“THE HIDDEN HISTORY OF JAILOLO” (Menelusuri Jejak-Jejak Sejarah Kesultanan Jailolo)

Penulis : Busranto Latif Doa

Sumber Foto : Koleksi Pribadi

Suatu hal yang jarang dilakukan oleh para pemerhati sejarah dan budaya “Moloku Kie Raha” (Maluku Utara) adalah membahas tentang Kesultanan Jailolo di pulau Halmahera yang telah lama vacum. Hal ini disebabkan minimnya sumber dan referensi yang menunjang pembahasan tentang hal itu. Dalam penulisan sejarah oleh bangsa Eropa, Jailolo sering ditulis “Gilolo” yang menurut sebagian besar sumber barat dianggap sebagai cikal-bakal kerajaan-kerajaan berikutnya di kawasan Maluku bagian utara, (kerajaan pertama dan tertua di jazirah maluku).

penobatan-abdullah-syah-sebagai-sultan-jailolo2

Menelusuri dan membahas jejak sejarah kesultanan Jailolo, menjadi lebih menarik akhir-akhir ini, setelah dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi Sultan Jailolo yang dilakukan di dalam keraton kesultanan Ternate atas prakarsa Sri Sultan Ternate ; H. Mudafar Syah II pada beberapa tahun yang lalu. Yang lebih menarik lagi dari itu adalah menelusuri keturunan dan sisilah para raja Jailolo itu sendiri.

Sekedar info, bahwa beberapa peneliti sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia seperti ; Donald P. Tick gRMK (di Belanda), Christoper Buyers dan Hans Hagerdal hingga saat ini pun belum bisa membuat suatu tulisan atau buku yang membahas tentang jejak sejarah dan sisilah raja-raja Jailolo secara utuh dan mendetail. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan sumber dan referensi penunjang dalam merekonstruksi kembali fakta sejarah perjalanan kesultanan Jailolo. Sejauh ini, baru terdapat ahli sejarah ternama dari Universitas Indonesia Prof. DR. Richard Z. Leiriza yang sudah pernah membuat beberapa karya tulis tentang sejarah Raja Jailolo dalam meraih gelar Ph.D tahun 1990 dengan Dissertasi berjudul “Raja Jailolo dan Halmahera Timur: Pergolakan di Laut Seram di awal abad ke-19” (The King of Jailolo and Eastern Halmahera: Social upheavals in the Seram Sea during the early 19th century). Kemudian dipublikasikan oleh Balai Pustaka, tahun 1994.

juru-tulis-lamo's-paperBuku ini membahas secara detail tentang sepak terjang raja Jailolo yang berkuasa di Halmahera timur dan pulau Seram di Maluku Tengah. (yang menurut periodesasi versi saya adalah periode Kesultanan Jailolo Tahap II dan III saja). Karena yang dibahas oleh beliau adalah “hanya” kejadian atau tempos antara tahun 1811 hingga 1832 saja yang menjadi heavy-nya. Sedangkan kronologis perjalanan sejarah kesultanan Jailolo secara utuh dari raja pertamanya hingga saat ini, belum ada satupun ahli sejarah yang mengungkapkan “the hidden history” tersebut. Namun demikian, karya besar Prof. DR. Richard Z. Leiriza tersebut merupakan sebuah hasil kajian yang spektakuler yang belum pernah ditulis oleh siapapun tentang kronologis secara detail pada periode tersebut.

Salah satu buku yang juga cukup banyak menguraikan tentang sejarah Sultan Jailolo Tahap II (Muhammad Arif Bila) seorang Sangadji Tahane yang diangkat oleh NUKU dari Tidore untuk melengkapi keempat pilar MOLOKU KIE RAHA adalah karya besar ELVIANUS KATOPPO yang berjudul ; “NUKU, Sultan Saidul Jehad Muhammad el Mabus Amiruddin Syah Kaicil Paparangan alisa Jou BarakatiSULTAN TIDORE – (Riwayat Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Maluku Utara tahun 1780 – 1805)“.

Memang sumber dan referensi sejarah tentang kesultanan Jailolo sangat minim sekali. Namun demikian dari ratusan ribu penduduk Maluku Utara yang hidup saat ini, ternyata masih tersimpan dokumen sisilah keturunan raja-raja Jailolo (silsilah keluarga / marga / klan), yang ditulis pada selembar “old manuscript”.  Daftarf sisilah raja-raja Jailolo tersebut terdiri dari tiga bagian. Lembaran besar adalah uraian daftar sisilah yang skemanya diuraikan seperti “pohon terbalik” yang seluruh tulisan nama-namanya beraksara Arab, satu lembar lagi adalah salinan ulang yang juga dalam aksara Arab namun lebih diperinci dan diperjelas dengan melingkari tiap-tiap nama yang tertera karena lembaran aslinya sudah hampir lapuk, sedangkan satu lagi lembar kecil bertuliskan huruf arab dan yang berlafadz-kan bahasa Tidore adalah Surat Keterangan yang manjelaskan tentang daftar sisilah tersebut.

original-map-of-mine-since-18562Ketiga lembar bersejarah ini ditulis dalam aksara Arab dengan tulisan tangan bertanggal 4 Rabbiul awal 1277 H, yang saya hitung mundur berdasarkan kalender Masehi adalah bertepatan dengan hari Rabu tanggal 19 September 1860 yang ditulis tangan oleh Sekretaris Besar Kesultanan Tidore yang biasa disebut “Jurutulis Lamo” yang waktu itu dijabat oleh Hasan ud-din. Keterangan ini dilengkapi dan disahkan dengan bubuhan “tanda cap asli” kesultanan Tidore (bakar tempel – bukan tinta). Original paper-nya, saat ini ada di tangan keturunan ke-13 dari SULTAN DOA yang beranak pinak di Soa Sambelo kota Tidore.  Semula, selama hampir seratus tahun lebih daftar sisilah keturunan ini bersemayam di Fola Soa di Soa Sambelo Tidore, Para keturunan ini tersebar dimaNa2 di Maluku Utara, mereka semua meminta dirahasiakan identitas mereka.  Ada yang berdomisili di pulau Tidore (; Soasio-Sambelo, Toloa dan Mareku). Ada juga yang beranak cucu di pulau Moti, pulau Makian dan di Desa Gita dekat Payahe. Ada juga salah satu percabangan yang beranak cucu di Dufa-Dufa Pantai Ternate. Ada juga yang di pulau Seram dan Ambon.

Sebelum Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah dinobatkan menjadi Sultan Jailolo masa kini, para keturunan Sultan Doa yang tersebar di mana-mana ini seakan telah menutup diri untuk memikirkan “ke-Jailolo-an” nya. Bagi mereka itu semua adalah bagian dari masa lalu. Mungkin yang mereka pikirkan adalah; Cukup kami anak-cucu tahu bahwa nenek moyang kami memang berasal dari Jailolo, itu saja. Dan mungkin juga semboyan latin; “Ibi Bene Ubi Patria – yang berarti ; Dimana hidupku senang di situlah tanah airku” yang ada dalam pikiran mereka, Wallahu wa’lam. Hanya mereka yang tahu. Apalagi setelah dinobatkannya Sdr. Abdullah “Abdul Rahman Haryanto” Syah menjadi “symbol” kesultanan Jailolo modern, membuat ke-tertutup-an mereka semakin rapat. Mengingat hampir semua dari mereka tahu bahwa keturunan Sultan Doa hijrah ke pulau Tidore dan menjadi kawula kesultanan Tidore dan diberikan sebuah kawasan untuk membangun pemukiman (Soa Sambelo – Sabua ma belo) waktu itu adalah akibat dari pergolakan politik intern antar bangsawan di istana Jailolo ketika itu, beliau menyingkir meninggalkan takhtanya dengan tujuan menghindari perang saudara dan pertumpahan darah yang lebih dahsyat lagi yang bisa mengancam kelangsungan dan kehormatan Buldan Jailolo.

translate-to-latin-letterKembali pada pembahasan semula…,  Dokumen tentang sisilah raja-raja Jailolo ini dalam historiografi tentang kesejarahan Jailolo adalah sebuah dokumen langka yang sangat dibutuhkan dalam untuk dijadikan salah satu referensi (sumber otentik) dalam studi kajian tentang hal ini. Hampir semua sumber-sumber tentang sejarah yang berghubungan dengan Jailolo yang ada di Leiden Museum Belanda, Museum Swedia, Museum di Inggris, dan dokumen Oxford University dan dokumen digital milik Smithsonian Institute USA, tidak pernah diketemukan dokumen seperti ini.

Sebagai pemerhati budaya, tradisi dan sejarah Maluku Utara, saya sangat berminat untuk studi kajian tentang hal ini. Upaya untuk merekontruksi kembali fakta sejarah tentang perjalanan sejarah kesultanan Jailolo terus saya lakukan dengan menghimpun berbagai sumber tertulis baik di dalam negeri maupun sumber asing. Aspek subjektifitas yang mungkin masih ada pada masing-masing penulis sejarah termasuk pada saat ini saya dalam menyajikan artikel ini ke blog, diupayakan untuk diminimalisir sebisa mungkin, agar mencapai sebuah hasil kajian historiografi yang lebih objektif.

Beberapa saat yang lalu saya sering melakukan kontak dan sharing dengan dua orang peneliti sejarah kerajaan2 di Indonesia seperti yang sudah saya sebutkan di atas, yaitu : Donal P. Tick gRMK dan Christoper Buyers termasuk Hans Hagerdal (silakan searching nama-nama ini di Google Search) sehubungan dengan kajian tentang sejarah kesultanan Jailolo ini. Mereka banyak menulis tentang seputar kerajaan di Indonesia termasuk kerajaan Jailolo. Para ahli sejarah ini tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang sisilah raja-raja Jailolo yang saya kemukakan ini, termasuk keinginan mereka untuk meneliti berasal dari mana sisilah Sultan Abdullah Syah. Abdullah Syah diyakini adalah salah satu dari keturunan dari Prins Gugu Alam turun hingga ke Muhammad Asgar dan Hay ud-din yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur  pada tahun 1832. Untuk kerajaan-kerajaan di Maluku Utara, baru kesultanan Ternate yang sudah dipublikasikan melalui website Royal Ark dalam titel “Ternate, Brief History ”, sedangkan untuk kasultanan Tidore, Jailolo dan Bacan belum ada data lengkap untuk dipublikasikan.

Setelah sekian banyak komunikasi & sharing dengan kedua peneliti sejarah ini, saya mencocokan data ahli sejarah tersebut di atas dengan salinan “old manuscript” tersebut (lihat gambar), maka terdapat banyak kesamaan.

Dengan demikian menurut saya, untuk sementara disimpulkan bahwa; Muhammad Arif Bila (dalam sisilah tersebut ditulis Sultan Gugu Alam) adalah keturunan ke-8 dari Prins Gugu Alam. Prins Gugu Alam adalah nenek moyang keturunan kedelapan ke atas dari Sultan Gugu Alam alias Muhammad Arif Bila – Ada beberapa nama yang sama dalam sisilah ini, namun pada jenjang dan periode yang berbeda waktunya. Prins Gugu Alam adalah adalah adik bungsu dari Sultan Doa dan Prins Prentah. Mereka bertiga adalah anak dari Sultan Yusuf , Sultan Jailolo yang menjadi Sultan Jailolo di tanah Jailolo (Limau Tagalaya) sekitar tahun 1500-an, data tahun yang tepat belum bisa dipastikan.

view-jailolo-dari-pantai-dufa-dufa-ternateMenurut sumber ini, Muhamad Arif Bila memiliki 4 orang putera. Ayah dari Muhamad Arif Bila yakni Syah Yusuf (lain dengan Sultan Yusuf yang ayahnya Sultan Doa, beda periode) adalah bangsawan Jailolo yang hijrah ke pulau Makian di desa Tahane. Muhammad Arif Bila sebelum diangkat oleh Sultan Nuku dari Tidore untuk manjadi Sultan Jailolo I (pada periode kedua sejarah kronologis kesultanan Jailolo) beliau sebelumnya menjabat sebagai Sangadji Tahane. Setelah itu selama sekitar 13 tahun jabatannya meningkat menjadi Jogugu kesultanan Tidore pada saat berkuasanya Sultan Kamaluddin dari Tidore (1784-1797) yang tidak lain adalah kakak dari Nuku. Ketika Nuku baru menjadi Sultan di Tidore Muhammad Arif Bila adalah seorang panglima yang handal.

Setelah Nuku mengangkat Muhamad Arif Bila menjadi Sultan Jailolo I (sebutan menurut catatan dari sumber Belanda), tidak semua orang di pulau Halmahera (Utara) mengakui keabsahan dia sebagai Sultan Jailolo, lagi pula mereka yang mengklaim dirinya sebagai Sultan Jailolo ini (sejak tahun 1637 hingga 1918 saat dibuang ke Cianjur) mereka tidak pernah berkuasa di atas tanah Jailolo itu sendiri, melainkan hanya menjadi Sultan Jailolo di pengasingan saja seperti di Weda dan Halmahera belakang termasuk juga juga di pulau Seram.

view-jailolo-dari-bandara-babullah-ternate1Wilayah kesultanan Jailolo sudah dilebur menjadi wilayah Ternate sejak tahun 1635, sedangkan pada masa kekuasaan Sultan Nuku, bekas wilayah kesultanan Jailolo masuk dalam kekuasaan kesultanan Tidore. Muhammad Arif Bila wafat di daerah Weda pada tahun 1807 karena kecelakaan.

Putera tertuanya Muhammad Asgar diangkat oleh pengikutnya di Halmahera timur menjadi Sultan Jailolo II, pada periode ke-2 ini. Kronologis sejarah kesultanan Jailolo Periode I (pertama) berawal dari Kolano Pertama dan berakhir pada masa Sultan Doa yang memperistri putri dari Sultan Ternate Said Barakat, dan mendapatkan seorang putra bernama Haeruddin (Herr). (Sedangkan ayah Sultan Doa yang bernama Yusuf II dengan gelar Qodrat juga memperistri putri dari Sultan babullah yang bernama Boki Ainal Yakina. Anak keturunan Sultan Doa dari putranya Herr ini masih tercatat jelas dalam sisilah keturunan ini, mereka tersebar di hampir seluruh Maluku Utara, diantaranya; pulau Tidore – paling banyak (Soasio Sambelo, Mareku dan Toloa), pulau Moti, pulau Makian, pulau Ternate, dsb). Hal ini juga menjadi perhatian kedua peneliti tersebut untuk melakukan penelitiannya nanti di masa yang akan datang.

Pada tahun 1810 Muhamad Asgar ditangkap oleh penguasa Inggris karena Inggris yang sedang berkuasa saat itu tidak mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Kemudian pada tahun 1817 Muhammad Asgar diasingkan ke Semarang dan bermukim jauh dari keramaian kota Semarang yakni di sekitar antara daerah Semarang dan Jepara.

gunung-jailoloTahun 1825 setelah Belanda kembali berkuasa setelah Inggris, ia dikembalikan lagi ke Maluku Utara dan diangkat oleh penguasa Belanda seperti sebelumnya sebagai Sultan Jailolo dalam pengasingan namun berkedudukan di pulau Seram Maluku Tengah. Adik Muhammad Asgar yakni Kaicil Haji beserta pengikutnya menyusul ke pulau Seram dan akhirnya diangkat Belanda menjadi Sultan Jailolo III dengan nama kebesaran; Sultan Syaif ud-din Jihad Muhammad Hay ud-din Syah.

Karena perselisihan dengan pihak Belanda, akhirnya Sultan Jailolo III ini bersama dengan Jogugu Jamaluddin, Kapita laut Kamadian beserta seluruh keluarga berjumlah 60 orang diasingkan Belanda ke Batavia kemudian ke Cianjur. Beliau wafat pada tahun 1839 di Cianjur Jawa Barat. Akhirnya eksistensi kesultanan Jailolo Tahap III inipun berakhir. Dan Maloku Kie Raha tinggal hanya 3 kesultanan saja, yaitu Ternate, Tidore dan Bacan.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bahwa menurut asumsi saya, kemungkinan dari keturunan inilah, penelusuran dilakukan oleh Sri Sultan Ternate saat ini untuk memilih Abdullah Syah bin Abdul Haryanto dan mengangkatnya menjadi Sultan Jailolo sekarang, adalah berasal dari keturunan di Cianjur ini. Untuk hal ini saya belum sempat melakukan wawancara dengan Sultan Ternate. Selain itu, penunjukan Sultan Jailolo ini juga dilakukan dengan ritual khusus oleh Sultan Mudafar Syah II dan memakan waktu yang cukup lama. (biasanya orang Ternate menyebut Sultan Jailolo dengan sebutanKOLANO JOU TIA”).

abdullah-syah-sultan-jailolo-sekarangHal ini tergambar dalam syair lagu yang berjudul “JOU TIA” hasil karya Sultan H. Mudaffar Syah yang dinyanyikan oleh “EL-ELVocal Group pada era tahun 1980-an.

Upaya untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo Tahap IV, pernah dilakukan oleh Dano Baba Hasan pada tahun 1876. Ia meminta pemerintah Belanda mengakuinya sebagai Sultan Jailolo. Menurut beberapa penulis, Dano Baba Hasan adalah kerabat keraton Ternate yang pada tahun 1832 diangkat oleh Sultan Ternate Muhammad Zain menjadi Salahakan (Utusan Sultan) di pulau Seram. Tanggal 21 Juni, Dano Baba Hasan mengakhiri usahanya dan menyerahkan diri kepada Residen Tobias, dan dideportasi ke Ternate dan akhirnya diasingkan ke Muntok di Sumatera. Merunut dari sisilah tersebut, Dano Baba Hasan adalah cucu dari Abdul Gani, saudara bungsu dari Muhamad Asgar dan Muhamad Hayuddin yang dibuang ke Cianjur tersebut.

Setelah periode untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap IV gagal, Upaya untuk itu dimulai lagi yakni pada Periode Jailolo Tahap V dilakukan oleh Dano Jae ud-din di Weda dan Waigeo di Halmahera Timur pada tahun 1914. Seorang Dano dari Ambon yang masih keturunan Dano Baba Hasan mengklaim dirinya sebagai ahli waris, memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Jailolo pada periode Tahap V ini. Ia kemudian ditangkap Belanda dan dipenjarakan di Ternate hingga akhir hayatnya. Demikian berakhir pula usaha untuk menghidupkan kesultanan Jailolo Tahap V juga gagal.

Perlu digaris-bawahi, bahwa semua upaya untuk menghidupkan kembali eksistensi kesultanan Jailolo dan berkuasanya para Sultan Jailolo pada periode II, III, IV dan V, sama sekali bukan berkedudukan di wilayah kesultanan Jailolo yang sebenarnya (Limau Tagalaya), melainkan di tempat pengasingan di luar wilayah kultur kesultanan Jailolo itu sendiri.

Upaya terakhir untuk menghidupkan kembali Kesultanan Jailolo Tahap VI, maka Sri Sultan Ternate H. Mudafar Syah II mengambil prakarsa untuk menghidupkan kembali kesultanan Jailolo yang telah hilang selama ratusan tahun. Hal ini dilakukan dalam rangka mempertahankan eksistensi budaya Maluku Utara sebagai symbol pemersatu bangsa dalam wadah NKRI dan juga dalam rangka untuk melengkapi empat pilar persekutuan kerajaan-kerajaan di “Maloku Kie Raha” yang hanya tinggal tiga, yakni; Ternate, Tidore dan Bacan. Dengan menunjuk Sdr. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah, seorang mantan tentara yang menurut penelusuran beliau adalah keturunan Muhammad Asgar dan Kaicil Hadji yang dibuang oleh Belanda ke Cianjur Jawa barat.

Sebab semua masyarakat di Maluku Utara tahu kalau cuma ada tiga pilar/kesultanan saja, itu bukan berarti Maloku Kie Raha lagi, akan tetapi Maloku Kie Ra’ange. (Admin; Raha=empat, Ra’ange=tiga).

Demikian beberapa sharing saya melalui email dengan kedua penulis asing tersebut. Pada kesempatan terakhir via e-mail, Mr. Donal P. Tick gRMK, meminta kapada saya gambar/foto diri dari Dano Jae ud-din jikalau ada dokumen tentang itu. Tapi saya rasa sulit untuk mendapatkan gambar tentang Dano Jae ud-din yang mereka maksud. Beliau tertarik untuk meneliti pula tentang keturunan dari Dano Jae ud-din ini, kata Mr. Donal P. Tick gRMK menulis dalam e-mail nya :

Interesting about the descendant of Dano Baba Hasan with name Dano Jae ud-din, who was regarded as dynastychief / heir in 1914. Do you know more about him ? A picture of him would be fascinating. I also would like to know, if the present Sultan is taken very seriously. Some say he is only a creation of Sultan Ternate”. Thank you for all. If you want, you can add some info under the picture of Sultan Jailolo on my website at : http://kerajaan-indonesia.blogspot.com”.

Namun sayangnya, pada event SOUTH EAST ASIA ROYAL FESTIVAL di Bali pada tanggal 25-30 November 2008 yang lalu Mr. Donal P. Tick gRMK tidak sempat hadir karena ada mega proyek yang tidak boleh ditinggalkan di Belanda, sehingga rencana kami untuk bertemu muka juga tidak terlaksana. Hal ini sehubungan dengan minat kedua peneliti ini untuk mengungkap apa yang mereka sebut ”The Hidden History of Jailolo”.

Sources :

1. Forrest, Thomas. 1780 (1779) A Voyage to New Guinea and the Moluccas, from Blambangan ; Including an Account of Mangindanao, Sooloo, and Other islands; and Illustrated with Thirty Copperplates. Performed in the Tartar Galley, Belonging to the Honourable East India Company, During the years 1774, 1775 and 1776. 2nd Edition. J. Donaldson, G. Robinson and J. Bell.

2. Royal Ark Website, by ; Christoper Buyers

3. Old Manusscript, Personal document from the descendants of Sultan Doa at Soa Sambelo Tidore and also at the descendant in Ternate Island.

4. Some Contribution and some descriptions from Mr. Donad P. Tick gRMK (Netherland), based on the source from the list of the genealogy Jailolo Sultanate, the collection Coolhaas in the Nationaal Archief in Den Haag / the Netherlands.
Source of information is almost the same as the list of genealogy of the descendants it Ternate island today. (see it on the picture).

=Sumber tambahan adalah dari kontribusi dan beberapa penjelasan dari Bapak D.P. Tick gRMK, di Hoillad Belanda berdasarkan sumber dari daftar yang silsilah Kesultanan Jailolo, koleksi Coolhaas dalam Nationaal Archief di Den Haag / Belanda. Sumber informasi tersebut hampir sama dengan daftar silsilah dari keturunan Sultan Doa yang ada di Fola Soa Sambelo di Tidore dan salinannya yang ada di sebagian keturunan yang sudah beranak-pinak di pulau Ternate, Moti dan di Ambon. (lihat pada gambar).

====================================================================

Bahasan tentang hal ini belum pernah dipublikasikan & dibahas oleh siapapun sebelumnya, dan hanya ada di blog ini……

Pernyataan di atas adalah bentuk “klaim” atas “the value of my personal study of history” dari saya selaku penulis artikel ini. Tidak dilarang untuk “mengutip” semua isi artikel ini, asalkan menyertakan sumber utamanya, yakni dari blog ini…!

Semoga tulisan ini menjadi pemicu kepada semua kalangan yang ingin melakukan “penelitian lanjutan” di masa yang akan datang. Ditunggu tanggapan-tanggapannya, baik “destruktif” maupun “konstruktif”, silakan masukan di bawah artikel ini….. Terima kasih…..!

Jakarta, 20 Maret 2009.

About these ads

32 Tanggapan

  1. Salam basudara….

  2. Ass…. Saya walaupun tdk pernah besar di Jailolo, namun sy tdk pernah pungkiri klu sy pun slh satu keturunan dr Kesultanan Jailolo walaupun kami hidup di Papua… Wasalam…

  3. @…Yth, : http://Manuru@rocketmail.com/ alias (Cinga-Cinga Gasa Manuru)

    Sebenarnya daftar silsilah yang dilampiri dalam artikel ini cuma ilustrasi referensi dalam penulisan ini saja. Sebenarnya itu bukan daftar silsilah para raja-raja Jailolo tapi silsilah keluarga besar kami, yang berurutan dari sejak moyang datuk kami Syailillah Jou Kolano Tarkibun yg adalah merupakan kakek buyut dari Sultan Doa (tercatat jelas dalam silsilah keluarga ini), dan kebetulan didalamnya silsilah keluarga ini juga terdapat nama-nama dari beberapa yang pernah tercatat sebagai raja-raja di Jailolo. Persoalan Sultan Doa itu dari Tidore atau dari Jailolo sendiri seperti yang anda sebutkan itu, sebenarnya bukan masalah bagi kami sebagai anak cucunya. Sekedar supaya Sdr Cinga-Cinga Manuru tau, bahwa persoalan siapa yang berhak atau siapa yang mau jadi di Jailolo sekarang ini, itu kami tdk ikut2an campur ke dalam walau sesungguhnya bagian juga dari itu. Toh sudah sejak 13 generasi yang lalu datuk moyang kami telah menyingkir ke Tidore dikarenakan hal itu. Dan bobeto dari datuk moyang kami itu masih terngiang2 di telinga setiap anak cucu kami-kami ini, bahwa ; “ngon ngofa dano tike ena aku uwa, tapi kalo iharo se gugaro, tolak ena mai aku uwa, kodrat se iradat i uci pilih ma manusia, bara daula madadi madehe sisioko”. Kira-kira begitu bobeto datuk moyang kami yang disampaikan secara turun-temurun daro orang2 tua kami dan akan terus kami teruskan ke anak cucu kami sampai kapanpun, karena itu amanah leluhur kami yang bermarga Doa. Sebenarnya kamitdk pernah pake embel2 nama Doa di belakang nama, (biasanya disembunyikan), tapi di media sosial ini sengaja saya gunakan untuk menamukan keturunan Doa yang sudah tersebar dan beranak pinak dimana2, dan alhamdulillah, berkat nama marga yang saya gunakan di belakang nama saya ini, akhirnya ditemukan dan terjalin kembali talian darah, hinggga ada paguyuban khusus dengan program “Arisan Keluarga Besar Marga Doa” baik di Tidore, Ternate, Moti, dan di Jakarta. (ada hikmahnya bagi saya).

    Dengan masih tersimpannya dan adanya manuscript kono berbentuk lembaran daftar silsilah keluarga keturunan dari Sultan Doa ini, kami anak cucu genarasi hingga ke-12 dan ke-13 yang hidup di zaman ini, cukup tahu saja bahwa moyang kami berasal dari sana. Itu saja. Dan surat bertulisan arab dengan lafad bahasa Tidore dan bertanggal 4 Rabbiul awal 1277 H, (Rabu, 19 September 1860) yang ditulis tangan dan diberi cap kerajaan Tidore oleh Tuli Lamo kesultanan Tidore (Hasan ud-din) tersebut jelas-jelas telah menerangkan kata per kata bahwa Soa yang ke-9 yang ada di Soasio Tidore (Soa Sambelo) adalah orang eksodus yang berasal dari kalangan dinasty Jailolo yang rela menyingkir meninggalkan takhta demi keutuhan dan keselamatan buldan Jailolo yang bergolak karena perebutan takhta saat itu.

    Sebagai penikmat sejarah dan pemerhti masalah budaya dan sejarah MKR, tidak ada salahnya menelusuri jejak-jejak datuk moyang kami sendiri, silsilah keluarga sendiri, namun dengan sangat menyesal telah melampirkan daftar silsilah keluarga besar Doa yang seharusnya bukan untuk konsumsi publik, namun sudah terlanjur saya muat sebagai ilustrasi dalam tulisan di atas, walau begitu, saya sengaja menguploadnya dengan ukuran pixel yg kecil agar bila di download atau zoom oleh orang, pasti tidak akan terbaca jelas tulisannya. Dan memang sengaja dibuat begitu oleh saya.

    Saya sudah sering melakukan ziarah ke keramat leluhur kami di Gamlamo dan Porniti seperti yg anda ceriterakan itu. Dan itupun ditemani oleh beberapa Joguru (Imam mesjid Gamlamo dan Imam Mesjid Jalan baru) di Jailolo, karena ada doa khusus yang dibacakan bila diziarahi langsung oleh anak cucunya (ada lefo khusus yang menurut mereka hanya boleh dibaca isinya pada saat diziarahi oleh anak cucu langsung dari pemilik keramat itu).

    ~ @ Begini saja, jika anda (Cinga-Cinga Manuru) punya sumber lain yg lebih akurat, silahkan tayangkan atau buat tulisan sebagai pembanding, agar kita semua termasuk saya juga tahu, (maaf) jangan cuma hanya dapat referensi pinggir jalan trus berspekulasi menjustice suber saya ini dengan dasar argumen yang belum tentu valid (maaf). Saya juga percaya dengan referensi-referensi dari aspek kosmo-mistis, anda tentu tahu maksud saya ini. Bila anda pernah dengan nama Hj. Zubaedah yang tinggal di jati (Jerbus nae2 kadara) pasti anda tau salah satu versi lain tentang hal yang sedang kita bicarakan ini. Begitu pula bila anda pernah dengan nama Abah Arafane yang tinggal di Porniti, dari ungkapan beliau terdapat sebuah versi pula.

    Setahu dan seyakin kami, bahwa “Kolano Jailolo” (Jou Tia) itu tak akan ke mana2 dan tak akan pernah hilang sampai akhir zaman, Ia hanya bersembunyi dalam kegaiban di alam ism’ qodrat. Jika memang yang asli dan hak, pasti akan muncul sendiri pada saatnya tanpa perlu dicari kesana kemari atau diperdebatkan, namun jika bukan tapi dipaksakan untuk jadi, maka arwah leluhur pemilik dari alam bahrun furuah dan bahrun nubuwah sana tidak meridhoi, dan alampun ikut menyeleksinya dan jatuh bagai daun berguguran tanpa angin (rau majiri). Tidak perlu dan sebaiknya tidak usah diperdebatkan ini dan itu.

    Jika anda penasaran dgn daftar silsilah yg dilampirkn sebagai ilustrasi dalam artikeldi atas berasal dari mana? Jawabannya adalah berasal dari warisan leluhur kami yang masih tersimpan baik di Fola Soa Sambelo (kota Soa Sio) Tidore. Inti dari manuscript kuno ini adalah silsilah keluarga besar Soa Sambelo yang cikal bakal berasal dari keturunan Sultan Jailoloyang tereksodus ke pulau Tidore menjadi kawula kesultanan Tidore sesuai penjelasannya dalam lembaranyang bertulisan arab dan berlafaz Tidore dalam foto ilustrasi yg saya upload di atas, (lembaran diterjemahannya juga ada). Sekali lagi ini buka daftar silsilah kesultanan Jailolotapi daftar silsilah keturunan Sultan Doa salah satu kolano Jailolo. Semoga Cinga-Cinga Manuru bisa paham maksud saya ini.

    Demikian klarifikasi dari saya selaku penulis artikel. Terima kasih atas tanggapan dari anda pada artikel ini. Wassalam….

  4. Sya putra jailolo anak cucu dari muhammad bessy doa menghibau.. Kalu bisa sejarah jailolo jngan lah di putar balikkan ungkapkan yg sebenar2nya.. Dan kepada keluarga sya dan saudara2 sya mari jngan qta tinggal diam dngan kampung halaman qta,walupun se’enak dan senikmat apapun hidup qta di perantawan..ingat orang tua2 qta di tanah kelahiran datang dan bangunlah negri mu..dapat hub sya di 0818-08061560

  5. Assalamu Alaikum…….
    Anto… Bukankah ternate dan tidore pernah berebutan untuk penguasaan tanah jailolo ?
    Bukankah dari perebutan itu ke 2 kesultanan ini, masing-masing pernah menguasai jailolo ?

    Saya pernah jiarah ke kuburan tua di jailolo yang bermarga Do’a seperti marga anda.
    Dari hasil penelusuran dan sumber lokal yang saya temui, Para Ahli Kubur ini merupakan orang2 yang ditunjuk oleh Kesultanan Tidore sebagai Sangadji Tidore di jailolo, kemudian diangkat menjadi sultan-sultan jailolo yang nota benenya berasal dari tidore dan makian untuk menjalankan dan mengamankan kepentingan kesultanan tidore di jailolo.

    Begitu juga dengan sebutatan Limau Tagalaya :
    Tagalaya adalah nama seorang lelaki yang berasal dari keturunan (anak) Jogugu Kesultanan Ternate yang bernama Jogugu Maswara bermerga Madjid.
    Tagalaya melarikan diri karena dikejer dan akan dibunuh pada masa itu, beliau melarikan diri ke seputaran Halmahera barat sampai Halmahera timur yang kemudian dari jejak tempat persembunyiannya itu dinamakan Tagalaya sebagaimana nama beliau.

    Kiranya dari uraian tapak tilas Kesultanan Jailolo yang telah disajikan lengkap dengan copy-an silsilah pohon terbalik. Jika tidak keberatan, saya ingin tau dari mana asal muasalnya ?
    Karena menurut saya cukup ganjil jika Silsilah Kesultanan Jailolo disahkan dengan stempel dari Kesultanan Tidore, karena itu sangat jelas pembuktikan penguasaan Tidore di tanah Jailolo dan akan lebih mengaburkan Sejarah Kesultanan Jailolo itu sendiri.

    Sekian dan hanya sekedar shering dari saya, mohon maaf jika ada kesalahan penulisan saya. Suyukur dofu-dofu.

    “Mari Tengo” Gam Madihutu Toma Jiko Ma Lamo.

  6. Aslamualikum….. bapk busranto yg terhormat.. trimh kasih atas tulisannya,, saya cmn ingin tahu apakah ada catatan sejarah atau manuskrip yg mengenai masjid kesultanan jailolo..? klu ada tolong di tulis,,,, soalnya saya skarang lagi meneliti objek tersebut ……….

  7. Alhamdulillah akhirnya sy menemukan tulisan yg luar biasa. Saya Agus Hendratno, Dosen Geologi UGM Yogyakarta. Pd 29 September 2012 kemarin, dlm kunjungan silahturohim sy ke Maluku Utara, setelah ziarah ke Makam Sultan Baabulah di Formadiyahi, juga makam keramat dari Ternate, sy berkunjung ke Kedaton Jailolo di tepian pantai dan kaki Gunung Jailolo. Lumayan jauh dan capek, krn sering bertanya, sementara sy sbg orang Yogya berbahsa Indonesia, jadi cukup sulit tanya tanya di daerah Gamtala. Akhirnya sampailah sy di Kedaton Jailolo, pd jam 11 wit, diterima orang dalam kedaton. Sy berniat silahturahmi dan sedikit diskusi, namun Sultan Abdullah Syah sedang barbaring sakit. Sebagai Muslim, sy pun mendoakan beliau dan kemudian ziarah di makam keramat Kasultanan Jailolo. Sy sangat kaget, kenapa jejak jejak bangunan Kasultanan Jailolo nyaris rusak bahkan minim sekali, atau krn ketidak.tahuan sy sbg orang yg tidak menekuni sejarah. Sbg geologist yg sgt suka membaca sejarah dan budaya masa lalu, rasanya prihatin melihat kondisis kedaton Jailolo yg katanya tidak terawat selama ada kerusuhan internal di Maluku bbrp tahun lalu, yg mengakibatkan keluarga kasultanan jailolo harus diungsikan dg Kapal TNI AL keluar dari Jailolo??? Semoga Sultan Abdullah Syah sagera sembuh lahumul Alfatehah….
    Terima kasih blog ini sbg bacaan yg kaya akan niliai history. …

    Salam, agus hendratno, yogyakarta

  8. Semoga nanti mendapat alur yang jelas mengenai kesultanan jailolo, tapi niatkan untuk kebaikan ya.wasslmkm

  9. Terimakasih kepada Kanda Busranto..
    tulisannya sangat menarik.. salutt..
    penelusurah sejarah Jailolo dan eksistensi masyarakat di semenanjung teluk Weda hingga Maba sangat menarik untuk ditelusuri. dari beberapa sumber saya menemukan informasi tentang exsodusnya sultan/raja Jailolo ke seram dengan membawa hampir 3000 orang suku sawai bersamanya. situs jejak sultan jailolo terdapat dibeberapa lokasi seperti di dalam Telaga Sagea Weda dan di depannya dengan sebutan Bobane Jailolo, nama gua boki maruru dan nama selat di depan tanjung Ngolopopo Patani dengan nama selat jailolo.
    saya sangat tertarik untuk mengumpulkan referensi tentang Raja Jailolo dan Suku Sawai serta peranan mereka dalam kesultanan jailolo sendiri.
    Berbeda dengan suku Tobelo-Tobaru di utara halmahera yang mayoritas Nasrani, Suku Sawai lebih didominasi muslim yang taat. dalam berbagai ritual budaya juga sangatlah jauh berbeda dengan ritual budaya yang ada baik di Kesultanan Tidore maupun Ternate sendiri. wallahu a’lam

  10. saya bingun dengan kelakuan sultan ternate yg bisa melantik sultan jailolo kok aneh sultan lantik sultan

  11. Injo……..

  12. Ass.. Yth, Sdr. Anwar Do Dasim; (joice.kalalo@ymail.com)

    Syukur dofu2 atas kunjungan dan apresiasinya terhadap blog saya ini.
    Menjawab pertanyaan Sdr; Apa pantas tuala lipa yg saya pake itu pantas ? Saya menjawab bahwa PANTAS karena di foto itu saya sebagai pengantin pada hari pernikahan saya sendiri pada bulan Septrember tahun 2003.

    Maksud Sdr tentang TUALA LIPA WARNA PUTIH itu hanya boleh digunakan oleh KALANGAN JOU & DANO2 saja seperti derajat DANO yang Sdr pake di belakang nama Sdr, dan tidak bisa oleh orang yang bukan keturunan.

    Busana pengantin yang saya pakai bserta penutup kepala (tuala lipa) pada hari pernikahan saya seperti yg terlihat dalam foto di atas BUKAN WARNA PUTIH POLOS (seperti yg mungkin dipakai oleh Sdr), tapi yang dikenakan kepada saya saat itu adalah WARNA SILVER (bermotif kembang yg warnanya senada/mengkilap). Pakaian pengantin yang kenakan pada hari pernikahan dalam foto di atas adalah milik salah satu perias pengantin daerah Ternate Sdri. Putri Djohra Malamo (alias ibu Lalang Alaodin Disie) yang datang bersama keluarga besar saya dari Dufa-Dufa pantai Ternate pada acara pernikahan saya di Jawa Tengah. Dan saya bangga karena walaupun menikah di tanah Jawa tapi masih sempat mengenakan busana adat pengantin Ternate yang dibawa oleh keluarga dari Ternate. Pakaian pengantin milik ibu Lalang yang saya kenakan ini mungkin sudah puluhan bahkan ratusan orang pengantin pria juga sudah mengenakannya pakaian dan tuala lipa ini di Ternate yang dirias oleh ibu Lalang sebelum atau sesudah saya kenakan.

    Filoosfi pengantin dengan busana adat yang dirias secara istimewa agar menjadi gagah dan cantik adalah karena pasangan pengantin adalah RAJA SEHARI, dan saya kira hal itu berlaku dalam adat istiadat mana saja di Nusantara ini. Pakaian khusus yang dikenakan raja sehari ini adalah pakaian kebesaran adat istiadat daerah si pengantin berasal, dan hanya digunakan pada hari H perkawinan saja bukan setiap hari atau setiap saat dalam acara2 adat tertentu. Mungkin mereka menggunakan pakai adat seperti ini sekali seumur hidupnya, termasuk saya. Dan kalo diperkenankan & boleh menjelaskan, bahwa sekali lagi BUKAN TUALA LIPA PUTIH POLOS yang dikenakan oleh para pengantin pria dalam acara pernikahan mereka, tapi warna lain. Sdr mungkin pernah melihat ada yang berwarna, kuning keemasan, warna biru, warna merah, an juga ada warna silver seperti yang saya kenakan dalam foto profil yang kita bicarakan ini.

    Saya berusaha memahami kegelisahan Sdr yang nota bene berasal keturunan Dano2 kesultanan Ternate. Saya bukan berasal dari golongan Dano2 Ternate tapi kami masih tercatat sebagai bagian dari Jailolo yang juga pantas mengenakan itu di jajaran Jailolo. Karena filosofi tuala lipa bubudo Moloku Kie Raha berlaku sama di empat kesultanan tersebut. Dan saya yakin ibu Lalang juga sudah memahami hal ihwal tentang filosofi tuala bubudo yang Sdr maksudkan itu sehingga beliau tidak pernah mengenakan rancangan busana bubuo ke sembarang orang. (sekali lagi yang saya kenakan dalam foto di atas bukan bubudo tapi silver). Dan saya dalam hal ini hanya sebagai pengguna sehari dalam prosesi perkawinan saat itu yaitu berperan sebagai raja sehari yakni “Pengantin Pria” bukan dipakai seterusnya seperti Sdr yang berasal dari golongan Dano2.

    Jika memang menurut Sdr hal tersebut salah dan tidak berkenan, saya mohon maaf. Silahkan Sdr konfirmasi ke seluruh perias pengantin se kota Ternate atas koleksi busana pengantin yang mereka miliki untuk disewakan.

    Wassalam
    Busranto Latif Doa, (Admin)

  13. Ass….
    Ana salut deng ente atas inisiatif mempublikasikan sejarah Maluku Utara……….
    Sekedar intermezo sebagai orang yang tahu sejarah apa ente tau makna filosofi Tuala Lipa yang ente pake ??? Apa pantas topi itu ente pake ? Karena berdasarkan aturan adat topi itu hanya dikenakan oleh keturunan langsung dari kesultanan dan bukan dari kalangan biasa….atau mungkin ini hanya sekedar gagah2an….
    Thanks B4…….!!!

  14. slamat buat kel besar di ternate haltim

  15. Assalamu Alaikum wr wb.
    Sobat, ana se7
    Kalau misalkan ada “dilakukan survey secara ilmiah ke masyarakat Jailolo untuk mengukur sejauh mana kadar nilai “pengakuan” dan “keabsahan” terhadap figur Sultan Jailolo moderen ini”
    Karena mungkin tepet pepatah ini,
    sangatlah naif kalau gajah didepan mata tidak terlihat tetapi semut diseberang pulau yang nampak…..^_^…..
    Setau ana, figur yang lebih tepat untuk mengisi kekosongan salah satu pilar besar maluku utara dari keturunan sultan jailolo terdahulu-pun masih bernapas (hidup) di jalolo itu sendiri. tepatnya di desa gufasa.
    Seperti dorobololo sang bagida
    “telur berada atas dadar karena nasi kuningnya yang menopang untuk telur itu berada diatasnya”
    Arinya, seorang kolano itu ada kalu ada bala, kusu se kano-kano.
    Mungkin itulah realita yang tergambar oleh masyarakat jailolo untuk sri sultan jailolo moderen ini.

  16. Sebagai orang Moloku kie Raha, ma gugu toma adat se atorang siapa pun dia. berbuatlah untuk moloku kie raha untuk torang samua agar selalu menjaga kesultanan Moloku Kie Raha tetap berjalan sesuai dengan cita – cita para leluhur.
    nora bololo : kie rutu ma gam jaha ruko ma dero ira ma dero se tiki se budi koa la kodiho doka sosira.

  17. Buat : Ello di Belakang RRI Ternate,
    Thanks atas kunjungan dan komentarnya.

    Menanggapi kembali pernyataan anda pada kolom komentar di bawah, saya terpaksa harus menguraikan agak panjang lebar nih….!
    Saya mengutip kembali pernyataan anda sbb : “Menurut saya, yang saya tau masyarakat khususnya di Jailolo, mereka sangat tidak menghargai Sultannya yang sekrang ini… mereka berpikir bahwa menurut orang tua2 bahwa Sultan nya sudah tidak ada lagi…”

    Memang itu realita yang ada di masyarakat Jailolo saat ini. Namun demikian perlu dicatat bahwa tidak semua masyarakat Jailolo memandang “Sdr. Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah” sang sultan Jailolo baru ini seperti begitu, masih ada segelintir yang tetap menghargai kedudukan beliau sebagai Sultan Jailolo. Bila kita ingin mengetahui berbicara tentang hal ini, haruslah dilakukan oleh lembaga survey secara ilmiah ke masyarakat Jailolo untuk mengukur sejauh mana kadar nilai “pengakuan” dan “keabsahan” terhadap figur Sultan Jailolo moderen yang tidak tahu berbahasa daerah (Ternate) ini. Banyak dari mereka (orang2 Jailolo) yang sempat bersuara sinis, pernah mengatakan bahwa :
    “…Beliau bukan keturunan ASLI yang semestinya berhak mewarisi takhta sebagai Kolano Jou Tia, beliau diangkat menjadi Sultan Jailolo atas rekomendasi besar dari Sultan Ternate Mudaffar Syah beberapa tahun yang lalu. Sesuai catatan sejarah beliau berasal dari keturunan Muhammad Arif Bila dan Muhammad Asgar yang tidak pernah menduduki takhta kesultanan Jailolo di tanah Jailolo itu sendiri (Limau Tagalaya) melainkan hanya sebagai “Sultan Boneka” oleh politik Nuku dan strategi Belanda yang ditempatkan di wilayah pengasingan di Halmahera belakang (Weda, Maba, pulau Seram). Pemahaman seperti ini mungkin masih melekat dalam masyarakat Jailolo, sehingga mereka masih tetap menganggap bahwa Kolano Jou Tia memang sudah lama telah tiada, ini berarti bahwa belum ada “pengakuan” terhadap Abdullah Syah. Menurut daftar sisilah keturunan Sultan Doa yang masih terpelihara hingga kini, dan disinkronkan dengan beberapa catatn sejarah yang terpotong-potong disimpulkan bahwa nenek moyang “Abdullah Syah” berasal dari kedua adik Sultan Doa, yaitu Kaicil Prentah dan Kaicil Gugu Alam, alur dan garis keturunannya sangat jelas dalam daftar sisilah keturunan yang menjadi obyek penelitian saya & Mr. Donald P. Tick, beberapa tahun terakhir ini.

    Dari kacamata sejarah, saya berusaha memandang secara objektif, sedangkan masyarakat Jailolo (masyarakat adat) mungkin juga memandang seperti itu. Mungkin hal itu yang ada di kepala mereka orang2 Jailolo yang anda maksud pada komentar anda tersebut.

    Demikian sharing saya atas komentar anda pada artikel ini.
    Bila ingin menyanggah kembali dipersilahkan, juga kepada pembaca yang lain…!

    Catatan :
    Untuk penanya sebelumnya saya membenarkan bahwa nama raja Jailolo yang terkenal dalam catatan sejarah, yakni KATARABUMI adalah bukan gelar, tapi nama sebenarnya yang dilafadzkan secara berbeda, karena dalam daftar sisilah tersebut terdapat nama salah satu Sultan Jailolo, dengan nama kebesaran ; Syailillah Jou Kolano TARKIBUN. Saya berasumsi bahwa dari nama Tarkibun inilah yang ditulis oleh beberapa penulis asing dengan lafadz Tarakabumi.

  18. Menurut saya, yang saya tau masyarakat khususnya di Jailolo, mereka sangat tidak menghargai Sultannya yang sekrang ini… mereka berpikir bahwa menurut orang tua2 bahwa Sultan nya sudah tidak ada lagi…
    Saya pernah satu kapal dengan beliau (Sultan Jailolo) dari Jailolo ke Ternate dimana di dalam kapal orng2 Jailolo hanya membiarkan beliau begitu saja… tidak sama dengan Sultan Ternate, Tidore yang rakyatnya sangat menghargai Sultan2nya… saya asli orang Ternate karena saya tahu adat se atorang saya dan sodara2 saya “suba” semacam menyembah (menghormati Sultan) beliau (Sultan Jailolo) terlihat kaget karna beliau waktu masih di pelabuhan tidak ada satupun rakyatnya “suba” kepada beliau… disini lah saya melihat bahwa rakyat Jailolo tidak menghargai jerih payah Sultan Ternate yang telah menggangkat Sultan Jailolo kembali… thanks atas info nya yang sangat bermanfaat…

  19. Dear, Mister Busranto
    Saya mau tanya pakah Bapak biasa memberikan nama-nama leluhur dari fam Sangadji di Ternate dan desa mana saja fam Ternate berada
    terima kasih banayak.

  20. kayaknya situs ini bagus..cerita sejarah..
    tapi menurut primbon ..klo kolano Zain ali Abidin ( ibu boki)itu saudara tiri dengan kolano yusuf (ibu sangaji sahu)..kemudian terjadi perebutan kekuasaan oleh keduanya..yang satu mati (zaenal abd)..kepalanya di penggal di sekitar pantai guaemaadu…kemudian kepla hanyut di satu pulau (jere dofolo)..dan badannya di jailolo /jere badan(desa……..)…
    *trus kolano pertama adalah raja ahmad ( ahmad syeh malamo)…bawa kerajaan dari moti ke satu tempat di jailolo..kemudian ke porniti..(liat sendiri bekas kerajaan di porrniti)
    * katara bumi cuma gelar….
    kira-kira bagitu dlu…mangkali kita pe primbon me salah kaapa..*_*

  21. salut salut saluttt buat ente…..
    nih blog memang harus disebarkan dimana² biar orang2 yang suka tentang sejarah bisa tau.. khususnya tau tentang kie raha… (Insya Allah kalo ana tara lupa ana pajangg nih blog diamana saja.. hehehehe)

    memang rumit untuk cari tahu soalnya kalo kita (bukang saya :D) bertanya pada orang2 tua yang setidaknya menurut kita mereka tau.. pasti ceritanya maju mundur tapi intinya tetap sama kek kata ente… cuman penamaan tokoh ato periode saja yg membingungkan….

    tetap smangat!!!!!

    ********************
    ehh sekalian mau tanya…..
    dulluu waktu masih kecil.. saya denger cerita kalau asal muasal 4 kerajaan (Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan) dari satu kerajaan saja… kerajaan itu berada di makian… kemudian sang raja ini punya 4 anak Laki-laki, jadi si sultan takut kalo terjadi pertumbahan darah antara anaknya maka dia memberikan kerajaan(kekuasaan) pada masing anak2 tersebut…. anak tertua menuruskan tahtanya (jadi Sultan Makian) anak kedua jadi sultan Moti pertama, Anak Ketiga Jadi sultan Tidore Pertama, Anak Bungsu Jadi Sultan Ternate Pertama,… nah seiring waktu berjalan,.. 2 kerajaan yakni Moti dan Makian memindahkan kerjaaannya.. dimana Moti ke Jailolo, Makian ke Bacan (alasan dipindahkan yg saya dengar karna Status Gunung Kie Besi (Gunung Makian) sangat berbahaya bila meletus)

    nah.. kalau cerita itu memang betul adanya…..
    mugkin orang yang mengetahui tentang Jailolo (mungkin diceritakan dari generasi ke generasi) sekarang ini berada di Moti…..wallahualam…. thank’s

    Thank you for D.P. Tick gRMK….

  22. Dear all;

    Sorry I made mistake.Also because of must write here fast,otjherwise will not be posed,I made mistakes.Sorry.Sultan Ahmad Fathuddin ruled until 1893.

    Thank you.

    Hormat saya:
    DP Tick

  23. Dear Sir;

    Sometimes my things directly posted here,sometimes nothing.Why?Also short things sometimes not posed.Okay,Sultan Ahmad Fathuddin rled 1867-1903.I have picture 1865 when he still member regent council.I have picture of Sultan Siafuddin in 1672(very realistic opaiting).Sultan until died 26-27 april 1905 is Sultan Iskandar Sahajuhan Alting.

    I wonder,if palace sultan Tidore already finished.
    Thanks and bye.

    DP Tick
    pusaka.tick@tiscali.nl

  24. Dear Mister Halim Pelu;

    Really want to hagve contact with you about the kerajaan Hitu in the present time.

    Thank you.

    Hormat saya:
    DP Tick gRMK
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka’
    pusaka.tick@tiscali.nl
    P.S.:Please;mail directly to my e-mail.

  25. To : Mr. D.P. TIK gMRK
    Thank you for your contribution to the article about “The Hidden History of Jailolo“. Data from your donation really help me in completing my research on the perfection Jailolo history that is still hidden at this time and many are not revealed.
    Hopefully the information we have created here useful for other people to do advanced research in the future.
    =
    Untuk : Mr. D.P. Tik gMRK
    Terima kasih atas kontribusi anda terhadap artikel tentang “The Hidden History of Jailolo“. Sumbangan data dari anda sangat membantu saya dalam melengkapi kesempurnaan penelitian saya terhadap sejarah Jailolo yang saat ini masih tersembunyi dan belum banyak yang terungkap.
    Semoga informasi yang telah kita buat di sini bermanfaat bagi orang lain untuk melakukan penelitian lanjutan di masa yang akan datang.

  26. To : Busranto Abdullatif Doa (Administrator Web)
    Subject : List of the Kings of Jailolo

    Dear Sir;
    I thought I already sended it to your email and that it reached you,because I see it on your site,but okay I shall try here again for probably 3rd time.

    1) The rulers ruled first from Moti island,later then royal court went to Jailolo under a ruler known as Ahmad.

    2) Yusuf I : 1514-21Already old in 1521.

    3) Jainal Abidin : son/1521-27

    4) Yusuf II : son?/1527-33

    5) Firuz Alauddin : son of 2/1533-36/poisoned by succesor

    6) Katarabumi : 1536-52/was vice-king and regent for 5/suicide after 1547.

    7) Kaicil Guzarate : son/1552-15..

    8) Kodrat:1…-1605

    9) Doa:is title only/son/had title raja/ca. 1605-13

    10) Saiuddin : son/1613-56/real rule from 1650 ca./killed by colonial power

    11) Alam : b. ca. 1620/son/known as a jogugu (vice-king/districtruler) ca. 1679-1684 (died ; probably 21-1)

    12) The last descendant of the rajas/kolano’s was exiled to Ternate, where he died in 1715.

    13) Who was the main person in the dynasty until end 18th century is unknown to me.I think the dynasty also was integrated in the Ternate government in that time.

    14) Muhammad Arif Bila : descendant of the brother 9.1797(probably better 1798)-
    1806. Before 1797 jogugu of Tahene(on Makian). Also was pretender to Tidore sultan’s dignity 1803/5. Had to flee from 1805.

    15) Muhammad Asgar : son/alias Kimelaha Sugi, or Muhammad Saleh, Kaicili Asgar/1808-18/1825-32. Pretender to Tidore sultan’s dignity. Imprisoned 1811, exile to Ambon, also later to Semarang.
    Went to Seram arrived on Ceram 1826, deposed 1832, then exiled to Java(West/Garut), but first imprisoned in Batavia. (died(in Cianjur/W-Java?) in 1839). Residence first on Ceram at Hatililing, later in Wahai. (I wonder,where are the graves of this sukltans and his succesors(also as dynastychiefs).
    Local source say, that Djongofa Sugi/Kimeleha Sugi was Soegoe, brother of Asgar.

    16) Saifuddin Jehad Muhammad Hajuddin Syah (Kalim Mangofa) : brother/alias Kaicil Haji,or Sultan Haji/recognized by Holland as sultan of a part of the Jailolo people and other peoples on Seram(north)/1818/9-1825(abdicated) ; later (1832(also exile to Batavia and then to Cianjur(W-Java), where he died 1846

    17) Who was the main person in the dynasty until 1875 is unknown to me.

    18) Dano Baba Hassan/Dano Muhammad Hassan : grandson of Abdul Gani (brother of 15), born ca. 1832, recognized by a big part of Jailolo people. 1875-1876 for sure there was some sort of effective ruke by him as sultan. Exiled to Muntok on Bangka island 21-6-1878. (Should like to know, when he died.)

    19) Who is main person in the dynasty until 1914 is not known to me.

    20) Dano Jaeuddin : descendant of 18/pretender-sultan/raja,at least pretender in 1914(for sure), also called Jeuddin.

    21) Who is main person in the dynasty until the 1990-ies is unknown to me.

    22) Haji Abdullah Abdurachman Haryanto Syah:installed as sultan ca. januari 2002 (should like to know exact date) /descendant of 15 /born 17-6-1926.

    I wonder,where is the original residence of the Sultans. A source also say, that a certain Patih Rumarai was founder of Jailolo kingdom.

    The sources for the main parts of this list is from genealogy in the Collection Coolhaas in the Nationaal Archief in Den Haag/Holland/info in the book Ternate (Ph.D. Thesis), from the book “Masyarakat Halmahera dan Raja Jailolo (Ph.D. thesis) and other sources.

    Coolhaas says, that a certain Sultan Yusuf (=Kodrat?) is the son of Sultan Niru (=Guzerate?), who is the son of Sultan Tarakabun (Katarabumi?).

    I should like to ask you some good pictures of the installation of the present sultan.

    I hope interesting for you.
    Thank you for your attention.

    Yours sincerelly:
    D.P. Tick gRMK / Pusaka.
    Secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
    (Vlaardingen / Holland)

  27. Dear Mister Busranto;

    I eamt in my last message on your site.I wrote down the list on your site.The most detailed I have,but the site gave as reaction,to long and not published(or the site had to wait to long to put down the message,That is a pity.Maybe you can change that.

    Thank you for all.

    Yours sincerelly:
    D.P. Tick gRMK/Pusaka.

  28. Dear Mister Busranto;

    I worked 1 hour to write down a good list of 20 numbers of the sultans/rajas of Jailolo.
    Obviously the info was to long so I was working for nothing.
    Maybe you can put such a list in English also online.
    So remeber Dano Baba Hassan is a grandson of Abdul Gani, brother of Sultan Asgar and Jaeuddin is descendant of him and the present sultan is a descendant of dano Baba Hassan.
    When the latter died and do they know,where is his grave…?
    A pity, that you can not write down long info here,because then thrown away by the site.
    I really wonder, who is now the crownprince of Jailolo.Or the person,who can be seen as arather good candidate for it.
    Is the royalty of Jailolo united in some kind of f.i. organisation.

    Thank you for all.

    Yours sincerelly:
    D.P. Tick gRMk
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia”Pusaka”
    Vlaardingen/Holland
    email : pusaka.tick@tiscali.nl

  29. Dear Mister Busranto;

    Please go on with your postings on your site.
    It is an enrichment for the internet for Indonesia historical interested people.

    Hormat saya,
    D.P. Tick gRMk
    secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia “Pusaka”
    (Vlaardingen/Holland)

  30. Saya tidak tahu betul tetang Sejarah Jailolo, Tetapi dalam Hikayat Tanah Hitu Karya Imam Rijali, menggambarkan bahwa Empat Perdana yang mendirikan Kerajaan Tanah Hitu (di Pulau Ambon) diantaranya Perdana yang ketiga bernama Perdana Jamilu Anak Sultan Jailolo yang Ibunya adalah dari Bangsa Jawa.

  31. Terima kasih atas tanggapan pertama ini……
    Kalo ente katakan, kalo SYARIF yang ente bilang dari Mekkah itu, saya belum temukan dokumen/tulisan yg membahas hal itu. Dalam buku Thomas Forrest, saya tidak menemukan Nama Syarif yang ente katakan itu.
    saya kutip komentar ente di atas :

    “Lalu, di mana posisi Kaicil Kawalu (1372) dan Jamilu, yang kemudian tak berhasil duduk di singgasana kerajaan Jailolo (1466), pada era Sultan Yusuf 15…? hingga 1521, dilanjutkan anaknya, Jainal Abidin (1521-1527, digantikan putranya, Sultan Yusuf II (1527-1533), diganti Firuz Alauddin yang masih kecil dan sakit-sakitan, meninggal karena diracun. Kekuasaan diteruskan Katarabumi (1534-1551), Saubo meneruskan tahta dan mahkota Jailolo, Qodrat , laalu 1684,”

    Kalo ente punya catatan tambahan tentang ini, saya harap dukungan kontribusi untuk artikel ini (via e-mail)

    Memang dalam mengkaji suatu “sejarah”, kita harus ingat, bahwa aspek “subjektifitas” selalu membungkusi setiap sudut kajian. Saya menilai apa yg ente singgung itu juga benar, namun dalam historiografi, perbedaan penulisan “nama” ataupun sebutan terhadap seorang “tokoh” sebagai pelaku sejarah sering terjadi perbedaan, padahal sesungguhnya tokoh tersebut merupakan obyek yg sama pula. Disinilah letak subjektifitas dalam historiografi.
    Jadi, sdh pasti tidak ada yang tidak benar…. Dalam sisilah keturunan “ini”, sama sekali tidak tertulis nama “Katarabumi”, padahal dalam catatan sejarah Jailolo yg ditulis oleh kebanyakan sejarawan asing (eropa sentris), Katarabumi adalah Raja Jailolo yang legendaris dengan power yg diperhitungkan oleh penjajah karena taktik-nya. Saya juga masih menganalisa tentang “Katarabumi” yang dimaksud tsb, dalam sisilah keturunan disebut sebenarnya ditulis sebagai “siapa”…?! Mungkin Nama Katarabumi adalah sebuah gelar terhadap tokoh ini yang sebenarnya memiliki “nama kecil”. Perbedaan ini wajar dalam historiografi dimanapun. Dan kajian historiografi memang menarik…. perlu banyak pihak yang ikut berperan di dalamnya……
    Terima kasih atas tanggapannya…… Ditunggu di e-mail.

    Dan untuk visitor lain yang ingin memberikan tanggapan terhadap tulisan ini, saya dengan sukarela membuka forum diskusi disini…..!

  32. Anto, periode 1017 hingga 1200-an, memang gelap. tapi setelahnya, ketika Jailolo diperintah oleh seorang penguasa tiran perempuan (Boki Cendana?) yang membuat pengungsian besar-besaran para elit politik oposisi dan rakyat Jailolo ke Ternate, dan mendirikan kampung-kampung di Ternate dan Tidore, belum ditulis ya. Termasuk, sebelum sultan Yusuf, ada era dimana seorang yang berasal dari Mekkah kemudian menjadi kolano di Jailolo, Syarif, yang kemudian menurunkan raja-raja Jailolo (Thomas Forrest, : A Voyage to New Guinea and the Moluccas, 1969). Lalu, di mana posisi Kaicil Kawalu (1372) dan Jamilu, yang kemudian tak berhasil duduk di singgasana kerajaan Jailolo (1466), pada era Sultan Yusuf 15…? hingga 1521, dilanjutkan anaknya, Jainal Abidin (1521-1527, digantikan putranya, Sultan Yusuf II (1527-1533), diganti Firuz Alauddin yang masih kecil dan sakit-sakitan, meninggal karena diracun. Kekuasaan diteruskan Katarabumi (1534-1551), Saubo meneruskan tahta dan mahkota Jailolo, Qodrat , laalu 1684, kolano terakhir Jailolo, Kaicil Alam, wafat. Mungkin ini juga ada dalam naskah silsilah keturunan raja-raja Jailolo? sekadar sharing Anto.
    salam dari Jailolo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: