Mengenal Bahasa Ternate

Oleh : Busranto Abdullatif Doa, S.Pd
(Penutur aktif Bahasa Ternate)

SEJARAH & PERKEMBANGAN

Ternate merupakan salah satu daerah historis di kawasan timur Nusantara yang sejak dahulu telah banyak didatangi berbagai suku bangsa di dunia untuk berdagang rempah-rempah. Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Akibat adanya interaksi dengan bahasa-bahasa lain dari luar Maluku Utara, maka dengan sendirinya bahasa-bahasa tersebut mempengaruhi perkembangan bahasa Ternate, terutama dari bahasa Melayu. Banyak sekali kata-kata dari bahasa Melayu yang masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate, kemudian dianggap sebagai bahasa Ternate. Di daerah ini bahasa Melayu pada masa lampau hanya digunakan oleh kaum urban dan kalangan tertentu selain bahasa asli.

Pada masa pra–Islam, bahasa Ternate masih merupakan bahasa lisan, karena bahasa Ternate itu sendiri tidak mempunyai aksara (huruf). Seiring dengan perkembangan agama Islam di wilayah ini, maka istilah-istilah Bahasa Arab mulai masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate. Aksara Arab–Melayulah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.

Contoh manuskrip kuno (Dokumen kesultanan)

Dahulu setiap penulisan dokumen kerajaan selalu menggunakan tulisan Arab berbahasa Ternate (Semua dokumen kesultanan dalam sejarah Ternate yang ditemukan menggunakan aksara Arab). Saat ini aksara Arab sudah jarang digunakan dalam tiap penulisan dokumen. Aksara Latin kemudian dipakai, bahkan lebih dominan penggunaannya seperti sekarang ini.

Contoh manuskrip kuno (Dokumen kesultanan)

Demikian pula adanya pengaruh beberapa bahasa lokal, seperti Bahasa Jawa juga terlihat dalam perbendaharaan bahasa Ternate, hal ini sebagai akibat dari adanya hubungan persahabatan dan perdagangan yang selama berabad-abad terjalin.


Salah satu contoh pengaruh bahasa Jawa, misalnya kata “Jara” (kuda), dahulu hewan jenis ini tidak ditemukan di Ternate, kuda waktu itu didatangkan oleh pemerintah VOC/Hindia Belanda dari pulau Jawa, sehingga penamaannya mengikuti asal-usul hewan ini didatangkan.

Pengaruh dari Bahasa Bugis (Sulawesi selatan) dan Bahasa Bare’e (Sulawesi tengah) juga terlihat dalam bahasa Ternate. Hal itu erat hubungannya dengan persahabatan yang dijalin antar Ternate dengan wilayah Sulawesi yang dahulu pernah menjadi bagian dari wilayah kesultanan Ternate.

Kehadiran Bahasa Portugis dan Bahasa Spanyol di Ternate bersamaan dengan kedatangan kedua bangsa Eropa ini di Ternate sejak awal abad ke-16 yang rupanya turut memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa Ternate. Kata-kata dari bahasa Portugis yang masih dipakai hingga saat ini, misalnya; kadera (kursi), bandera (bendera), leper (sendok), alfiris (pembawa panji), stampa (mahkota), nama desa Kastela dll.

Bahasa Belanda merupakan bahasa asing yang paling lama dikenal di Ternate, namun hanya kata atau istilah yang bersangkut paut dengan urusan pemerintahan saja yang masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate, hal ini disebabkan karena sikap politik VOC/Hindia-Belanda yang dalam pergaulannya hanya membatasi diri pada kalangan tertentu. Sikap ini menyebabkan bahasa Belanda hanya dipakai dalam lingkungan yang sangat terbatas, yaitu lingkungan para pegawai VOC/Hindia Belanda baik orang belanda asli maupun pegawai dari pribumi (Walanda kotu).

Di Ternate, bahasa Belanda tidak dijadikan sebagai bahasa pergaulan dalam masyarakat sehari-hari pada saat itu. Bahasa Belanda juga digunakan di lingkungan kalangan elite dan bangsawan serta sering dipakai juga di lingkungan istana.

Demikian pula dengan kehadiran bangsa Inggris di Ternate. Meskipun kekuasaannya hanya singkat, namun Bahasa Inggris juga ikut memberi sumbangan kata-katanya ke dalam bahasa Ternate.

Bahasa Cina yang selama berabad-abad menjadi bahasa ekslusif di kalangan masyarakat pedagang Cina di Ternate tidak berpengaruh langsung dalam bahasa sehari-hari karena hanya dipakai di kalangan sendiri. Namun masih ada kata-kata dan beberapa istilah dari bahasa Cina yang masih dipakai oleh orang Ternate hingga saat ini adalah; sebutan “Ko” (Om), “Ci” (Tante), “sentiong” untuk lokasi pekuburan serta bebera istilah lainnya.

Pada masa pedudukan Jepang (Dai Nippon) selama tiga setengah tahun berkuasa, Bahasa Jepang secara insentif disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat oleh tentara Jepang, namun bahasa ini di kalangan masyarakat Ternate tidak populer dan akhirnya lenyap bersamaan dengan berakhirnya masa pendudukan Jepang di tanah air.

Walaupun bahasa Ternate banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Jawa, Bugis, Bare’e dan bahasa-bahasa Eropa selama masa pendudukan mereka di Ternate, baik itu Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris serta bahasa Asia lainnya, seperti bahasa Cina dan Jepang, namun sebagai suatu bahasa tutur yang independen, bahasa Ternate masih tetap memiliki aspek-aspek ke-bahasa-annya tersendiri.

KELOMPOK BAHASA DI TERNATE & HALMAHERA

Berdasarkan laporan hasil penelitian di Maluku Utara yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada tahun 1983, mengungkapkan bahwa bahasa Ternate merupakan bahasa induk dari berbagai bahasa daerah yang ada di Maluku Utara. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Penyebaran bahasa Ternate meliputi wilayah yang sangat luas, bahkan pengaruhnya hingga sampai di pulau Mindanao, kepulauan Sulu dan Sabah di Kalimantan Utara, sepanjang pantai Sulawesi Utara–Tengah–Tenggara, pulau Banggai, kepulauan Sula, pulau Waigeo, pesisir barat dan utara pulau Halmahera serta pulau Morotai dan sekitarnya.

Para ahli linguistic, berpendapat bahwa bahasa Ternate termasuk dalam rumpun bahasa Polinesia. Tetapi ada sebagian peneliti bahasa-bahasa daerah berpendapat bahwa bahasa Ternate juga dapat digolongkan dalam rumpun bahasa Austronesia. Pendapat yang kedua memiliki alasan bahwa banyak terdapat kesamaan dalam segi tata bahasa (pronouncitation dan vocabulary). Di Maluku Utara masih terdapat banyak ragam bahasa daerah dan hingga saat ini masih tetap eksis dan digunakan sebagai bahasa lokal di kawasannya masing-masing.

Selain penggolongan rumpun bahasa tersebut, maka berdasarkan wilayah penyebarannya, bahasa Ternate termasuk dalam kelompok bahasa Ternate–Halmahera. Artinya serumpun dengan berbagai bahasa daerah sekitarnya yang meliputi bahasa Ternate, bahasa Tidore dengan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara.

Bahasa Ternate, bahasa Tidore dan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara ini disebut dengan “Bahasa Kie se Gam”. Adapun bahasa-bahasa daerah yang termasuk ke dalam kelompok ini, adalah :

• Bahasa Ternate
• Bahasa Tidore
• Bahasa Ibu
• Bahasa Waiyoli
• Bahasa Tubaru
• Bahasa Madole
• Bahasa Tobelo
• Bahasa Loloda
• Bahasa Galela
• Bahasa Tololiku, dan
• Bahasa Isam

Di dalam bahasa-bahasa tersebut terdapat banyak sekali persamaan dalam perbendaharaan kata (vocabulary). Perbedaannya sangat tipis, hal ini terutama disebabkan oleh variasi, bentuk tekanan pengucapan dan logat/dialek yang digunakan pada masing-masing tempat.

Lambat-laun perkembangan bahasa Ternate seirama dengan perkembangan kekuasaan kesultanan Ternate, bahasa Ternate terus tumbuh dan berkembang hingga menemukan bentuknya sendiri, bahkan dijadikan sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca) di kawasan Ternate dan Halmahera barat dan utara, kemudian berkembang lebih luas sampai di wilayah-wilayah yang berada di luar kawasan Maluku Utara.

Sebagai contoh kesamaan perbendaharan kata dan perbedaan dalam variasi, bentuk tekanan pengucapan dan logat/dialek yang digunakan antara bahasa-bahasa dalam kelompok bahasa Ternate–Halmahera, adalah :

Lepas dari persoalan masalah apakah bahasa Ternate termasuk rumpun bahasa Polinesia ataupun rumpun bahasa Austronesia namun kenyataannya bahwa selama berabad-abad hingga saat ini bahasa Ternate masih tetap hidup dan eksis sebagai bahasa tutur yang telah berusia ratusan tahun.

Dalam struktur bahasa Ternate terdapat beberapa ke-istimewa-an, yakni adanya “Kelamin Kata” dan “Perasaan Kata” seperti pada bahasa Jawa, yakni : bahasa Jawa Ngoko (bahasa kasar / sehari-hari) dan bahasa Jawa Kromo (bahasa halus / sopan). (lihat uraian BAB II).

Sebagai contoh, untuk menyebut kata “aku” dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang sederajat, kita cukup menggunakan kata “ngori”. Tetapi bila kita berbicara dengan orang yang lebih tua atau dianggap lebih tinggi derajatnya, maka kita harus mengucapkan kata aku dengan menggunakan kata “fangare”, sebagai tanda merendahkan diri.

Apabila kita berbicara dengan orang yang dianggap sederajat, maka kita cukup menyebut kata “engkau” dengan menggunakan kata “ngana”, akan tetapi apabila lawan bicara tersebut lebih tua atau lebih tinggi derajatnya dengan kita, maka kita menyebutnya dengan menggunakan kata “Jou” atau “Jou-ngon”, sebagai tanda peghormatan.

Saat ini, salah satu kebijakan dari pemerintah kota Ternate yang telah memasukkan “Pelajaran Bahasa Ternate” dalam kurikulum sekolah dan mulai diajarkan pada setiap Sekolah Dasar di wilayah kotamadya Ternate patut disyukuri. Langkah seperti ini sudah lama dilakukan di daerah lain, misalnya di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur diajarkan mata pelajaran Bahasa Jawa serta di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten diberikan mata pelajaran Bahasa Sunda.

Minimnya bahan ajaran dan referensi penunjang dari program Pemerintah Kota Ternate ini turut memotivasi penulis untuk menyusun buku “PENGANTAR BAHASA TERNATE” yang sementara ini masih dalam proses dirampungkan.

Perlu ditegaskan oleh penulis di sini kepada para pembaca, bahwa pengertian bahasa Ternate dibedakan atas dua pemahaman, yakni, Pertama; Dialek Ternate dan Kedua; bahasa Ternate itu sendiri.

Pemahaman pengertian pertama mengandung arti bahwa “dialek Ternate” (bahasa Ternate pasar), merupakan gaya bicara dan tekanan suara serta intonasi yang sering dipakai oleh masyarakat di Ternate walaupun dengan menggunakan bahasa Indonesia/Melayu yang kadang dicampur dengan beberapa kata bahasa asli Ternate termasuk beberapa istilah yang cuma ada di Ternate, misalnya ; Ngana (=Kamu), Kita (=Saya/tunggal), Kitorang (=kita orang/jamak), Tarada (=Tidak Ada).

Bahasa orang Ternate dalam pemahaman pengertian yang pertama ini sering mempersingkat sebuah kata, misalnya kata “Pergi”, sering disingkat menjadi “Pigi”, bahkan lebih disingkatkan lagi menjadi “Pi”, contoh lain misalnya “ikut” menjadi “iko”.

Contoh kata misalnya ; “Ngana mo pi iko pa kita ka tarada? (=Kamu mau ikut aku pergi atau tidak?). Pada pemahaman pengertian yang pertama ini, daerah-daerah yang mendapat pengaruh dari dialek ternate seperti dicontohkan di atas adalah; hampir seluruh daerah di Maluku bagian Utara, Manado (Sulawesi Utara), Papua Barat, bahkan sampai ke NTT.

Dalam pemahaman pengertian kedua; yaitu Bahasa Asli Ternate itu sendiri, yang terdiri dari kosa-kata yang hanya ada di dalam bahasa Ternate itu sendiri. Dialeknya tidak jauh berbeda dengan Bahasa Ternate Pasar. Yang membedakan adalah intonasi yang digunakan, misalnya intonasi masyarakat Ternate Selatan agak berbeda dengan yang di Ternate Utara, sedangkan penutur yang berada di pulau Hiri agak berbeda pula. Demiian juga dengan penutur bahasa Ternate di belahan lain di Maluku Utara.

PENUTUR BAHASA TERNATE

Berdasarkan tinjauan geogafis, pemakai bahasa Ternate yang terbanyak terdapat di pulau Ternate, pulau Hiri dan sebagian sebagian pesisir pulau Halmahera yang desanya berhadapan langsung dengan pulau Ternate.

1. Penutur aktif di Pulau Ternate

Mereka adalah seluruh penduduk asli di pulau Ternate, yaitu :

• Kp. Makassar dan sekitarnya (sebagian)
• Soa Sio dan sekitarnya (sebagian)
• Salero (sebagian)
• Kasturian (sebagian)
• Toboleu (sebagian)
• Ake Bo’oca (sebagian)
• Sabia (sebagian)
• Sangaji
• Gam Cim
• Toloko
• Dufa-Dufa
• Tubo
• Facei
• Akehuda
• Tafure
• Tabam
• Sango
• Tarau
• Kulaba
• Akeruru
• Tabanga
• Tobololo
• Sulamadaha
• Takome
• Loto
• Togafo
• Bandinga
• Afe
• Taduma
• Doropedu
• Ruwa
• Monge
• Lemo
• Amo
• Sasa
• Jambula
• Fitu
• Gambesi
• Kastela
• Foramadiahi dan sekitarnya
• Ubo-ubo (sebagian)
• Skep (sebagian)
• Marikurubu (sebagian)
• Torano (sebagian)
• Moya dan sekitarnya (sebagian)
• Buku Bandera (sebagian)
• dsb

2. Penutur aktif di luar Pulau Ternate

Mereka adalah penduduk di kecamatan pulau Hiri dan di daerah pesisir kabupaten Halmahera baratyang posisi desanya berhadapan langsung dengan pulau Ternate (dari selatan di perbatasan Dodinga ke utara hingga di Peot yang berbatasan dengan Loloda). Desa-desa tersebut adalah :

• Faudu
• Mado
• Togolobe
• Durari Isa
• Tomajiko
• Mayau (sebagian bahasa Sangir)
• Tifure (sebagian bahasa Sangir)
• Saria
• Bobo
• Payo
• Idam
• Bobanehena
• Galala
• Guwemaadu
• Gufasa (sebagian bahasa Melayu Pasar)
• Jalan Baru
• Gamlamo Jailolo
• Hatebicara
• Marimbati
• Tuada
• Mutui (sebagian di pesisir)
• Tataleka
• Tauro
• Duwongrotu
• Sidangoli Gam
• Sidangoli Dehe
• Bukubualawa
• Bobaneigo (sebagian bahasa Gorap)
• Pasirputih
• Dodinga
• Akesone
• Akelamo Kao
• Tetewang
• Biamaahi
• Ake Sahu
• Susupu
• Jarakore
• Balu
• Lako
• Sangaji
• Tacim
• Peot
• Taruba
• Sasur
• Tongute Ternate
• Gamici
• Gamlamo Ibu
• Gamkonora (sebagian bahasa Ibu)
• Talaga (sebagian bahasa Ibu)
• Gamsungi
• Tahafo, dan
• Bataka

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA TERNATE

1. Kedudukan

Dalam hubungan dengan kedudukan Bahasa Indonesia, maka Bahasa Ternate sebagai bahasa tutur lisan yang terdapat di wilayah hukum Negara Republik Indonesia berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa daerah adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara, sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36, Bab XV, Undang-Undang Dasar 1945.

2. Fungsi

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, maka Bahasa Ternate berfungsi sebagai :
1) Lambang kebanggaan daerah
2) Lambang identitas daerah
3) Salah satu unsur budaya
4) Alat perhubungan antar individu dalam keluarga & di masyarakat. (komunikasi lisan)
5) Media pesan moral dalam bentuk Sastra Lisan, Pantun Nasihat dan Dolabololo. (http://www.busranto.blogspot.com)

* Tulisan ini merupakan BAB Pendahuluan dari draf buku “PENGANTAR BAHASA TERNATE” yang sedang disusun oleh penulis (80% selesai).

About these ads

33 Tanggapan

  1. kong skarang buku so rilis ka blom?

  2. Injoo.. jo. Salam basudara.

  3. Fangare ne ngofa Galala Jailolo Halmahera barat yang merantau toma Jakarta sado 8 tahun raim.. saat ne to sonyinga ri yaya se ri baba sonyinga ri gam…

    biar to gudu se roro kane tapi pasti akan kodiho….

    sukur dofu dofu jo ka ngon yang gulaha artikel ne..

    ahmad rifandi setia budi(dero ma ngofa-haji budi imam galala ma dano

  4. sado tosone to cinta ngana,sado tosone to sayang ngana.doka ge rinyinga ma daha wange rao kara to kodiho adi. I LOVE TERNATE.NALY AMQ

  5. bagus smua,,, tpi klu bole kse knal smuia bhasa daerah yng ada di maluku utara,

  6. Bisakah saya diberitahukan nama-nama anak perempuan yang biasa dipkai pada zaman kesultanan ternate dulu?
    Terimaksih sebelumnya.

  7. fangare mancia ternate ri rafa toma kasturian,saat ne tugas di Bajarmasin.alumni smp romdidi toma dufa-dufa,SMA rimoi Ternate.Ternate memang harus dilestarikan terus sepanjang masa.salam se jou Ternate.was’salam.

  8. Kalo dah jd bukunya pesan 1 dong…

  9. wOuw,,,,
    TernaTe it’s tHe best…..
    Q aj yg pEndaTang terkAGum” ma Pmndangan ternate,,,,,
    sMoga ternAte d’dPanx maKin b’Jaya N Lebih mNgutmkan Pndidikan !!!!!!!!

    ^_^

  10. kere….n….!

  11. Ilmuan AS telah merekomendasikan Indonesia merupakan suatu benua yg hilang yg memiliki peradaban tinggi pd zaman perunggu dan satu pulau sebagai ibokota yg terdapat gunung api, yg di namakan benua ATLANTIS (Plato-Timaeus and Critias , )bagaimnakah pendapat anda?

  12. Sukur dofu-dofu …..eee..tarima kasih banya, kebetulan ini bisa jadi saya pe referensi tugas.

  13. ino la ngone fo so nyinga himo himo wawiwasu….afa sado nyinga ua kota tarnate deng akang pu tradisi……..saya sebagai anak rantau yang pernah singga di tarnate sangat bangga akan ada yang mau peduli dengan torang di tarnete.TARNATE JANG FOLOI TABEA SALAM FOR KULANO MALOKU KIE RAHA saya pernah di perguruan silat GOHEBA KIE MATUBU.

  14. Salam tabea,,,,
    kepada seluruh orang Maluku Utara pada umumnya dan orang Ternate khususnya,,
    mudah-mudahan dengan zaman yang kian maju ini kita tidak melupakan budaya dari nenek moyang kita,,
    mari jadilah tuan rumah di negeri sendiri,,,
    sudah cukup nenek moyang kita di bombardir oleh bangsa asing (Inggris dan Belanda)..kini sudah saatnya kita bangkit untuk bersatu demi budaya kita yang begitu beragam….

  15. Toma uwa se hang moju toma limau gapi ma tugu jou bolo ngofa ngare. filosofis
    ino foma kati nyinga doka gosora se bulawa om doro foma maku mote doka saya, saya lara komoi
    sebagai orang T3rnate kita harus selalu menjunjung tinggi nilai – nilai dan norma – norma para leluhur kita agar tak pernah hilang sampai akhirul Zaman, Suba jo !

  16. Mantaaaaff… Jaga terus.

  17. Kalo ke maen ke Jkt, mampirlah ke Cibubur sini…!

  18. Ternate itu qta pe kampung yg sngat qta cinta….
    soalnya qta di lahirkan dan di besarkan di sana….
    seklipun sekrang qta kuliah di IPDN tp qt slalu mnggunakan bahasa Ternate, walaupun org2 tara mangarti tapi qta selalu kse ajar pa dorang supaya bisa tau bahasa Ternate……
    I LOVE YOU TERNATE………………….^_^

  19. To : Sri Damayanti
    Begitulah kita sebagai anak negeri tidak lupa kacang akan kulitnya, demikian pula dengan saya, walaupun merantau sejak lulus Smansa Ternate tahun 1988, dan saat ini berdomisili di Jkt sejak 12 tahun lebih namun saya selalu menggunakan bahasa Ternate sebagai bahasa Ibu.
    Kebetulan saya dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang berbahasa Ternate di tepatnya di Dufa-Dufa Pantai Ternate sehingga saya bisa menerangkan mengenai seluk beluk bahasa Ternate sampai sedetil – detilnya.

  20. Waduh… salut skali pa ngana… bisa terangkan mengenai bahasa sampai sedetil-detilnya… sebagai orang keturunan Ternate, saya sangat bangga, ada orang yang begitu perduli pada budayanya..saya sangat berterimaksih,, karena saya jadi lebih banyak mengetahui tentang seluk beluk bahasa Ternate…

  21. Mendukung Pak Busranto dalam penyusunan Bukunya,…lebih baik lagi kalau bukunya nanti lebih luas peredarannya. Ayo jaga warisan pusaka ternate!!….bergabunglah bersama ternate heritage society, mailing list ke : ternateheritage-subscribe@yahoogroups.com.

  22. Saya ingin sekali belajar bahasa Ternate dan Makian. Tolong kasihtau website atau saya diajari via email juga boleh…. Terima kasih banyak buat Admin….!

  23. Saya merasa senang membaca tentang adat istiadat orang Ternate karena saya adalah masih keturunan dari kampung Ibu / saya ke Ternate hanya sekali itupun 10 tahun yang lalu. Karena ayah saya sudah meninggal dan kita sudah lama merantau di tanah Jawa sehingga saya harus cari refrensi tentang Ternate dan adat istiadatnya.

    Terima kasih atas tulisannya yang bagus….

  24. Aku adi…..!
    Kita salut pa ngana, jarang ada yang bagini, kalo bisa kase banya lagi dia pe artikel-artikel.
    (by : Dhupack di Bogor)

  25. Assalamualaikum, wr, wb ….!
    Saya orang ternate yang berdomisili di Garut mengusulkan agar artikel ini dilengkapi lagi, karena sebetulnya, bahasa di maluku utara sangat banyak, di kecamatan Ibu saja terdapat 4 bahasa, yaitu bahasa Ternate, bahasa Gamkonora, bahsa Tobaru dan bahasa Wayoli, belum lagi bahasa di sekitar Halmahera utara dan Halmahera timur & selatan, okey? Thanks you very much!
    Wassaalam, wr, wb …..!

  26. Fajaru ne mancia Togafo (Yuyun Abubakar). suba se salam se Ternate.

  27. Torang harus memperkenalkan Ternate meskipun kota kecil tapi kaya akan sumberdaya alam yang belum dikelolah secara baik dan bertanggung jawab dan torang juga harus tunjukkan bahwa Ternate adalah kota yang luar biasa, karena kita selalu akan rindu deng ingaa kota Ternate.
    Salam kanal, mancia Ternate harus futuru gulaha ngone ana gam se jang. suba jo.

  28. Fajaru Yuyun….,
    Torang harus banyak menceritakan tentang lewat situs2 supaya orang2 juga tahu seperti apa Ternate… Thanks.

  29. Saya mau tanya detail tentang pesta perkawinan adat ternate mulai dari lamaran sampai pestanya.
    Terima Kasih.

  30. Kita salut pa ngana jarang2 yang mo bikin blog tentang daerah apalagi Ternate yang terkenal denga dia pe besi putih, sagu, popeda, dan masih banyak lagi…….
    Salam kenal dari kita IKSAN sapa tau tong baku dapa bisa sering-sering tentang Ternate sorry lama di rantau kurang terlalu paham tentang asal sendiri makanya kita ingin berbagiiiii………..

  31. Jo……..!

  32. Kalo ngon ma buku selesai rai ma, fangare sara fodi romoi.

  33. Wah site yang bagus, nih ternyata masih ada yang peduli dengan kampung halamannya, ditunggu info2 selanjutnya…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: