Menelusuri JEJAK SEJARAH Kekuasaan KESULTANAN TIDORE di Halmahera Selatan dan Tanah Papua

New Editing………(10 April 2009)…….
( Oleh : Busranto Abdullatif Doa – Admin )

Logo kesultanan Tidore

SEJARAH SINGKAT TENTANG TIDORE

Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, tepatnya di sebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, pulau Tidore dikenal dengan nama; “Limau Duko” atau “Kie Duko”, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung “Kie Marijang”. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu : To ado re, artinya, ‘aku telah sampai.

View of Tidore Island

(behind me, took from Ternate beach at Dufa-Dufa – near from my house)

Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Balibunga, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan di mana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.

Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar Sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansyur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.

Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Ala ud-din Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Toma Banga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saif ud-din (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.

The Sultan of Tidore (today)

(behind; Tidore & Maitara Islands)

EKSPANSI TIDORE KE TIMUR NUSANTARA

Selain Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore juga merupakan salah satu Kerajaan besar di jazirah Maluku Utara yang mengembangkan kekuasaannya terutama ke wilayah selatan pulau Halmahera dan kawasan Papua bagian barat. Sejak 600 tahun yang lalu Kerajaan ini telah mempunyai hubungan kekuasaan hingga sampai ke Irian Barat (Pesisir Tanah Papua) sebagai wilayah taklukannya. Waktu itu, yang memegang kendali kekuasaan pemerintahan di Kerajaan Tidore, ialah Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang ke 12.

Menurut (Almarhum) Sultan Zainal Abidin Alting Syah, Sultan Tidore yang ke 36, yang dinobatkan di Tidore pada tanggal 27 Perbruari 1947, yang bertepatan dengan tanggal 26 Rabiulawal 1366.H, bahwa Kerajaan Tidore terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Nyili Gam

a. Yade Soa-Sio se Sangadji se Gimelaha

b. Nyili Gamtumdi

c. Nyili Gamtufkange

d. Nyili Lofo-Lofo

2. Nyili Papua (Nyili Gulu-Gulu).

a. Kolano Ngaruha (Raja Ampat)

b. Papua Gam Sio

c. Mavor Soa Raha

(This statement allegedly made by Zainal Abidin Syah)

Dalam catatan tersebut dengan sendirinya bukanlah “Irian Barat” yang disebutkan, melainkan “Papua“. Selain dari Papua, juga pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Gebe, pulau Patani, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar, Sorong, Gorong, Maba, Weda, juga termasuk dibawah naungan Kerajaan Tidore.

Disebutkan “Under the Dutch rule, all legal documents were first sent to the “The Kingdom of Tidore for oka before being used in the above mentioned provinces, which were once the property of the Kingdom of Tidore._Tombuku and Banggai were under the rule of the Kingdom of Ternate before Dutch rule”.

Di bawah ini adalah salinan catatan sejarahnya dalam “Bahasa Tidore” ketika Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang pernah mengadakan expedisi ke pulau Halmahera bagian selatan sampai di “Papua” dan pulau-pulau sekitarnya.

“Madero toma jaman yuke ia gena e jaman “Jou Kolano Mansyur” Jou Lamo yangu moju giraa2 maga i tigee Jou Kolano una Mantri una moi2 lantas wocatu idin te ona: Ni Kolano Jou Ngori ri nyinga magaro ngori totiya gam enareni, tiya Mantri moi2 yo holila se yojaga toma aman se dame madoya.

Ngori totagi tosari daerah ngone majoma karena daerah ngone enareni yokene foli, kembolau gira toma saat enarige ona jou Mantri moi-moi yo marimoi idin enarige, lantas Jou Kolano una rigee wotagi wopane oti isa toma Haleyora (Halmahera) wodae toma rimoi maronga Sisimaake wouci kagee lalu wotagi ine toma Akelamo lantas kagee wotomake jarita yowaje coba Jou Kolano mau hoda ngolo madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga karena kagee seba foloi.

Lantas gaitigee Jou Kolano wowako sewolololi ino toma lolinga majiko wotagi ia toma Bobaneigo lantas gaitigee womaku tomake se Jou Kolano Ternate, “Jou Kolano Komala” Gira Jou Kolano ona ngamalofo rigee yo maku yamu rai se yo maku sawera sewowaje, Jou Kolano Ternate tagi turus ia toma Kao, Jou Kolano Tidore woterus toma Lolobata, Bicoli, Maba se Patani.

Lantas kagee Jou Kolano wolahi Kapita2 kagee toma Maba, Buli, Bicoli se Patani ona yomote una terus toma Gebe la supaya yohoda kiye mega yoru-ruru, yo bapo ino uwa, toma Gebe madulu se I ronga “Papua”.

Gira2 tigee ona Kapita moi2 yomote Jou Kolano ine toma Gebe lalu turus toma Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol (Misol), terus ine toma Papua Gam Sio, se Mavor Soa-Raha. Raisi karehe Jou Kolano se ona Kapita ona rigee yowako rora tulu toma Salawati, wotia Kapita hamoi se woangkat una wodadi Kolano kagee, hamoi yali toma Waigeo, hamoi yali toma Waigama, se hamoi yali toma Masowol (Misol). Kapita-kapita ngaruha onarigee Jou Kolano woangkat ona yodai Kolano teuna ipai maalu gena e mangale Kolano Ona Ngaruha rigee ngapala Kapita Patani, ona ngaruha yoparentah yodo toma Papua Gam Sio se Mavor Soa Raha”.

Terjemahan (Admin) :_

“Bahwa pada masa dahulu kala, masa kekuasaan Sultan Tidore yang bernama “Mansyur“, dimana daerah kekuasaannya belum/tidak luas, maka beliau berfikir, bahwa wilayah Kerajaan di Tidore pada masa itu memang terlalu kecil yakni hanya di pulau Tidore. Beliau menetapkan untuk keluar mencari daerah tambahan. Para Menteri beliau berhadap dan titah beliau, bahwa atas maunya sendiri bertolak nanti dari Tidore untuk maksud yang utama dan kepada Menteri2 beliau tinggalkan kerajaannya untuk dijalankan oleh para Menteri, menjaga agar supaya berada aman dan damai. Menteri bersatu dan menerima baik yang dititahkan.

Lalu dengan sebuah perahu biduk beliau beserta beberapa pengawal dan pengikutnya bertolak dari pulau Tidore ke Halmahera tengah dan selatan, tiba pada sebuah tempat namanya Sismaake. Di sana Beliau turun dan berjalan kaki ke Akelamo. Di Akelamo beliau mendapat keterangan/ceritera dan mendapat saran dari orang di Akelamo, katanya jika beliau hendak melihat lautan sebelah (lautan di teluk Kao Halmahera), maka sebaiknya beliau melewati jalan di Dodinga, karena di Dodinga sangat dekat dengan lautan sebelah. Sri Sultan Mansyur kembali dari Akelamo menuju Dodinga dan dari Dodinga berjalan kaki ke Bobaneigo.
Di Bobaneigo bertemu dengan Sri Sultan Ternate Bernama “Komala“, (Admin; mungkin yang dimaksud adalah Sultan Ternate yang ke XVI). Kedua Sultan tersebut kemudian saling bertanya dan akhirnya menyepakati untuk membagi pulau Halmahera menjadi dua wilayah kekuasaannya masing- masing, yaitu Sultan Ternate berkuasa dari Dodinga ke utara sedangkan Sultan Tidore membatasi wilayah kekuasaannya dari Dodinga ke selatan.

Catatan Admin ; Pada kenyataannya hingga saat ini pulau Halmahera tepatnya di daerah (Dodinga) merupakan batas wilayah kultur antara kedua Kerajaan ini, yang saat ini dijadikan dasar oleh Pemerintah untuk menetapkan batas wilayah Kabupaten sejak jaman Indonesia merdeka).

Kemudian selanjutnya Sultan Mansyur berkelana menuju daerah Lolobata, Bicoli, Maba, Buli dan Pulau Patani. Di sana beliau minta supaya Kapitan2 dari Maba, Buli, Bicoli dan Patani turut dengan beliau ke pulau Gebe untuk menyelidiki pulau2 apa yang terapung di belakang pulau Gebe, antara pulau yang satu dengan lain (tidak berdekatan): “Papua”.

Pada saat itu juga Kapitan2 tersebut turut dengan beliau ke Gebe, terus ke Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol, terus ke daerah yang disebutkan: Papua Gam Sio (Negeri Sembilan di tanah Papua) dan Mavor Soa Raha Empat Soa/Klan di Mavor). Sesudah itu Sri Sultan Mansyur dan Kapitan2nya kembali, singgah di Salawati, Waigeo, Waigama dan Misowol, dan disana beliau mengangkat Kapita2 berempat orang itu menjadi Raja setempat yang bergelar seperti dirinya (;Kolano), mereka berempat disebutkan “Raja Empat” yang masih dibawah naungan payung kekuasaan Sri Sultan Mansyur Sang Penguasa dari Tidore, dengan pengertian bahwa mereka berempat menjadi Raja itu harus mendengar perintah dari Sultan Tidore. Kekuasaan ke-empat Raja itu sampai di daerah yang disekitarnya yang kemudian disebut Papua Gam Sio dan dearah Mavor Soa-Raha”._

Catatan Admin ; Sumber / referensi tersebut di atas bila dikaji dengan menggunakan Analisa Historiografi, maka masih terdapat beberapa kelemahan, diantaranya :

1). Tidak jelaskan tahun berapa yang merupakan “tempos” atau kurun waktu kejadian dari apa yang diuraikan dalam sumber ini,

2). Tokoh sentral yang dijelaskan dalam sumber ini adalah “Sultan Mansyur”, namun yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah Sultan Mansyur yang mana?!, karena dari berbagai referensi yang saya telusuri dan hunting selama ini, bahwa terdapat 4 (empat) Sultan Tidore yang menggunakan nama “Mansyur” sebagai nama mereka, antara lain; pertama : Sultan Mansyur yang memerintah (tahun 1512–1526), kedua : Sultan Kie Mansyur yang memerintah (tahun 1547–1569), ketiga : Sultan Abdul Falal al-Mansyur yang memerintah (tahun 1700–1708), dan keempat : Sultan Akhmad-ul Mansyur yang memerintah (tahun 1822–1856). Terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa beberapa daerah diluar pulau Tidore, mulai dari Papua barat hingga pulau-pulau di selatan Pasifik pernah menjadi wilayah kerajaan ini.

Sebagai pembanding dalam argument saya pada catatan tersebut di atas, berikut ini adalah nama-nama Kolano / Sultan dan tahun pemerintahannya pernah menjadi penguasa di Kerajaan Tidore yang saya olah dan susun dari beberapa sumber baik lokal maupun sumber asing yang menjadi referensi kajian saya, adalah sebagai berikut :

1. (……… – ………) Kolano Sah Jati

2. (……… – ………) Kolano Bosamuangi

3. (……… – ………) Kolano Subu

4. (……… – ………) Kolano Balibunga

5. (……… – ………) Kolano Duku Madoya

6. (1317  – ………) Kolano Kie Matiti

7. (……… – ………) Kolano Sele

8. (……… – ………) Kolano Metagena

9. (1334   – 1372) Kolano Nur ud-din

10. (1373 – …?…) Kolano Hasan Syah

11. (1495 – 1512) Sultan Ciriliati alias Jamal ud-din

12. (1512 – 1526) Sultan Mansyur

13. (1529 – 1547) Sultan Amir ud-din Iskandar Zulkarnain

14. (1547 – 1569) Sultan Kie Mansyur

15. (1569 – 1586) Sultan Miri Tadu Iskandar Sani Amir ul-Muzlimi, kawin dengan Boki Randan Gagalo, seorang puteri dari Sultan Babu’llah Datu Syah ibni Sultan Khair ul-Jamil.

16. (1586 – 1599) Sultan Gapi Maguna alias Sultan Zainal Abidin Siraj ud-din alias Kaicil Siraj ul-Arafin, yang kawin dengan Boki Filola pada tahun 1585 seorang puteri dari sultan Ternate Sultan Said ud-din Barakat Syah ibni al-Marhum Sultan Babullah Datu Syah

17. (1599 – 1626) Sultan Mole Majimu alias Molemgini Jamal ud-din alias ‘Ala ud-din Syah

18. (1626 – 1633) Sultan Ngora Malamo alias Sultan ‘Ala ud-din ibni Sultan Jamal ud-din

19. (1633 – 1653) Sultan Gorontalo alias Kaicil Sehe

20. (1653 – 1657) Sultan Magiau alias Sultan Said ud-din ibni Sultan ‘Ala ud-din alias Kaicil Saidi

21. (1657 – 1689) Sultan Syaif ud-din alias Kaicili Golofino

22. (1689 – 1700) Sultan Hamzah Fakhr ud-din ibni al-Marhum Sultan Syaif ud-din

23. (1700 – 1708) Sultan Abul Falal al-Mansyur

24. (1708 – 1728) Sultan Hasan ud-din

25. (1728 – 1756) Sultan Amir Muhid-din Bi-fallil-ajij alias Kaicil Bisalalihi

26. (1756 – 1780) Sultan Jamal ud-din

27. (1780 – 1784) Sultan Patra Alam

28. (1784 – 1797) Sultan Kamal ud-din

29. (1797 – 1805) Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan alias Jou Barakati

30. (1805 – 1810) Sultan Mohammad Zain al-Abidin

31. (1810 – 1822) Sultan Mohammad Tahir (Wafat : 17 November 1821)

32. (1822 – 1856) Sultan Akhmad-ul Mansyur (Dinobatkan 19 April 1822, wafat 11 Juli 1856)

33. (1857 – 1865) Sultan Akhmad Safi ud-din alias Khalifat ul-Mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore alias Jou Kota (Dinobatkan April 1857)

34. (1867 – 1894) Sultan Johar Alam (Dinobatkan Agustus 1867)

35. (1894 – 1905) Sultan Akhmad Kawi ud-din Alting alias Kaicil Syahjoan, (Dinobatkan Juli 1849) Pada masa ini Keraton Tidore dibumihanguskan sebagai sikap protes terhadap kebijakan pihak Belanda yang merugikan Tidore)

36. (1947 – …….) Sultan Zain al-AbidinAltingSyah (Dinobatkan di Tidore pada tgl. 27 Perbruari 1947, bertepatan dengan tgl. 26 Rabiulawal 1366-H)

37. (Sekarang) Sultan DjafarDano YunusSyah, (Dinobatkan ————- hingga sekarang)

The Sultan with the Crown Royal of Tidore (Tolu Kolano)

APAKAH EKSPANSI SULTAN NUKU SAMPAI KE KAWASAN KEPULAUAN PASIFIK BAGIAN SELATAN….?

Kesultanan Tidore mencapai kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan yang oleh kawula Tidore dikenal dengan sebutan Jou Barakati. Pada masa kekuasaannya 1797 – 1805), wilayah Kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Tanah Papua.

Wilayah sekitar pulau Tidore yang menjadi bagian wilayahnya adalah Papua, gugusan pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Seram Timur. Menurut beberapa tulisan di berbagai situs internet, dituliskan bahwa kekuasaan Tidore sampai ke beberapa kepulauan di pasifik selatan, diantaranya; Mikronesia, Melanesia, kepulauan Solomon, kepulauan Marianas, kepulauan Marshal, Ngulu, Fiji, Vanuatu dan kepulauan Kapita Gamrange. Disebutkan pula bahwa hingga hari ini beberapa pulau atau kota masih menggunakan identitas nama daerah dengan embel-embel Nuku, antara lain; kepulauan Nuku Lae-lae, Nuku Alova, Nuku Fetau, Nuku Haifa, Nuku Maboro, Nuku Wange, Nuku Nau, Nuku Oro dan Nuku Nono.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut di atas tidaklah mudah. Perlu penelitian tersendiri. Hal ini juga dibantah oleh salah satu Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Sastera Universitas Khairun Ternate yang tidak mau menyebutkan namanya. Lebih lanjut dikatakan bahwa “agak mustahil” kekuasaan Sultan Nuku bisa sampai ke ke kawasan pasific.

Alasan bantahan terhadap hal ini didasarkan pada argumennya bahwa :

1. Pasific Selatan terlalu jauh dari Tidore.

2. Tidak adanya pengakuan dari penduduk setempat di Pasific Selatan bahwa mereka mempunyai kaitan sejarah dengan Sultan Nuku.

3. Tidak ada bukti-bukti dan catatan tertulis tentang kapan dan bagaimana Sultan Nuku data ng dan memberi nama pulau-pulau tersebut.

4. Masyarakat Pasific Selatan saat ini mayoritas beragama Kristen. Jika memang kekuasaan Sultan Tidore telah sampai ke sana tentu ada jejak-jejak Islam ditemukan di sana.

5. Sultan Nuku hidup ketika penjajah Eropa sudah berdatangan ke wilayah Timur dan wilayah Pasific Selatan diduduki oleh mereka.

6. Masa hidup Sultan Nuku lebih banyak digunakan untuk berjuang melawan Belanda.

7. Adanya nama Nuku di depan nama kota atau tempat di sana bukanlah bukti yang bermakna kuat karena bisa saja kata “Nuku” di sana mempunyai arti yang berbeda.

Argumentasi ini sangat beralasan, karena kalo kita menjelajahi beberapa situs internet, di Wikipedia misalnya, tidak ditemukan catatan sejarah tempat-tempat dimaksud yang menjelaskan bahwa mereka mempunyai kaitan sejarah dengan Kesultanan Tidore dengan Sultan Nuku-nya. Juga tidak ditemukan jejak-jejak hadirnya orang-orang Tidore di daerah ini.

Walaupun demikian, terlepas dari “perdebatan” permasalahan ini, fakta sejarah mencatat bahwa di masa Sultan Nuku yang hanya berkuasa sekitar delapan tahun inilah, Kerajaan Tidore mencapai masa kegemilangan dan menjadi kerajaan besar yang wilayahnya paling luas dan disegani di seluruh kawasan itu, termasuk oleh kolonial Eropa.

STRUKTUR PEMERINTAHAN DI KERAJAAN TIDORE

Ketika Tidore mencapai masa kejayaan di era Sultan Nuku tersebut, sistem pemerintahan di Tidore telah ditata dengan baik. Saat itu, Sultan (Kolano) dibantu oleh suatu Dewan Wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syaraa, adat se Nakudi. Dewan ini dipimpin oleh Sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (Perdana Menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato Pehak Raha (Bobato empat pihak) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir.

Sistem dan Struktur Pemerintahan yang dijalankan di Kerajaan Tidore pada masa lampau cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan Sultan. Menariknya, di keempat Kerajaan di Jazirah Maluku Utara yang dikenal dengan “MOLOKU KIE RAHA” yaitu; kerajaan Jailolo, kerajaan Bacan, kerajaan Ternate dan termasuk di kerajaan Tidore tidak mengenal sistem putra mahkota sebagaimana kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Nusantara. Seleksi seseorang untuk menjadi Sultan dilakukan melalui mekanisme seleksi calon-calon yang diajukan dari pihak Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha), yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama-nama ini, kemudian dipilih satu di antaranya untuk menjadi Sultan Tidore.

Selanjutnya mengenai Struktur Pemerintahan Kerajaan Tidore sejak Sultan Tidore yang pertama yaitu Sultan Syah Jati alias Mohammad Nakel yang kemudian mengalami perobahan2 mengenai bentuknya pemerintahan di jaman Sultan Cirlaliati,–beberapa sumber menyebutkan Sultan ini yang pertama kali mulai masuk Islam–, dan di jaman Sultan Syafi ud-din dengan gelarannya Khalifat ul-mukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore, dapat diuraikan sebagai berikut : KOLANO SEI BOBATO PEHAK RAHA, artinya : Sultan dan 4 Kementeriannya dengan pegawai, yang terdiri dari :

1. Pehak Bobato, Urusan Pemerintahan dikepalai oleh Jogugu. Anggota2nya :

a. Hukum2

b. Sangadji2

c. Gimalaha2

d. Fomanyira2

2. Pehak Kompania, Urusan Pertahanan dikepalai oleh Kapita2/Mayor :

a. Leitenan2

b. Alfiris2

c. Jodati2

d. Serjanti2

e. Kapita Kie

f. Jou Mayor, dan

g. Kapita Ngofa

3. Pehak Jurutulis, Urusan Tata-Usaha dikepalai oleh Tullamo (Sekneg). Anggota2nya :

a. Jurutulis Loaloa

b. Beberapa Menteri Dalam, yaitu:

1. Sadaha, (Kepala Rumah Tangga Kerajaan)

2. Sowohi Kiye, (Protokoler Kerajaan Bidang Kerohanian),

3. Sowohi Cina, (Protokoler Khusus Urusan Orang Cina),

4. Sahabandar, (Urusan Administrasi Pelayaran).

5. Fomanyira Ngare, (Public Relation Kerajaan)

4. Pehak Lebee, urusan Agama/Syari’ah dikepalai oleh seorang Kadhi. Anggota2nya :

a. Imam2.

b. Khotib2.

c. Modin2.

* Selain struktur tersebut di atas masih terdapat Jabatan lain yang membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Surang Oli yang membidangi urusan propaganda.

PEJABAT DALAM KEDUDUKAN MENURUT TINGKAT JABATAN

I. Bobato Yade Soa2 dan Sangadji se Gimalaha di pusat, terdiri dari :

1. Jogugu / Jojau

2. Kapita Laut, (Panglima Perang)

3. Hukum Yade, (Urusan Luar Kerajaan)

4. Hukum Soa2, (Uurusan Dalam Kerajaan)

5. Bobato Ngofa, (Urusan Kabinet)

6. Gimalaha Marsaoly

7. Gimalaha Folaraha

8. Sangadji Moti

9. Gimalaha Sibu

10. Gimalaha Matagena

11. Gimalaha Sibuamabelo (Sambelo)

12. Gimalaha Togubu

13. Gimalaha Kalaodi

14. Gimalaha Soa Konora

15. Gimalaha Simobe

16. Gimalaha Doyado

17. Gimalaha Samafu

18. Gimalaha Maliga

19. Fomanyira Failuku

20. Fomanyira Tomacala

21. Fomanyira Yaba

22. Fomanyira Sosale

23. Fomanyira Jawa

24. Fomanyira Cobo

25. Fomanyira Dikitobo

26. Fomanyira Tasuma

27. Fomanyira Tomadou

28. Fomanyira Rum

29. Sngagaji Laisa Mareku

30. Sangadji Laho Mareku

31. Gimalaha Tomalouw

32. Gimalaha Tongowai

33. Gimalaha Mare

34. Gimalaha Tuguiha

35. Gimalaha Tomaidi

36. Gimalaha Tahisa

37. Gimalaha Tomanyili

38. Gimalaha Gamtohe

39. Gimalaha Dokiri

40. Gimalaha Banawa

IIa. Bobato Nyili Gamtumdi, terdiri dari :

1. Gimalaha Seli

2. Fomanyira Tambula

3. Fomanyiira Taran

4. Fomanyira Tomawange

5. Tomanyira Tofoju

6. Fomanyira Gurabati

IIb. Bobato Nyili Gamtufkange, terdiri dari :

1. Gimalaha Tomoyau

2. Fomanyira Tambula

3. Fomanyira Ngosi

4. Fomanyira Tobaru

5. Fomanyira Tunguwai

6. Fomanyira Goto

7. Fomanyira Sautu

8. Fomanyira Tomagoba

IIc. Nyili Lofo2, terdiri dari :

1. Sangadji Maba

2. Sangadji Soa Gimalaha

3. Sangadji Bicoli

4. Himalaha Wayamli

5. Sangadji Patani

6. Gimalaha Kipay

7. Sangadji Kacepi

8. Gimalaha Sanafi

9 Sangadji Weda

10 Gimalaha Soa Cina

11. Sangadji Somola

12. Gimalaha Somola, (1 s/d 12 disebutkan Gamrange,–Tiga Negeri–)

13. Gimalaha Akelamo

14. Gimalaha Payahe

15. Gimalaha Wama

16. Gimalaha Akemayora

17. Gimalaha Tafaga

18. Fomanyira Tauno

19. Fomanyira Loko

20 Fomanyira Taba

21. Kalaodi Maidi, (13 s/d 21 distrik Oba)

IId. Bobato Nyili Gulu2 (Papua), terdi i dari :

1. Kolano Waigeo

2. Kolano Salawati

3. Kolano Misowol, (Lilintinta).

4. Kolano Waigama, (Miyan). (1 s/d 4=Raja Ampat).

5. Sangadji Umka

6. Gimalaha Usboa

7. Sangadji Barey

8. Sangadji Beser

9. Gimalaha Kafdarun

10. Sangadji Wakeri

11. Gimalaha Warijo

12. Sangadji Mar

13. Gimalaha Warasay, (5 s/d 13 -Papua Gam Sio – (9 Soa).

14. Sangadji Rumbarpon

15. Sangadji Rummansar

16. Sangadji Anggaradifu

17. Sangadji Waropon, (14 s/d=Mavor Soa-Raha (4 Soa).

Catatan Akhir dari Admin ;

1. Terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa beberapa daerah diluar pulau Tidore, mulai dari Papua barat hingga pulau-pulau di selatan Pasifik pernah menjadi wilayah kerajaan ini. Presiden RI pertama Sukarno semula ingin memasukan seluruh wilayah kekuasaan kerajaan tidore ini menjadi bagian dari NKRI, namun pada akhirnya, diputuskan bahwa hanya bekas jajahan kerajan Belanda saja yang menjadi wilayah RI, sehingga Malaysia, Singapura dan Timor Leste tidak dimasukan sebagai wilayah NKRI. Sukarno pernah berkata; “……..Tanpa Tidore, tak akan ada lagu; Dari Sabang sampai Merauke……..”

2. Terakhir……, kajian historis ini, bila dipahami, diharapkan akan menjadi motivasi bagi para para pemimpin lokal di daerah ini untuk menata masa depan Tidore dan sekitarnya yang lebih baik. Kalau ditanya mengapa saya berargumen demikian? Maka jawaban saya adalah ; Karena para pemimpin masa lampau di daerah ini yang yang berpola pikir ratusan tahun yang lalu saja mampu dan bisa menjalankan birokrasi yang baik menata pemerintahan daerah, kenapa jaman kita saat ini tidak mampu? Pilkada saja berantam melulu, barangkali yang ada di pikiran mereka hanya kekuasaan dan kekayaan tanpa mikirkan hak dan kepentingan rakyat yang dipimpinnya…. Wallahu wa’lam…….! (www.busranto.blogspot.com)

====================================================================

“Kailupa toma Lolinga, Kero2 toma joronga,

Lupa uwa si tosoninga, Tero2 Soa-Sio ironga…”

31 Tanggapan

  1. Pertama-tama Dewi ucapin terimakasih karena telah ada blog yang menyediakan penjelasan Sejarah maupun sturktur kesultanan di Kesultanan Tidore, sehingga kami dapat dengan mudah mendapatkan info yg kita butuhkan untuk mengetahui bagaiman bentuk kesultana yang berkembang selama ini Di Ternate dan Tidore, mengingat keterbatasan buku yang tersedia dan harganya tidak dapat di jangkau oleh kalangan pelajar.

    skali lagi terima kasih… situs ini sangat bermanfaat bagi saya..

  2. Ass….maaf yach……….
    klo aq nanya kaya g!ni. tp aq dengar2 katanya rambut yg d! mahkota tidore tdk tumbuh lg… apakah bnar ky g!ctu……..??????????????/

  3. Wooww keren yaa.. saia ambil sebagai bahan tugas asayaa yahh.. hehehhe HIDUP MALUKU…

  4. Sejarah adalah akar bangsa yang tidak dapat dipisahkan dari pohon negara tugas kita kedepan bukan hanya untuk mengenang sejarah itu sendiri tapi membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar di dunia ini

  5. Terima kasih, informasi mengenai “Tidore”nya sangatsangat membantu
    :D

  6. bosan…kerajaan melulu….!!!!!!

  7. Tulisan yang luar biasa, bukan pekerjaan mudah tentunya. Saya orang Betawi, pernah ke ternate untuk beberapa hari sekitar awal tahun 2000. Daerah yang luar biasa potensinya. Sempat jalan-jalan dan solat dimasjid samping istana kesultanan. Maju terus Ternate, maju terus indonesia

  8. Saya berlayar dari Ternate ke Tidore bulan Oktober 2007 dengan taksi air (carter), dalam hitungan menit kita sudah sampai dipelabuhan seberang. dalam perjalanan sebelah kanan menjulang pulau seribu (Pulau yang diabadikan dalan uang rupiah pecahan seribu rupiah. Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak yang dirasakan. Disini saya merasakan bahwa nikmat Allah SWT kepada bangsa Indonesia tiada taranya di dunia ini. tidak ada yang dapat menyerupai Nusantara kita. Dan saya berterima kasih kepada penulis ini sehingga kenangan manis saya dengan pulau rempah-rempah ini, tak terlupakan. Apalagi setelah sampai di desa Indonesiana, yang menurut sdr Amin, merupakan Indonesia mini, karena hampir semua suku bangsa ada disana. Pada saat berbuka puasa, terhidang berbagai macam kue khas dan minuman kelapa muda. Setelah magrib tiba saatnya makan besar, saya masih tetap saja makan kue-kue kecil, sedangkan orang lain sudah ramai makan dengan ikan-ikan yang tersedia, sehingga teman mengingatkan “ayo makan, sebentar lagi kita brangkat taraweh kemesjid sebelan desa. Dengan entenya saya menjawab, nunggu nasi, lantas dijawab disini tak ada nasi,sebagai penggantinga ya ya masakan ubi itu”. Terpikir oleh ku, betapa besarnya nikmat Allah yang telah tercurah kepada bangsa ini, sehingga aku tertawa geli dan dengan semangat menyala-nyala,ku nikmati makan malam tersebut dengan lahapnya.
    Sama dengan komentar saya di tulisan ternate bahwa peninggalan sejarah yang memberikan inspirsi generasi muda berikutnya nampaknya kurang mendapat perhatian, semoga tulisan ini dapat memacu kepedulian semua pihak. Amin

    Wassalam
    Anwar

  9. Kepada para elit Moloku Kie Raha, saya hanya berharap untuk banyak belajar pada Sida Arif Malamo. Dia adalah tokoh yang bijak yang berhasil memprakarsai peremuan Moti pada tahun 1322 demi terciptanya Moloku Kie Raha yang lebih sejuk. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sultan Saifuddin dan Sultan Nuku. Mereka berusaha Moloku Kie Raha tetap terbangun darin empat pilar persauadaraan, yaitu Ternate, Tidore, Jailolo dan Bacan, karena pada dasarnya penguasa Moloku Kie Raha adalah bersaudara, karena sama-sama berasal dari pasangan Jafar Shadiq dan Nur Sifa.

  10. Sangat boleh jadi, bila kesadaran tentang nilai keadaban (nilai-nilai adat) disadari sebagai kebutuhan insania menuju terwujudnya insan kamil,maka pekerjaan utama dan terutama adalah kaji ulang tentang model pembangunan dan pola kepemimpinaan yang bersahaja, sebagai ikhtar berjama mengembalikan citra dan jatidiri orang Ternate (Maluku Utara). sadara atau tidak saat ini kita lebih banyak bangga dengan milik orang lain, sementara milik kita yang amat berharga,” maaf ” dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang tidak bermakna.Saatnya topeng itu dibuka pak, jangan menunggu -kita akan tertinggal dari perjalanan waktu yang tetap bergerak tanpa henti

  11. Materi blog ini, akan mengilhami generasi Ternate (baca Malut) yang lahir di zaman kemudian, untuk memahami lebih jauh tentang makna keadaban kita yang dulu nya menjadi jati diri dan ciitra orang Ternate. Sayangnya, ditengah derunya modernis secara perlahan hilang atas nama pembangunan. Pada hal sesungguhnya pembangunan itu haruslah berangkat dari akar historis dan nilai-nilai keadaban. Keadaban itulah melahirkan kearifan. Dan keadaban itu pulahlah menempatkan Maluku Utara (Kie Raha) tempo doeloe mencapai masa kejayaan dengan julukan The Glory Of Kie Raha

  12. Assalamualikum Wr Wb.

    Saya sangat berterima kasih kepada penulis yang telah menulis penelusuran Sejarah singkat ini, semoga bermanfaat bagi kita semua terutama sebagai generasi muda yang sekarang ini sehingga tetap ingat selalu dan mengetahui Sejarah di Daerah kita (Maluku Kite Raha) yang kita cinta ini guna untuk diturunkan kepada anak cucu kita.

    Nama saya Lutfi Djumati, alamat di Sofifi (dulunya Desa tapi sekarang udah jadi Ibukota Propinsi). sekarang saya bertugas di Papua, sebagai seorang Anggota Polri. Insysaallah kita dapat mengulurkan tangan guna membangunan Daerah Kita sendiri sehingga menjadi daerah yang aman, tentram dan bermartabat dimata dunia khususnya di daerah-daerah lain.

    Terima kasih

    Wassalamualaikum Wr Wb

  13. Saya sangt bangga dengan adanya website ini. paling tidak memberikan pencerahan sejarah bagi kita. Tapi ada pertannyaan yang perlu saya sampaikan, apakah ada hubungan sejarah antara Kerajaan di Maluku Utara dengan Kerajaan Alaka di Hatuhaha (Maluku) Ambon.

  14. Yth. Sdr. Busranto AD
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Saya sangat bangga dan hormat kepada Saudara, Saudara telah mengabdikan diri kepada daerah yang sama-sama kita cintai “Maluku Kie Raha”. Teruskan pencarian data sejarah Maluku Utara, sebagai putra daerah saya menghargai tulisan Saudara semoga bermanfaat buat generasi muda kita yang akan datang. Skilas tentang saya: Nurdin Husen, (Cucu tertua dari Dano Hi. Chalik Dano Umar). Lahir di Ternate, 6 Agustus 1969. SD Salero 1 Ternate, SMP Negeri 2 Ternate, SMA Negeri 1 Ternate, lulus SMA Thn 1990. Sekarang berada di Jakarta (085695589288). Tks.

  15. Untuk Praja IPDN utusan Malut.
    Banyak orang beranggapan bahwa embel-embel nama “nuku” di depan nama-nama pulau di Pasifik Selatan berasal dari nama Sultan Nuku. Tapi, apakah klaim tersebut mempunyai dasar ilmiah berdasarkan bukti-bukti sejarah dan asal-usul bahasa?

    Berdasarkan penelusuran saya mengenai arti “nuku” di depan nama-nama pulau di Pasifik Selatan di berbagai situs internet, saya menemukan fakta bahwa embel-embel “nuku” pada nama pulau di Pasifik Selatan tidak ada sangkutpautnya dengan Sultan Nuku dari Tidore. Sebagai contoh, nama “Nuku’alofa”, ibukota kerajaan Tonga, menurut situs http://www.tonga-faqs.com/index.cfm/capital/4/nuku‘alofa.html disebutkan bahwa “Nuku’alofa is a Tongan word, which when translated to English means ‘Abode of Love’. Jadi, nama “Nuku’alofa” bukanlah pemberian Sultan Nuku, meski memakai embel-embel “nuku”.

    Nama pulau “Nukufetau”, salah satu nama pulau di negara Tuvalu, juga tidak ada hubungannya dengan Sultan Nuku. Menurut situs www. jeneresture.com/tu8/nukufetau.htm, di sana tertulis “Legend has it that a party of Tongans were the first people to settle on Nukufetau. It is said that when they landed there they found but one fetau tree growing there and so they called the place Nukufetau, “the island of the fetau”. Jadi, nama Nukufetau, juga tidak ada hubungannya dengan Sultan Nuku, karena nuku dalam bahasa Tonga berarti “tanah” dan “fetau” adalah nama sejenis pohon.

    Nama pulau “Nukulaelae”, juga bukan pemberian Sultan Nuku. Menurut situs http://www.jeneresture.com/tu8/nukulaelae.htm, dijelaskan bahwa “According to some old men, a white-skinned man was the first person to sight the island. This man, who came alone, did not settle as there were no trees and all the land was barren. Nukulaelae, means “the land of sands”. Jadi, Nukulaelae berarti “tanah pasir” bukan “tanahnya Nuku”.

    Demikian, semoga bisa menambah wawasan torang semua.

  16. Hitam putih pahit manis sejarah bakal slalu memberikan pelajaran bagi kita sekarang dan bagi masa depan…
    mari buat masa depan sebuah peradaban yang beradab bukan yang biadab, sebuah peradaban yang bermartabat dan berdaulat.
    Salam….

  17. Saya sangat bangga dengan artikel dari bang busran ini…dan saya membenarkan karena sampai skg dikepulauan HAWAI masih banyak pulau” kecil yang memakai bahasa tidore dengan tambahan kata “Nuku”….Untuk itu kita patut berbangga dengan keberhasilan Sultan Nuku….

    Mengenai Ulasan Lebih Lengkap Mengenai Artikel Ini …sobat” bisa membaca bukunya di PERPUSTAKAAN SMA NEGERI 2 Kota Ternate (Ubo-ubo)….judul’y saya lupa but ada lemari Referensi Perpustakaan…..Bukunya Tebal dan berwarna biru…

  18. Soekarno bilang Bangsa yang besar bangsa yg menghormati sejarah. kalo generasi2 muda sudah sama sekali tidak menghiraukan sejarah, boleh jadi bangsa ini menuju ambang Tamat. tiap orang berhak punya pendapat masing2,
    kalo saya.. saya setuju bahwa sejarang itu penting sekali. untuk mengingatkan siapa kita, dan untuk bisa mengantar kita ke arah depan yang lebih baik.
    salam, ;)

  19. lupa,

    tentang timor leste,
    dulu waktu kita di timor leste taong 1998, kita pernah baca bahwa di Koran Lokal yang ditulis sejarawah lokal disana di suatu harian (Suara Timor Timur kalo tara sala) disana bahwa Timor Leste dibawah kekuasaan Ternate bukang Tidore..

  20. Melihat sejarah masa lalu penting, supaya memahami jati diri dan mengetahui dan belajar dari sejarah bagaimana maluku kie raha bisa jaya di masa lalu.
    Sy salut deng apa yang dilakukan rekans Busranto maju terus…, lebe bae lagi kalo biking buku…, ada yg suka biking buku deng kamus bahasa ternate kalo tara sala di pe nama Rusli Andi Atjo

    anyway..baru tau kalu bahasa tidore mirip skali deng bahasa ternate ya…

    ada yang tau ttg bahasa tobaru dan sejarahnya ?

    carita ttg dodomi, dulu kita pe dodomi dikasi tenggelam di laut antara pulan ternate dengan halmahera..makanya merantau trus …he..he..

    ttg Rusli

    Rusli Andi Atjo
    Riwayat Penulis
    Rusli Andi Atjo lahir pada tanggal 18 April 1942 di Sanana. Ia mengikuti pendidikan tinggi di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Gelar sarjana diperolehnya pada tahun 1968. Pendidikan lain yang pernah dijalani antara lain SESPA Depdagri Angkatan XIV tahun 1987 di Jakarta. Lalu kemudian menyelesaikan Pasca Sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun 2006 dengan gelar M.Si (Magister Sains).

    Pernah menduduki jabatan:
    1. Camat Kotapraja Ternate, di Ternate (1969 – 1972).
    2. Kepala Bagian Administrasi Umum Kantor Bupati Maluku Utara (1972 – 1973).
    3. Pembantu Bupati Maluku Tengah Wilayah Pulau Buru (1977 – 1979).
    4. Kepala Inspektorat Kabupaten Maluku Utara (1980 – 1984).
    5. Kepala Dinas Pendapatan Daerah Maluku (1984 – 1993).
    6. Assisten Administrasi dan Umum Sekretaris Wilayah / Daerah Maluku (1993 – 1999).
    7. Inspektur Wilayah Propinsi Maluku (8 Juli 1999 – September 2001).
    8. Pelaksana Tugas Harian Bupati Maluku Utara (11 Juli 1999 – 11 April 2000).
    9. Penjabat Bupati Maluku Tenggara, (4 April 2001 – 7 Agustus 2002).

    Buku Tentang Ternate
    ▼ 2009 (4)
    ▼ Februari (4)
    BUKU: KAMUS BAHASA TERNATE-INDONESIA
    BUKU: ORANG TERNATE & KEBUDAYAANNYA
    BUKU: PENINGGALAN SEJARAH DI TERNATE
    BUKU: PERGOLAKAN DI MALUKU ABAD XVI

  21. Terkait dengan komentar sodara AJ, menurut saya setiap orang punya hak untuk berpendapat, sepanjang tidak menyinggung dan melanggar hak2 orang lain, tidak masalah….
    Sejarah memang banyak kontroversi, sebaiknya kita sikapi dengan bijak. Mari jadikan sejarah sebagai bekal untuk menjalani hidup masa kini dan masa datang.
    Hargai masa lalu,….isi masa kini, songsong masa depan.

    Save our heritage…..!

  22. Saya sangat…sangat salut untuk saudara, bahkan kalo boleh saya angkat semua jempol saya tangan dan kaki untuk saudara. Jarang ada anak muda seperti saudara yang mau menelusuri sejarah nenek moyang daerah mereka.
    Saya dari Jailolo, kampung saya di Bukumatiti dan sekarang saya bekerja di Jakarta.
    Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pelajaran sejarah, untuk itu maka semasa SMA saya mengambil jurusan IPA. Tetapi kali ini, anda benar-benar membuat saya tertarik dengan semua kemampuan dan kerja keras anda untuk mengumpulkan informasi mengenai sejarah daerah kita yang sangat kita cintai…….salut buat saudara.
    Dulu sewaktu kecil, saya sering mendengar cerita tentang keterlibatan keluarga besar saya dengan kesultanan Ternate, sehingga sampai sekarang salah satu dari keluarga kami ada yang diangkat oleh kesultanan Ternate sebagai Kapitan. Sayangnya saya tidak terlalu mendalami cerita sejarah jaman dulu sehingga saya tidak bisa memberikan lebih banyak masukan buat saudara.
    yang jelas saya sebagai anak daerah, merasa berterima kasih kepada saudara atas apa yang telah saudara lakukan untuk daerah kita. Saya hanya berpesan maju terus…..gali lagi sejarah daerah kita, tidak perlu mendengar selintingan yang meremehkan….karena sebenarnya mereka hanya iri dengan kemampuan saudara.
    Sekali layar terkembang….pantang surut biduk kepantai…GBU.

  23. Salam untuk Sudara AJ…. yang telah berpartisipasi memberikan komentarnya di sini…..!

    Sayangnya dalam komentar, anda tidak menuliskan identitas anda secara lengkap, dan kesannya menyembunyikan data diri anda dalam memberikan komentar. Mungkin persepsi saya salah, tapi mudah2an mungkin ada pembaca lain yg menilai ini dengan lebih objektif.

    Saya sangat berterima kasih atas komentar yang saudara berikan dalam tulisan ini. Pada dasarnya apapun saran dan kritik dari siapapun terhadap tulisan-tulisan saya dalam website ini, akan saya terima dengan lapang dada demi kesempurnaan deskripsi dan tulisan yang saya muat di sini……..! Namun ada prinsip-prinsip yang perlu kita bicarakan dan sharing di sini.

    Cara untuk mengabdikan diri pada daerah tempat Dodomi kita ditanam, itu banyak caranya, Bung…! Bukan mesti harus menjadi Legislatif di sana..? Bukan juga harus menjadi Birokrasi di sana saja..? Atau harus menjadi “Kelompok Housebreaker” di sana yang setiap saat turun ke jalan berdemo berteriak untuk menyampaikan aspirasinya..?! Cara yang saya dan kawan2 tempuh adalah seperti ini, sesuai ranah kami dan spesifikasi personal yang kami punyai. Kalo saudara bijak, pasti saudara bilang… Ooo, ini suatu cara yang lumayan bagus untuk mempromosikan aspek pariwisata Maluku Utara ke dunia Internasional, yang memberikan sajian informatif & deskriptif tentang tradisi dan budaya yang pada dapat memberikan jalan bagi turis untuk datang berkunjung ke sana sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan daerah di bidang pariwisata. Ataupun informasi ini bisa membantu investor untuk menam sahamnya dalam bidang pembangunan pariwisata budaya dan sejarah di daerah ini.
    (Maaf) Saya menilai pemikiran saudara terlalu sempit dalam menyikapi permasalahan.

    Kalau saudara saat ini, berada dalam ranah “Politik Praktis”, tentu mungkin saudara merasa “muak” dengan membaca tentang “CERITA TENTANG MOLOKU KIE RAHA” seperti yg saudara tulis dalam komentar saudara. Itu jelas pasti. Dalam kepala anda mungkin beranggapan bahwa bahasan dalam blog ini hanyalah cerita2 masa lalu dan yg tidak ada manfaatnya. Tapi tidak halnya dengan orang lain yg punya pola berpikir yang berbeda pada ranah lain. Bila seorang Politikus ataupun yang lain seperti orang-orang Sains, Ekonom mencampuri ranah Humaniora (dalam hal ini Historiografi) tentunya tidak akan ketemu ujung pangkalnya.

    Begini, saudara AJ…..
    Jikalau anda seorang intelektual sejati, tentunya anda mempunyai pemikiran yang lebih bijaksana dalam melihat atau memandang setiap sudut (ranah) cabang ilmu pengetahuan. Menurut “Teori Filsafat Ilmu”, cabang ilmu pengetahuan itu terbagi dalam beberapa bagian (tidak usah saya jelaskan di sini). Terciptanya Blog ini adalah manifestasi dari penjabaran salah satu cabang ilmu dalam kategori “Humaniora”, yaitu cabang ilmu membahas tentang “Sejarah”. Ilmu Sejarah atau Historiografi merupakan ranah kategori Ilmu Humaniora. Saya tidak tahu persis posisi anda dalam membidangi salah satu dari banyak cabang-cabang ilmu tersebut hingga saat ini, anda pada posisi cabang ilmu yang mana..?! Sehingga mendasari anda memandang cabang Historiografi seperti itu.

    Sekali lagi, maaf, bukan menggurui. Kalau anda menjadi mahasiswa saya, akan saya berikan materi singkat kuliah dasar “Pengntar Ilmu Sejarah”, sebagai berikut : ………………….

    Setiap bangsa manapun di muka bumi ini, memiliki sejarahnya masing-masing, begitupun berlaku untuk beberapa komunitas di Maluku Utara. Mempelajari “sejarah” berarti mengungkapkan bagaimana alam pikir dimana manusia itu hidup, bagaimana terbentuknya kesatuan sosialnya, bagaimana terbentuk budaya masyarakatnya, adat istiadat, norma sosial dan tata krama masyarakat serta proses dinamika perubahannya. Sejarah juga menjelaskan apa makna dari simbol institusi dan pranata yang ada di dalamnya.

    Manusia sebagai mahluk sosial dan mahluk berpikir (Homo Homini Lupus), selain dapat ditinjau dari sudut sejarah, dapat dilihat pula dari sudut sosiologi, psikologi, anthropologi, ekonomi dan lain-lain. Dalam memahami manusia dari sudut ilmu-ilmu sosial tersebut, maka sejarah bertindak sebagai metode dan ilmu bantu.

    Dalam lapangan bidang Ilmu Sejarah juga dikenal adanya “Dimensi Sejarah” yang terdiri dari; Dimensi Masa Lampau (Past), Dimensai Masa Kini (Present) dan Dimensi Masa Akan Datang (Future). Dimensi Sejarah mengandung pengertian bahwa dengan mengerti dan mengetahui masa lampau, orang dapat memahami keadaan masa kini. Dengan memahami keadaan masa kini orang dapat merencanakan apa yang akan dilakukan nanti pada masa yang akan datang.

    Dalam ilmu sejarah juga dijelaskan bahwa; Manusia mempunayai akal (jiwa). Jiwa atau akal menyatakan diri dalam cipta, rasa dan karsa. Ketiga ciri pokok itu membentuk kebudayaan. Kebudayaan adalah aktifitas manusia merombak alam. Dimana ada bekas tangan manusia di situ ada kebudayaan. Dari kebudayaan ini lahirlah sejarah manusia. Kebudayaan membuat sejarah dan sejarah membentuk kebudayaan. Keduanya saling mempengaruhi (kausalitas).

    Apabila tidak ada keinginan manusia untuk mengetahui kejadian dan peristiwa tertentu pada masa lampau, maka orang tidak akan mempelajari sejarah. Demikian pula jika tidak ada keinginan manusia untuk melihat kembali di masa yang akan datang, maka orang tidak akan pernah menulis sejarah (membuat suatu dokumen).

    Suatu peristiwa yang dialami oleh manusia pada masa lampau dikatakan sebagai suatu “Sejarah” apabila merupakan studi dari perkembangan manusia itu sendiri. Setiap kurun waktu (periode) dihimpun dan dibentuk menjadi sebuah catatan “sejarah”yang sempurna apabila kurun-kurun waktu tersebut dibandingkan dan dipersatukan dengan kurun waktu atau periode yang lain termasuk kondisi hari ini, sehingga perkembangan dan perubahannya menjadi nyata.

    Jadi, sejarah bukan sekedar kisah atau sekedar cerita masa lampau yang tidak ada manfaatnya. Suatu kejadian yang terjadi pada masa lalu menjadi sejarah pada hari ini, kemudian kejadian-kejadian pada hari ini dikemudian hari akan menjadi sejarah dan kejadian dan peristiwa pada masa yang akan datang akan menjadi sejarah bagi generasi sesudahnya.

    Sejarah juga bisa diibaratkan dengan “siaran berita”, dimana data dan fakta lapangan dipaketkan sedemikian rupa sehingga sifatnya informatif. Sejarah dan siaran berita sama-sama menjawab pertanyaan; Apa ? Siapa ? Kapan ? Bagaimana ? dan sebagainya. Penyampaian esensi informasinya juga masih menggunakan analisa dan tafsiran subyek terhadap obyek karena faktanya tidak bisa berbicara sendiri. Hal ini tidak berlaku terhadap data dokumen asli sebelum ditafsirkan oleh subyek (penyampai) ke dalam bentuk paket informasi yang akan disampaikan.

    Ditinjau dari aspek ilmu, sejarah juga identik dengan “Filsafat” tapi sejarah bukan filsafat walaupun keduanya dimulai dengan “bertanya”. Seperti halnya siaran berita, sejarah dan filsafat juga sama-sama berusaha mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Sama-sama menggunakan Hukum Kausalitas. Perbedaan esensial antara sejarah dan filsafat terletak pada metode dan pendekatan yang digunakan.

    Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa; peristiwa yang terjadi masa lalu menjadi sejarah pada hari ini, lalu kejadian pada hari ini dikemudian hari akan menjadi sejarah dan peristiwa pada masa yang akan datang akan menjadi sejarah bagi generasi sesudahnya. Dimensi sejarah mengajari kita bahwa; dengan mengerti dan mengetahui masa lampau, orang dapat memahami keadaan masa kini. Dengan memahami keadaan masa kini orang dapat merencanakan apa yang akan dilakukan nanti pada masa yang akan datang.

    Oleh karena itu sebagai manusia Indonesia yang bijak, siapapun (penulis) yang hendak menyampaikan suatu fakta pada masa yang sudah dilewati haruslah berbuat adil dan “obyektif” serta yang paling utama adalah menghargai upaya itu, karena suatu saat nanti, masyarakat akan memahami kebenarannya melalui pembuktian sejarah.

    Blog tentang “Tradisi dan budaya orang Ternate” yang saya buat ini adalah salah satu bentuk upaya untuk merekonstruksi “kearifan lokal” yang ada di Maluku Utara pada masa lampau dan masih diwarisi hingga saat ini agar para pembaca dapat mengetahui, mengenal dan memahami bagaimana dinamika sosial masyarakat di Ternate. Penulis selaku Admin sudah berupaya menyampaikan setiap penulisan se-obyektif mungkin, walaupun mungkin ada visitor yang menganggap masih ada sedikit “primordialisme” yang ikut terbawa. Tidak apa-apa, itu hal yang wajar dan manusiawi.

    Jadi tanggapan balik saya terhadap komentar saudara AJ ini, agak panjang, dan sengaja dipublikasikan bersama-sama dengan isi komentar saudara yang saudara ditulis tersebut, agar pembaca yang lain bisa melihat dan bahkan mungkin memberikan tanggapan tambahan sesudah ini….!

    Begini saja…..!
    Untuk lebih jelasnya saudara AJ tolong baca tulisan saya di blog ini juga yang berjudul “Sejarah Tidak Pernah Berdusta” atau klik di sini

    Atau kalau tidak mau juga, Begini, simpel aja…. Tinggal tutup tab browser blog ini dan pindah ke website lain atau matikan komputer. Selesai kan..?! Gitu aja kok repot……!
    Maaf….. Just Kidding….!

    Untuk pembaca yang lain, dibuka kesempatan untuk menanggapi…..! Plus ataupun minus…… Yaaaa Diskusi-lah…..!
    ***

  24. NGEMENG-NGEMENG JANGAN HANYA SENANG DENGAN CERITA TENTANG MOLOKU KIERAHA, TAPI BGM CARANYA KITA ABDIKAN DIRI KITA PADA DAERAH TEMPAT DODOMI KITA DITANAM.
    JANGAN TERJEBAK DENGAN NOSTALGIA MASA LALU, SEBAB GEMILANGNYA MASA LALU TELAH SIRNA, NAMA BESARNYA MOLOKU KIE RAHA TELAH TAMAT.

  25. Setelah membaca “Menelusuri JEJAK SEJARAH Kekuasaan KESULTANAN TIDORE di Halmahera Selatan dan Tanah Papua” jadi ingat satu kampung di Manokwari Papua Barat, yg mayoritas Islam, nama kampung itu BABO, sama halnya pd saat aku pulang kampung kalo lewat BOBO jd ingat BABO, mungkin ada kaitannya ya kampung BOBO di Pulau Tidore dengan dengan yg di Papua..?

  26. Maksih untuk Putra Halmahera, atas jawabannya yg sangat sempurna, dan menambah pengetahuan saya, kebetulan sy org Tidore, banyak yg bertanya kepada sy ttg hal ini, dgn adanya jawaban dari putra Tidore bisa membantu sy menjawab pertanyaan2 tsbt. salam kenal juga ya…

  27. Terima kasih atas tanggapan admin. Saya senang bisa bertukar pendapat dan berbagi ilmu. Tetapi, mohon maaf saya bukan dosen UNKHAIR tetapi dosen STKIP KIE RAHA TERNATE. Untuk Nurhasanah, saya sependapat dengan admin. Saya juga belum pernah mendapatkan sumber bahwa yang membawa Injil ke Papua adalah orang Tidore. Menurut http://www.hidayatullah.com, para sejarawan Barat seperti Thomas W. Arnold maupun WC.Klein dalam bukunya “The Preaching Of Islam” dan “Neiuw Guinea” menjelaskan bahwa missionaris Kristen yang pertama datang ke Papua adalah C.W.Ottow dan G.J. Geissler yang mendarat di Pulau Mansinam, Teluk Doreh, sebelah utara Manokwari, Irian Jaya Barat, pada tanggal 5 Februari 1855.

    Uniknya, kedatangan para missionaris itu justru diantar oleh tokoh Muslim dari kerajaan Ternate, Tidore dan Salawati, yang saat itu merupakan kerajaan-kerajaan yang sangat berpengaruh di kawasan Timur Indonesia. Saat itu, setiap orang yang akan memasuki Papua harus meminta izin penguasa dari kerajaan-kerajaan Muslim tersebut. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Islam tersebut sudah mempraktekkan toleransi keagamaan yang tinggi.

    Ottow dan Geissler yang berasal dari Gereja Protestan Jerman, adalah murid Ds. OG. Heldring yang membentuk perhimpunan “Pengijil Tukang” yakni juru injil yang sekaligus memiliki keahlian di bidang pertukangan dan pertanian, pada tahun 1847.

    Selain Ottow dan Geissler, delapan orang utusan di kirim oleh institusi tersebut ke Sangir dan Talaud, sebuah kawasan di bagian utara pulau Sulawesi Utara.

    Mereka itulah missionaris-missionaris handal pada masanya, yang telah sukses menancapkan tonggak Kristenisasi secara permanen di kawasan timur Indonesia, khususnya Papua.

    Di Pulau Mansinam masih terdapat bukti-bukti sejarah mengenai kedatangan kedua misionaris tersebut antara lain Situs Gereja, Rumah, Asrama, Sumur Tua dan beberapa Makam Zending. Di Mansinam juga dibangun Tugu Masuknya Injil di Tanah Papua. Tanggal 5 Februari juga ditetapkan sebagai Hari Pekabaran Injil di Tanah Papua dan selalu diperingati tiap tahun di Mansinam dengan meriah. Sebagai tambahan, penduduk Mansinam saat ini 100% bergama Kristen. Salam kenal untuk Nurhasanah. Syukur dofu, admin.

  28. Untuk “oranghalmahera@yahoo.co.id”, komentar dan saran masukan anda yang pertama dan komentar yg kedua telah saya hilangkan dalam kolom komentar ini, karena sudah terakomodir dalam bentuk “paragraf tambahan” dan “perubahan judul utama dan sub judul” pada artikel ini. (Edisi edit terbaru – di atas). – Admin

  29. Terima kasih atas kunjungannya. Saya mo tanya dulu nih sama Nurhasanah, itu menurut “cerita” yang mana? oleh siapa? Saya saja baru dengar kalo yang membawa Injil ke Papua adalah orang Tidore. Yang perlu dipertanyakan lagi adalah; “Bangsa” Tidore adalah Islam, bagaimana mungkin membawa Injil ke tanah Papua. Bukankah yang menyebarkan agama Kristen ke sana adalah Misionaris-Misionaris Belanda yang datang bersamaan dengan Penguasa-nya…? Tapi tidak apa-apa, saya tertarik untuk menelusuri ini. Kalo ada referensi tentang hal itu silakan sharing dengan saya kapan saja. Ditunggu.

    Ngomong2, Ngon basa Todore waro bolo uwa…?! Fangare kare Toma Jkt, walopun gulu toma kie te Gam, tapi selalu pake basa Ternate se Todore yali. Aa.. me ngom nga turunan ge nga asal tia toma Jailolo trus ia toma Todore, rai ino sari ahu ma linga toma Tarnate ma uci tora ngom ngofa te dano bolo….

  30. SENANG SEKALI MEMBACA SEMUA INI, NTUK MENAMBAH PENGETAHUAN, BISA GA SAYA DAPATKAN SEJARAH TENTANG INJIL MASUK DITANAH PAPUA, KRN MENURUT CERITA YG MEMBAWA INJIL KE PAPUA ADALAH ORG TIDORE? SEJARAH INI SANGAT PENTING NTUK SAYA YG HIDUP DAN BESAR DI PAPUA BARAT, KRN MERUPAKAN SUATU KEBANGGAAN NTUK SAYA YG ASLI TIDORE, MAKASIH SEBELUMNYA

  31. Kita senang dengan adanya blog mengenai Kota Ternate dan sekitarnya tp alangkah baiknya untuk menulis tentang kehidupan penduduk di pesisir Maluku Utara karena begitu banyak budaya yang bisa disampaikan kepada torang2 yang so merantau jauh dan rindu akan kampung halaman…soalnya kita pe kampung di pesisir Halmahera Tengah tepatnya di Kecamatan Patani…..Dari: IchsanJakarta

Tinggalkan Balasan