two men and this woman the birth of a community, then in the view of the Ternate person, the male noose and the very main woman was the beginning of a life so as the man and this woman became the main omen in the view of the traditional community in Ternate. Baca selebihnya »

“TUTEBA”, Sebuah Fenomena Baru Dalam Prostitusi di Ternate. (Opini Warga Ternate)

Oleh : Irza Arnyta Djafaar. (Alm)

Seorang gadis cantik dengan body aduhai berlenggak lenggok dengan dandanan yang cukup menor. Dengan gincu merah darah dan bedak tebal ditambah dengan celana jeans ketat dan blus kaos yang super ketat sehinnga memperlihatkan lekak lekuk tubuhnya yang cukup sexy itu, dia berusaha untuk menarik perhatian setiap lelaki hidung belang yang ada disekitarnya.

Swering (Tepian Pantai) di kota Ternate Baca selebihnya »

The Procession of ”JOU KOLANO UCI SIBEA” & The Idul Fitri Prayer in the Sultanate Mosque

Narration by : Busranto Abdullatif Doa
Photography by : Maulana
Translated by : Bobato

Every 1st date of Syawal and the date 10th Zulhijjah month in the Hijriah year, all Muslim group a world carried out Sholat Idul Fitri religious duties and Idul Adha. In spite of that for the available Muslim community in Ternate also had an obligation to carry out these religious duties after a month beforehand carried out the obligatory fast in the Ramadhan month.

Baca selebihnya »

“SONE MA-DINA / DINA SONE”, Tradisi Masyarakat & Acara Ritual Seputar Wafatnya Seseorang di Ternate

Oleh : Busranto Abdullatif Doa

Sejak agama Islam masuk dan berkembang di daerah Ternate dan sekitarnya (Jazirah Maluku Utara), maka berkembang pula syariat Islam di daerah ini, terutama penerapan syariat Islam yang pernah dilakukan oleh Sultan Zainal Abidin, raja Ternate yang ke-19 (1486–1500).

Sone ma Gunyihi

Terbentuknya masyarakat Ternate memang ada sudah jauh sebelum datangnya dan berkembangnya agama Islam di daerah ini. Berbagai tradisi lama masyarakat Ternate yang telah berlangsung ratusan tahun sebelumnya tidak serta merta ditinggalkan begitu saja, kecuali yang bertentangan dengan hakikat ajaran Islam, perlahan-lahan mulai ditinggalkan oleh pemeluk Islam di daerah ini. Terdapat beberapa tradisi lama yang sifatnya positif terus dipertahankan oleh masyarakat Ternate, terutama menyangkut kehidupan sosial berupa tradisi gotong royong yang dikenal dengan tradisi “Bari” ataupun “Lian”, termasuk tradisi saat hari meninggalnya seseorang. Baca selebihnya »