Mengenal "Bahasa Ternate"

Oleh : Busranto Latif Doa
(Penutur aktif Bahasa Ternate)

SEJARAH & PERKEMBANGAN

Ternate merupakan salah satu daerah historis di kawasan timur Nusantara yang sejak dahulu telah banyak didatangi berbagai suku bangsa di dunia untuk berdagang rempah-rempah. Komunikasi yang dilakukan penduduk Ternate dalam interaksi kontak dagang dengan suku/bangsa lain di tempat ini menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca). Bahasa Melayu adalah satu-satunya bahasa pergaulan antara berbagai daerah di kepulauan Nusantara pada waktu itu. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Akibat adanya interaksi dengan bahasa-bahasa lain dari luar Maluku Utara, maka dengan sendirinya bahasa-bahasa tersebut mempengaruhi perkembangan bahasa Ternate, terutama dari bahasa Melayu. Banyak sekali kata-kata dari bahasa Melayu yang masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate, kemudian dianggap sebagai bahasa Ternate. Di daerah ini bahasa Melayu pada masa lampau hanya digunakan oleh kaum urban dan kalangan tertentu selain bahasa asli.

Pada masa pra–Islam, bahasa Ternate masih merupakan bahasa lisan, karena bahasa Ternate itu sendiri tidak mempunyai aksara (huruf). Seiring dengan perkembangan agama Islam di wilayah ini, maka istilah-istilah Bahasa Arab mulai masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate. Aksara Arab–Melayulah mulai dipakai untuk menuliskan bahasa Ternate (Arab Gundul). Bahkan sampai sekarang masih ada sejumlah kecil masyarakat Ternate (orang tua-tua) masih menggunakannya.

Contoh manuskrip kuno (Dokumen kesultanan)

Dahulu setiap penulisan dokumen kerajaan selalu menggunakan tulisan Arab berbahasa Ternate (Semua dokumen kesultanan dalam sejarah Ternate yang ditemukan menggunakan aksara Arab). Saat ini aksara Arab sudah jarang digunakan dalam tiap penulisan dokumen. Aksara Latin kemudian dipakai, bahkan lebih dominan penggunaannya seperti sekarang ini.

Contoh manuskrip kuno (Dokumen kesultanan)

Demikian pula adanya pengaruh beberapa bahasa lokal, seperti Bahasa Jawa juga terlihat dalam perbendaharaan bahasa Ternate, hal ini sebagai akibat dari adanya hubungan persahabatan dan perdagangan yang selama berabad-abad terjalin.


Salah satu contoh pengaruh bahasa Jawa, misalnya kata “Jara” (kuda), dahulu hewan jenis ini tidak ditemukan di Ternate, kuda waktu itu didatangkan oleh pemerintah VOC/Hindia Belanda dari pulau Jawa, sehingga penamaannya mengikuti asal-usul hewan ini didatangkan.

Pengaruh dari Bahasa Bugis (Sulawesi selatan) dan Bahasa Bare’e (Sulawesi tengah) juga terlihat dalam bahasa Ternate. Hal itu erat hubungannya dengan persahabatan yang dijalin antar Ternate dengan wilayah Sulawesi yang dahulu pernah menjadi bagian dari wilayah kesultanan Ternate.

Kehadiran Bahasa Portugis dan Bahasa Spanyol di Ternate bersamaan dengan kedatangan kedua bangsa Eropa ini di Ternate sejak awal abad ke-16 yang rupanya turut memperkaya khasanah perbendaharaan bahasa Ternate. Kata-kata dari bahasa Portugis yang masih dipakai hingga saat ini, misalnya; kadera (kursi), bandera (bendera), leper (sendok), alfiris (pembawa panji), stampa (mahkota), nama desa Kastela dll.

Bahasa Belanda merupakan bahasa asing yang paling lama dikenal di Ternate, namun hanya kata atau istilah yang bersangkut paut dengan urusan pemerintahan saja yang masuk dalam perbendaharaan bahasa Ternate, hal ini disebabkan karena sikap politik VOC/Hindia-Belanda yang dalam pergaulannya hanya membatasi diri pada kalangan tertentu. Sikap ini menyebabkan bahasa Belanda hanya dipakai dalam lingkungan yang sangat terbatas, yaitu lingkungan para pegawai VOC/Hindia Belanda baik orang belanda asli maupun pegawai dari pribumi (Walanda kotu).

Di Ternate, bahasa Belanda tidak dijadikan sebagai bahasa pergaulan dalam masyarakat sehari-hari pada saat itu. Bahasa Belanda juga digunakan di lingkungan kalangan elite dan bangsawan serta sering dipakai juga di lingkungan istana.

Demikian pula dengan kehadiran bangsa Inggris di Ternate. Meskipun kekuasaannya hanya singkat, namun Bahasa Inggris juga ikut memberi sumbangan kata-katanya ke dalam bahasa Ternate.

Bahasa Cina yang selama berabad-abad menjadi bahasa ekslusif di kalangan masyarakat pedagang Cina di Ternate tidak berpengaruh langsung dalam bahasa sehari-hari karena hanya dipakai di kalangan sendiri. Namun masih ada kata-kata dan beberapa istilah dari bahasa Cina yang masih dipakai oleh orang Ternate hingga saat ini adalah; sebutan “Ko” (Om), “Ci” (Tante), “sentiong” untuk lokasi pekuburan serta bebera istilah lainnya.

Pada masa pedudukan Jepang (Dai Nippon) selama tiga setengah tahun berkuasa, Bahasa Jepang secara insentif disebarluaskan ke seluruh lapisan masyarakat oleh tentara Jepang, namun bahasa ini di kalangan masyarakat Ternate tidak populer dan akhirnya lenyap bersamaan dengan berakhirnya masa pendudukan Jepang di tanah air.

Walaupun bahasa Ternate banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Jawa, Bugis, Bare’e dan bahasa-bahasa Eropa selama masa pendudukan mereka di Ternate, baik itu Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris serta bahasa Asia lainnya, seperti bahasa Cina dan Jepang, namun sebagai suatu bahasa tutur yang independen, bahasa Ternate masih tetap memiliki aspek-aspek ke-bahasa-annya tersendiri.

KELOMPOK BAHASA DI TERNATE & HALMAHERA

Berdasarkan laporan hasil penelitian di Maluku Utara yang dilakukan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta pada tahun 1983, mengungkapkan bahwa bahasa Ternate merupakan bahasa induk dari berbagai bahasa daerah yang ada di Maluku Utara. (C. Apituley Cs, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, 1983)

Penyebaran bahasa Ternate meliputi wilayah yang sangat luas, bahkan pengaruhnya hingga sampai di pulau Mindanao, kepulauan Sulu dan Sabah di Kalimantan Utara, sepanjang pantai Sulawesi Utara–Tengah–Tenggara, pulau Banggai, kepulauan Sula, pulau Waigeo, pesisir barat dan utara pulau Halmahera serta pulau Morotai dan sekitarnya.

Para ahli linguistic, berpendapat bahwa bahasa Ternate termasuk dalam rumpun bahasa Polinesia. Tetapi ada sebagian peneliti bahasa-bahasa daerah berpendapat bahwa bahasa Ternate juga dapat digolongkan dalam rumpun bahasa Austronesia. Pendapat yang kedua memiliki alasan bahwa banyak terdapat kesamaan dalam segi tata bahasa (pronouncitation dan vocabulary). Di Maluku Utara masih terdapat banyak ragam bahasa daerah dan hingga saat ini masih tetap eksis dan digunakan sebagai bahasa lokal di kawasannya masing-masing.

Selain penggolongan rumpun bahasa tersebut, maka berdasarkan wilayah penyebarannya, bahasa Ternate termasuk dalam kelompok bahasa Ternate–Halmahera. Artinya serumpun dengan berbagai bahasa daerah sekitarnya yang meliputi bahasa Ternate, bahasa Tidore dengan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara.

Bahasa Ternate, bahasa Tidore dan bahasa-bahasa lain yang terdapat di Halmahera barat dan utara ini disebut dengan “Bahasa Kie se Gam”. Adapun bahasa-bahasa daerah yang termasuk ke dalam kelompok ini, adalah :

• Bahasa Ternate
• Bahasa Tidore
• Bahasa Ibu
• Bahasa Waiyoli
• Bahasa Tubaru
• Bahasa Madole
• Bahasa Tobelo
• Bahasa Loloda
• Bahasa Galela
• Bahasa Tololiku, dan
• Bahasa Isam

Di dalam bahasa-bahasa tersebut terdapat banyak sekali persamaan dalam perbendaharaan kata (vocabulary). Perbedaannya sangat tipis, hal ini terutama disebabkan oleh variasi, bentuk tekanan pengucapan dan logat/dialek yang digunakan pada masing-masing tempat.

Lambat-laun perkembangan bahasa Ternate seirama dengan perkembangan kekuasaan kesultanan Ternate, bahasa Ternate terus tumbuh dan berkembang hingga menemukan bentuknya sendiri, bahkan dijadikan sebagai bahasa pengantar (Lingua Franca) di kawasan Ternate dan Halmahera barat dan utara, kemudian berkembang lebih luas sampai di wilayah-wilayah yang berada di luar kawasan Maluku Utara.

Sebagai contoh kesamaan perbendaharan kata dan perbedaan dalam variasi, bentuk tekanan pengucapan dan logat/dialek yang digunakan antara bahasa-bahasa dalam kelompok bahasa Ternate–Halmahera, adalah :

Lepas dari persoalan masalah apakah bahasa Ternate termasuk rumpun bahasa Polinesia ataupun rumpun bahasa Austronesia namun kenyataannya bahwa selama berabad-abad hingga saat ini bahasa Ternate masih tetap hidup dan eksis sebagai bahasa tutur yang telah berusia ratusan tahun.

Dalam struktur bahasa Ternate terdapat beberapa ke-istimewa-an, yakni adanya “Kelamin Kata” dan “Perasaan Kata” seperti pada bahasa Jawa, yakni : bahasa Jawa Ngoko (bahasa kasar / sehari-hari) dan bahasa Jawa Kromo (bahasa halus / sopan). (lihat uraian BAB II).

Sebagai contoh, untuk menyebut kata “aku” dalam percakapan sehari-hari dengan orang yang sederajat, kita cukup menggunakan kata “ngori”. Tetapi bila kita berbicara dengan orang yang lebih tua atau dianggap lebih tinggi derajatnya, maka kita harus mengucapkan kata aku dengan menggunakan kata “fangare”, sebagai tanda merendahkan diri.

Apabila kita berbicara dengan orang yang dianggap sederajat, maka kita cukup menyebut kata “engkau” dengan menggunakan kata “ngana”, akan tetapi apabila lawan bicara tersebut lebih tua atau lebih tinggi derajatnya dengan kita, maka kita menyebutnya dengan menggunakan kata “Jou” atau “Jou-ngon”, sebagai tanda peghormatan.

Saat ini, salah satu kebijakan dari pemerintah kota Ternate yang telah memasukkan “Pelajaran Bahasa Ternate” dalam kurikulum sekolah dan mulai akan diajarkan pada setiap Sekolah Dasar di wilayah kotamadya Ternate patut disyukuri. Langkah seperti ini sudah lama dilakukan di daerah lain, misalnya di Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa Timur diajarkan mata pelajaran Bahasa Jawa serta di Propinsi Jawa Barat dan Propinsi Banten diberikan mata pelajaran Bahasa Sunda.

Minimnya bahan ajaran dan referensi penunjang dari program Pemerintah Kota Ternate ini turut memotivasi penulis untuk menyusun buku “PENGANTAR BAHASA TERNATE” yang sementara ini masih dalam proses dirampungkan.

Perlu ditegaskan oleh penulis di sini kepada para pembaca, bahwa pengertian bahasa Ternate dibedakan atas dua pemahaman, yakni, Pertama; Dialek Ternate dan Kedua; bahasa Ternate itu sendiri.

Pemahaman pengertian pertama mengandung arti bahwa “dialek Ternate” (bahasa Ternate pasar), merupakan gaya bicara dan tekanan suara serta intonasi yang sering dipakai oleh masyarakat di Ternate walaupun dengan menggunakan bahasa Indonesia/Melayu yang kadang dicampur dengan beberapa kata bahasa asli Ternate termasuk beberapa istilah yang cuma ada di Ternate, misalnya ; Ngana (=Kamu), Kita (=Saya/tunggal), Kitorang (=kita orang/jamak), Tarada (=Tidak Ada).

Bahasa orang Ternate dalam pemahaman pengertian yang pertama ini sering mempersingkat sebuah kata, misalnya kata “Pergi”, sering disingkat menjadi “Pigi”, bahkan lebih disingkatkan lagi menjadi “Pi”, contoh lain misalnya “ikut” menjadi “iko”.

Contoh kata misalnya ; “Ngana mo pi iko pa kita ka tarada? (=Kamu mau ikut aku pergi atau tidak?). Pada pemahaman pengertian yang pertama ini, daerah-daerah yang mendapat pengaruh dari dialek ternate seperti dicontohkan di atas adalah; hampir seluruh daerah di Maluku bagian Utara, Manado (Sulawesi Utara), Papua Barat, bahkan sampai ke NTT.

Dalam pemahaman pengertian kedua; yaitu Bahasa Asli Ternate itu sendiri, yang terdiri dari kosa-kata yang hanya ada di dalam bahasa Ternate itu sendiri. Dialeknya tidak jauh berbeda dengan Bahasa Ternate Pasar. Yang membedakan adalah intonasi yang digunakan, misalnya intonasi masyarakat Ternate Selatan agak berbeda dengan yang di Ternate Utara, sedangkan penutur yang berada di pulau Hiri agak berbeda pula. Demiian juga dengan penutur bahasa Ternate di belahan lain di Maluku Utara.

PENUTUR BAHASA TERNATE

Berdasarkan tinjauan geogafis, pemakai bahasa Ternate yang terbanyak terdapat di pulau Ternate, pulau Hiri dan sebagian sebagian pesisir pulau Halmahera yang desanya berhadapan langsung dengan pulau Ternate.

1. Penutur aktif di Pulau Ternate

Mereka adalah seluruh penduduk asli di pulau Ternate, yaitu :

• Kp. Makassar dan sekitarnya (sebagian)
• Soa Sio dan sekitarnya (sebagian)
• Salero (sebagian)
• Kasturian (sebagian)
• Toboleu (sebagian)
• Ake Bo’oca (sebagian)
• Sabia (sebagian)
• Sangaji
• Gam Cim
• Toloko
• Dufa-Dufa
• Tubo
• Facei
• Akehuda
• Tafure
• Tabam
• Sango
• Tarau
• Kulaba
• Akeruru
• Tabanga
• Tobololo
• Sulamadaha
• Takome
• Loto
• Togafo
• Bandinga
• Afe
• Taduma
• Doropedu
• Ruwa
• Monge
• Lemo
• Amo
• Sasa
• Jambula
• Fitu
• Gambesi
• Kastela
• Foramadiahi dan sekitarnya
• Ubo-ubo (sebagian)
• Skep (sebagian)
• Marikurubu (sebagian)
• Torano (sebagian)
• Moya dan sekitarnya (sebagian)
• Buku Bandera (sebagian)
• dsb

2. Penutur aktif di luar Pulau Ternate

Mereka adalah penduduk di kecamatan pulau Hiri dan di daerah pesisir kabupaten Halmahera baratyang posisi desanya berhadapan langsung dengan pulau Ternate (dari selatan di perbatasan Dodinga ke utara hingga di Peot yang berbatasan dengan Loloda). Desa-desa tersebut adalah :

• Faudu
• Mado
• Togolobe
• Durari Isa
• Tomajiko
• Mayau (sebagian bahasa Sangir)
• Tifure (sebagian bahasa Sangir)
• Saria
• Bobo
• Payo
• Idam
• Bobanehena
• Galala
• Guwemaadu
• Gufasa (sebagian bahasa Melayu Pasar)
• Jalan Baru
• Gamlamo Jailolo
• Hatebicara
• Marimbati
• Tuada
• Mutui (sebagian di pesisir)
• Tataleka
• Tauro
• Duwongrotu
• Sidangoli Gam
• Sidangoli Dehe
• Bukubualawa
• Bobaneigo (sebagian bahasa Gorap)
• Pasirputih
• Dodinga
• Akesone
• Akelamo Kao
• Tetewang
• Biamaahi
• Ake Sahu
• Susupu
• Jarakore
• Balu
• Lako
• Sangaji
• Tacim
• Peot
• Taruba
• Sasur
• Tongute Ternate
• Gamici
• Gamlamo Ibu
• Gamkonora (sebagian bahasa Ibu)
• Talaga (sebagian bahasa Ibu)
• Gamsungi
• Tahafo, dan
• Bataka

KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA TERNATE

1. Kedudukan

Dalam hubungan dengan kedudukan Bahasa Indonesia, maka Bahasa Ternate sebagai bahasa tutur lisan yang terdapat di wilayah hukum Negara Republik Indonesia berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahwa bahasa daerah adalah salah satu unsur kebudayaan nasional yang dilindungi oleh negara, sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36, Bab XV, Undang-Undang Dasar 1945.

2. Fungsi

Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, maka Bahasa Ternate berfungsi sebagai :
1) Lambang kebanggaan daerah
2) Lambang identitas daerah
3) Salah satu unsur budaya
4) Alat perhubungan antar individu dalam keluarga & di masyarakat. (komunikasi lisan)
5) Media pesan moral dalam bentuk Sastra Lisan, Pantun Nasihat dan Dolabololo. (Narasi : http://www.busranto.blogspot.com)

* Tulisan ini merupakan BAB Pendahuluan dari draf buku “PENGANTAR BAHASA TERNATE” yang sedang disusun oleh penulis (80% selesai).

About these ads

5 Tanggapan

  1. apakah manuskrip di ternate bertuliskan aksara ternate ataukah aksara arab??jika aksara arab apakah bahasanya ternate?kunjungi blog ku ya? hendyyuniarto.blogspot.com

  2. mengenal bahsa ternate…ini yang menarik untuk torang lihat…di kota2 yang laen bhasa daerah selalu termasuk dalam pelajaran di sekolah… bikipa trang di sana tra bikin bagitu… malahan ini berbanding terbalik org p’bhsa di pakai oleh trang “ada sebagian orang yang ketika dong kuliah di luar or mangaku anak gaul biasa pake lw gw” (pake bilang yang pake bhasa daerah adalah orang belakang gunung lagi) luar biasa..

  3. The Best…..

  4. memang, ngoni mantap skali…detil skali…

  5. Semestinya, setiap orang Ternate harus bisa berbahasa Ternate, tapi kenyataannya, banyak orang yang mengaku orang Ternate tapi tidak bisa berbahasa Ternate, terutama yang merantau atau berada di luar Ternate. Hal ini tidak bisa dipungkiri, memang kenyataannya seperti itu….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: